Tutup Iklan
Zaenal Arifin berpose dengan sepeda anginnya. (Istimewa)

Solopos.com, KLATEN -- Di kampungnya, Desa Glodogan, Kecamatan Klaten Selatan, Klaten, Zaenal Arifin dikenal pekerja keras. Dia rutin berkeliling menjual elpiji dan air minum dalam galon. Zaenal juga seorang penggali kubur.

Bahkan kini, setelah dilantik menjadi Kepala Desa (Kades) Glodogan pun dia masih menjalani pekerjaan lamanya itu. Pria kelahiran 1 April 1968 ini dilantik sebagai Kades Glodogan, Kamis (16/5/2019).

Bersama 267 kades terpilih lainnya, Zaenal Arifin dilantik Bupati Klaten, Sri Mulyani. Pada Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) serentak tahap II 2019, Zaenal Arifin meraup 1.800-an suara.

Perolehan suara itu mengungguli dua calon lainnya, yakni Sutoto yang berstatus petahana dan Wiyono. Bagi Zaenal Arifin, jabatan kades merupakan amanah. Suami dari Maryati ini bertekad menjalankan tugas sebagai kades dengan penuh tanggung jawab dan profesional.

Meski sudah menjabat Kades, Zaenal Airifin masih menekuni pekerjaan lamanya yakni menjual galon berisi air mineral dan penjual tabung gas secara keliling. Zaenal Arifin juga masih melayani permintaan menggali kubur di desanya.

https://img.solopos.com/upload/img/zaenal.jpg" alt="kades glodogan" width="600" height="400" />Kades Glodogan, Klaten, Zaenal Arifin, menata tabung elpiji di rumahnya, Kamis (29/8/2019). (Solopos/Ponco Suseno)

Sebagai orang nomor satu di Pemerintah Desa (Pemdes) Glodogan, Zaenal Arifin harus pandai mengatur waktu dalam menjalankan aktivitas sehari-harinya. Ayah tiga anak ini harus pintar membagi waktu saat menjadi seorang pelayan masyarakat (kades), wirausahawan (penjual galon dan gas keliling), dan sukarelawan (penggali kubur).

Saat hari kerja, Zaenal Arifin mengawali hari menjalankan Salat Subuh. Rampung menjalankan kewajiban itu, Zaenal Arifin pergi ke sawah yang tak jauh dari rumahnya.

Kamis (29/8/2019), Zaenal Arifin menanam tanaman jagung di tanah bengkoknya. Zaenal Arifin memperoleh jatah bengkok seluas lima patok.

Setelah beraktivitas di sawah, Zaenal Arifin pulang terlebih dahulu ke rumahnya di RT 001/RW 005, Kalangan, Glodogan, sebelum pergi ke kantor desa. Jarak rumah Zaenal Arifin dengan kantor desa sekitar 1,5 kilometer.

Selama di kantor desa, Zaenal Arifin mengecek surat-menyurat dan menjalin koordinasi dengan pamong desa lainnya. Sebagai kades periode 2019-2025, Zaenal Arifin ingin membangun kolam renang desa.

Zaenal Arifin sudah menyiapkan lahan seluas 1,5 hektare. Lahan tersebut masih tercatat sebagai tanah kas desa. Diharapkan pada 2020, sudah ada action pembangunan kolam renang itu.

Selain membuat desa lebih rejo, keberadaan kolam renang dewasa dan anak-anak diharapkan dapat meningkatkan pendapatan asli (PA) desa. Selama ini, PA Desa Glodogan senilai Rp71,7 juta.

Rampung menjalankan tugas sebagai kades, Zaenal Arifin kembali ke kediamannya. Zaenal Arifin langsung menanggalkan seragamnya dan berganti kaus oblong berlengan panjang.

Di teras rumahnya, Zaenal Arifin menata kembali tumpukan galon kosong. Zaenal juga mengecek persediaan tabung gas 3 kg tak jauh dari tumpukan galonnya itu.

“Sebelum menjabat kades, saya ini juga pernah menjadi prajurit TNI berpangkat Peltu," ujar Zaenal yang mengajukan pensiun dini sebagai TNI sebelum menjadi Kades.

Sejak 1995, Zaenal mulai menjual minyak tanah keliling. Jual beli minyak tanah itu dia kelola bersama istrinya. Saat pemerintah mengeluarkan kebijakan konversi minyak tanah ke gas, dia pun beralih berjualan gas.

"Setiap hari saya berkeliling hingga radius dua-tiga kilometer dari rumah menjual gas dan galon,” kata Zaenal.

Zaenal Airifin bisa menjual minimal 100 tabung gas dan 200 galon berisi air mineral setiap harinya. “Saya angkut sendiri tabung dan gas itu. Begitu menjadi Kades, banyak yang mengingatkan saya agar tak usung-usung tabung dan gas. Tapi ini sudah menjadi karakter saya. Saya tidak malu dengan pekerjaan ini,” katanya.

Sebelum terpilih sebagai kades, Zaenal Arifin juga menjadi tukang gali kubur di desanya. Pekerjaan itu dilakukan secara sukarela. Hingga saat menjabat kades, Zaenal masih menekuni pekerjaan lamanya itu.

Setiap ada warganya yang meninggal dunia, kerabat atau keluarga dari warga yang meninggal dunia itu pasti mencari Zaenal supaya membantu menggali kubur.

“Di Glodogan itu ada 8.000-an jiwa. Selain kampung [terdiri atas tiga dusun], di sini juga ada perumahan, namanya Perumahan Glodogan. Di perumahan itu ada 2.000-an jiwa. Di perumahan itu tidak memiliki makam sehingga saat ada warga perumahan yang meninggal dunia, pasti mencari saya. Soalnya, saya yang mendata dan menentukan lokasi permakaman. Saya juga menjadi penggali kuburnya,” katanya.

Suharsih
Editor:
Suharsih

Tulis Komentar Anda

Berita Terkait

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten