Inspiratif, 20 Perempuan Donor Plasma Konvalesen
Erlyn Tusara, 23, meremas bola karet sekitar satu jam untuk menyumbangkan plasma konvalesen pada alat di PMI Kota Solo, Jl. Kolonel Sutarto No. 58, Solo, Selasa (23/2/2021). (Wahyu Prakoso/Solopos)

Solopos.com, SOLO--Tangan kanan Erlyn Tusara, 23, meremas bola karet sekitar satu jam untuk menyumbangkan  komponen darah pada alat di PMI Kota Solo, Jl. Kolonel Sutarto No. 58, Solo, Senin (23/2/2021).

Penyintas Covid-19 tersebut ingin memberikan plasma konvalesen untuk pemulihan pasien yang berjuang melawan Covid-19. Sudah kali kedua itu dia sukarela donor plasma konvalesen.

“Ini untuk membantu pasien Covid-19 yang sedang dirawat,” kata dia yang merupakan salah satu dokter muda UNS.

Baca Juga: Digelar Di Pendopo Pemkab Klaten, Tamu Pelantikan Bupati-Wakil Bupati Dibatasi 70 Orang

Sebelumnya, Erlyn terpapar Covid-19 dengan kondisi orang tanpa gejala (OTG). Dia melakukan isolasi di RSUD dr. Moewardi selama tujuh hari. Begitu sembuh, dia sukarela memberikan antibodi melalui PMI Kota Solo.

PMI Kota Solo telah melakukan pengambilan plasma konvalesen sebanyak 439 dengan jumlah plasma sebanyak 977 kolf. Satu penyintas Covid-19 dapat melakukan donor plasma maksimal tiga kali dengan jarak minimal dua  pekan.

Kasi Pencari dan Pelestari Donor Darah Sukarela PMI Solo, Achmad Reza, menjelaskan sekitar 20 perempuan telah menjadi donor plasma konvalesen di PMI Kota Solo. Jumlah donor plasma konvalesen perempuan sedikit dibandingkan penyintas Covid-19 laki-laki karena persyaratan tambahan.

Baca Juga: Leeds United Sudahi Tren Kekalahan Seusai Tundukkan Southampton 3-0

Kriteria bagi donor plasma perempuan antara lain, berat 60 kilogram, belum pernah hamil, dan tidak boleh dilakukan pada saat datang bulan. Kecenderungan pembuluh atau vena perempuan kecil.

“Untuk donor plasma dengan alat apheresis membutuhkan pembuluh darah besar. Karena prosesnya keluar-masuk [yang diambil plasma saja dan komponen darah lain masuk ke tubuh lagi] sehingga butuh pembuluh darah besar. Kalau enggak besar bisa pecah. Untuk donor biasa keluar saja bisa. Makanya kami lebih selektif,” kata dia.

Menurut dia, alasan perempuan yang pernah hamil tidak dianjurkan karena sejumlah antibodi tertentu ikut bayi sehingga bila produk plasma diberikan kepada pasien berisiko berdampak pada pasien atau penerima plasma, antara lain alergi.



Berita Terkini Lainnya








Kolom