Inilah Wiro Sangir, Ikat Kepala Khas Sangiran Sragen
Mbah Kasih, 65, warga Desa Krikilan, Kalijambe, Sragen, saat memakai ikat kepala wiro sangir belum lama ini. (Istimewa)

Solopos.com, SRAGEN – Pemerintah Desa (Pemdes) Krikilan, Kecamatan Kalijambe, Sragen, memperkenalkan ikat kepala khas Sangiran yang diberi nama wiro sangir.

Ikat kepala yang bernama wiro sangir itu sempat melegenda karena kerap dipakai oleh warga setempat pada zaman dahulu. Namun, belakangan generasi muda banyak yang tidak mengenal ikat kepala tersebut.

Sekretaris Desa (Sekdes) Krikilan, Aries Rustioko, mengatakan Pokja Pemberdayaan Masyarakat dari Direktorat Pengembangan dan Pemanfaatan Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) bersama Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran mendukung penuh warga setempat mengembangkan potensi desa.

Bakul Klambi di Sukoharjo Terduga Teroris Ditangkap Densus 88, Rumahnya Digeledah 

Salah satu potensi desa itu adalah keberadaan ikat wiro sangir. Menurutnya, keberadaan ikat kepala itu perlu dilestarikan mengingat saat ini hampir tidak ada anak muda yang mau memakai ikat kepala khas Sangiran itu.

“Ikat kepala ini nantinya akan kami launching. Ikat kepala ini akan dipakai oleh warga sekitar, para pelaku pariwisata hingga perangkat desa. Dalam dunia pariwisata, ciri khas suatu daerah merupakan salah satu modal penting untuk mendukung tumbuh kembang pariwisata,” ucap Aries Rustioko kepada Solopos.com, Senin (5/10/2020).

Sejarah

Aries menjelaskan salah satu sesepuh desa yang selalu memakai ikat kepala wiro sangir adalah Mbah Kasio, 65. Bagi Mbah Kasio, kata Aries, ikat kepala itu bukan semata sebagai fashion, tetapi juga sebagai alas saat menyunggi barang di kepala.

Mbah Kasio sendiri sudah biasa memakai ikat kepala itu sejak kecil. Kebiasaan itu diwarisinya dari kakek buyutnya. Dia sengaja memakai kain batik berbentuk persegi sebagai ikat kepala.

Inilah Wujud Ular Bandotan yang Gigit Tangan Warga Sumberlawang Sragen hingga Melepuh & Menghitam

Kain batik itu terlebih dulu harus dilipat secara diagonal sehingga bentuknya menjadi segitiga. Selanjutnya, kain batik itu diikatkan pada kepala dengan cara tertentu sehingga menghasilkan wiro sangir, ikat kepala khas Sangiran.

“Sekarang kami masih memesan ikat kepala batik dengan motif Sangiran. Rencana akan di-launching dalam waktu dekat oleh Pak Kepala Desa dan BPSMP Sangiran,” papar Aries Rustioko.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya




Kolom