Kategori: Klaten

Inspiratif! Paguyuban di Klaten Ini Dirikan Warung Makan Gratis di Tengah Pandemi


Solopos.com/Ponco Suseno

Solopos.com, KLATEN — Paguyuban Bersinar mendirikan warung makan dengan menu gratis di Perumahan Griyatama Lestari Gemblegan, Kecamatan Kalikotes, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, sejak Sabtu (10/10/2020). Melalui warung makan gratis itu, Paguyuban Bersinar ingin menularkan virus kebaikan di tengah pandemi Covid-19.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Solopos.com, terbentuknya Paguyuban Bersinar bermula dari WhatsApp Gruop (WAG) yang dibentuk kurang lebih satu bulan terakhir. Anggota dari WAG Paguyuban Bersinar berasal dari berbagai latar belakang.

Mereka di antaranya pengusaha, akademisi, pelaku usaha kecil menengah (UKM), dan elemen masyarakat lainnya. Para anggota Paguyuban Bersinar memiliki visi dan misi yang sama, yakni ingin berbuat kebaikan kepada orang lain.

Di tengah pandemi Covid-19, para anggota Paguyuban Bersinar tetap ingin memberi karena hal itu diyakini jauh lebih baik dibandingkan menerima. Memberi di tengah pandemi diyakini juga tak akan merugi karena aktivitas itu mereka anggap disukai Tuhan.

Para anggota Paguyuban Bersinar meyakini barang siapa yang suka menolong, tentu akan ditolong Tuhan. Berpijak dari prinsip itulah, Paguyuban Bersinar mendirikan warung makan gratis di Kalikotes Klaten.

Konsep

Konsep warung makan gratis itu cukup sederhana. Para anggota memberikan dukungan dana, menyiapkan tempat, hingga menyiapkan berbagai fasilitas pendukung lainnya. Hal itu termasuk peracik makanan agar cita rasa makanan tetap enak saat disantap.

Melonjak! Kasus Positif Covid-19 di Sragen Tambah 55 dalam 2 Hari

Setelah berbagai persiapan dinilai sudah matang, warung makan gratis diluncurkan di rumah milik Siti W, di kompleks Perumahan Griyatama Lestari Gemblegan, Kalikotes, Sabtu (10/10/2020) pukul 10.00 WIB.

Ruang garasi disulap menjadi warung makan gratis. Sementara di bagian dalam rumah menjadi dapur umum untuk menaruh logistik dan mengolah bahan makanan.

Senin (12/10/2020), menjadi hari ketiga berdirinya warung makan gratis di Gemblegan, Kalikotes tersebut. Di kesempatan ini, dua juru masak andal, yakni Sami dan Minah bahu-membahu memasak mulai pukul 07.00 WIB.

Keduanya membikin aneka sayuran, di antaranya sayur bening, oseng tahu dan kacang. Sami dan Minah juga menyiapkan nasi, telur asin, teh hangat, dan air putih.

Tak lupa, disiapkan juga buah-buahan dan kerupuk sebagai pelengkap menu. Bertindak selaku orang di balik layar adalah Titik Purwanti, 43. Nama yang disebut belakangan itu lah yang menjadi sosok penting berdirinya warung makan gratis di Kalikotes Klaten.

Gratis Tanpa Syarat

Senin (12/10/2020) pukul 10.00 WIB, siapa pun dipersilakan makan secara gratis di warung makan tersebut selama persediaan masih ada. Dalam tempo kurang lebih dua jam, seluruh makanan dan minuman yang disajikan telah ludes.

Ibu rumah tangga (IRT), anak-anak, karyawan pabrik, petani, serta pengguna jalan dari Gemblegan dan sekitarnya langsung menyerbu warung makan gratis itu.

Pengunjung Pasar Bunder Sragen Sadar Kesehatan: Mending Pakai Masker Daripada Disuruh Pulang

Lantaran pandemi Covid-19 belum berakhir, para pengunjung warung makan gratis diminta tetap menaati protokol kesehatan pencegahan Covid-19. Hal itu seperti wajib mengenakan masker, cuci tangan pakai sabun, dan jaga jarak. Habis menyantap makanan dan minuman, para pengunjung mencuci piring dan gelas sendiri.

"Pandemi Covid-19 ini yang memicu kami [Paguyuban Bersinar] berbuat seperti ini. Yang terdampak di tengah pandemi ini bukan hanya kelas bawah, tapi semua kelas ikut terdampak. Makanya, siapa pun kami persilakan makan gratis di sini," kata Titik Purwanti, saat ditemui Solopos.com, Senin (12/10/2020).

Titik Purwanti mengatakan Paguyuban Bersinar ingin menyebarkan virus kebaikan di tengah pandemi Covid-19. Di tengah kondisi sekarang, Paguyuban Bersinar tidak ingin terjebak untuk menyalahkan satu sama lain.

Paguyuban Bersinar juga tak ingin berharap bantuan yang lebih dari pemerintah atau pun pemangku wilayah. Sebaliknya, berbekal kemampuan yang dimiliki, Paguyuban Bersinar ingin terus bermanfaat kepada orang lain.

"Kami sengaja tak menamai kegiatan ini sedekah. Tapi warung gratis agar orang yang datang ke sini tidak pekewuh. Terus warung ini dibuka pukul 10.00 WIB karena di waktu tersebut banyak orang yang sedang lapar-laparnya," kata Titik Purwanti yang juga dikenal sebagai dosen akuntansi di Universitas Widya Dharma (Unwidha) Klaten tersebut.

Ikhlas

Titik Purwanti mengatakan warung makan gratis yang didirikan di rumah milik ibunya di Kalikotes Klaten itu murni menjadi bentuk kepedulian warga di Klaten terhadap masyarakat lain yang terdampak Covid-19. Warung makan gratis ini tak ada kaitannya dengan kepentingan politik tertentu.

Seluruh aktivitas di warung makan gratis ini ditujukan untuk mengharapkan rahmat dari Tuhan Yang Maha Esa.

"Awalnya, ada yang mengira ini bagian dari kampanye pasangan calon (paslon) tertentu karena saat ini sedang berlangsung tahapan kampanye Pilkada 2020. Ada juga yang mengira, kami sedang menggelar promosi untuk membuka warung makan di waktu berikutnya. Itu semua salah. Kami di sini tak membawa bendera apa pun. Ini juga bukan dalam rangka promosi," katanya.

Titik Purwanti mengatakan keberadaan warung makan gratis langsung tersebar luas di dunia maya. Di luar dugaan, banyak orang yang menghubunginya untuk meniru kegiatan tersebut.

"Sekarang ini sudah banyak yang ingin membuka warung gratis seperti ini. Ada yang dari Pedan, pinggir Jl. Solo-Jogja, sampai ke Purwokerto, dan Jambi. Kepedulian seperti ini memang enggak bisa dilogika. Tapi kami meyakini pasti akan dibantu Tuhan Yang Maha Esa. Sampai sekarang, sudah banyak yang antre mengisi warung makan gratis ini. Rata-rata per hari, bahan makanan yang dihabiskan senilai Rp500.000. Ternyata, saat kebaikan itu disebarkan, banyak yang menerima [ingin meniru]," katanya.

Salah seorang juru masak di warung makan gratis di Gemblegan, Minah, mengaku senang dapat terlibat untuk peduli terhadap kepentingan bersama di tengah pandemi Covid-19. Dalam beberapa hari terakhir ini, dirinya bertugas memasak di bawah pantauan Titik Purwanti.

"Meskipun gratis, rasa makanannya tetap maknyus [biasanya nasi yang dimasak berkisar 5-6 kg per hari. Tingginya antusiasme pengunjung, para juru masak akan menambah jumlah nasi yang dihidangkan ke pengunjung di warung makan gratis Gemblegan]," katanya.

Share
Dipublikasikan oleh
Ginanjar Saputra