Jumariyanto, bos Regar Sport Indonesia (Istimewa)

Solopos.com, WONOGIRI – Cara bisnis Regar Sport (RS) Indonesia tergolong unik. Usaha jersey yang berlokasi di Kaloran Wonogiri ini justru menolak sumber daya manusia (SDM) matang. Mereka lebih menyukai mendidik SDM.

Pengembangkan bisnis Regar Sport yang diterapkan bos RS, Jumariyanto yakni dengan penguatan enam elemen 6M. Enam elemen itu terdiri atas man (manusia), money (modal), method (metode), market (pasar), machine (mesin), dan material (bahan baku), telah sukses Regar menjadikan usaha rumahan ini beromset miliaran rupiah.

Elemen man atau SDM telah dibahas pada tulisan Cara Cerdik Kelola SDM ala Regar Sport. Demikian halnya dengan elemen money lewat Intip Bisnis Rp0 Ala Regar Sport. Berikut diulas mengenai elemen machin dan, material.

Perjalanan 17 Mesin Printing

Pada elemen machine (mesin), Regar Sport kini memiliki 17 mesin printing yang bekerja 20 jam per hari. Durasi itu setara dengan kinerja 34 mesin per hari.

Sebelum beralih ke mesin printing, RS sempat mengembangkan model sablon manual dalam jersey bikinannya. Jumariyanto menceritakan pengalaman unik soal 17 mesinnya. Dari kesuksesan kinerja mesin pertamanya, Jumariyanto menambah mesin asal Jepang dari vendor yang sama hingga tujuh unit. Hal itu menjadi potensi bagi vendor mesin lain masuk menawarkan produknya.

Saat itu, ada vendor dari Solo menghubunginya dan bermaksud menitipkan sebuah mesin di lini produksi Regar Sport. Vendor itu memberikan satu mesin, kertas, hingga tinta.

Bahkan, ia men-setting sendiri mesin itu sampai siap digunakan. “Pun jenengan habis-habiskan. Kalau rusak saya tanggung,” tiru Jumariyanto.

Mesin itu dipakai selama sebulan. Jumariyanto lalu bertanya kepada bagian produksi bagaimana kinerja mesin itu. Hasilnya positif, anak-anak menyukai mesin vendor asal Solo kendati sama-sama pabrikan Jepang dengan tujuh mesin sebelumnya. 

Sejak itulah, Regar Sport membeli 10 unit mesin printing dari Vendor asal Solo. “Kalau pakai cara penawaran normal, dia [vendor] enggak bisa masuk. Dia sampai rela investasi mesin seharga di atas Rp150 juta buat dijajal Regar Sport,” kenang Jumariyanto.

Nota Menunjukkan Kinerja

Material atau bahan baku menjadi elemen tak bisa diremehkan bagi Regar Sport. Saat merintis produksi, pengadaan material dilakukan secara tunai ke toko kain di Wonogiri.

Namun, berkembang mengikuti tujuh paradigma logistik yakni eceran, harian, mingguan, bulanan, jaminan logistik, likuidasi logistik, dan pabrik logistik.

Saat di level eceran, Regar Sport menerapkan SOP yang ketat. Saban hari, orang di bagian logistik pergi ke toko jam 8.00 pagi. Ia akan menerima perintah pembelian antara jam 9.00-10.00 pagi.

Jika ada perintah, beli. Jika tak ada uang, pulanh dengan tangan hampa. “Tapi ternyata bisa. Kami lalu kumpulkan nota tiga bulan berturut-turut. Kami tunjukkan kepada pemilik toko, bisa enggak kami tawarkan mingguan [pembayarannya],” ujar Jumariyanto.

Kinerja pembayaran mingguan berhasil. Setelah enam bulan, Jumariyanto kembali menemui pemilik toko memperlihatkan kuitansinya. Ia menawar pembayaran naik ke tingkat bulanan.

“Lalu, naik ke tempo dan sekarang ambil dulu, bayar satu bulan. Lalu naik ke jaminan artinya kebutuhan satu bulan ke depan, hari ini sudah ada. Naik lagi ke likuidasi artinya kebutuhan tiga bulan ke depan, hari ini ada di gudang. Kalau itu teratasi, kami bangun pabrik lagi,” kata dia berkelakar.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten

%d blogger menyukai ini: