Tutup Iklan

Inilah Keajaiban Bau Go, Alat Penghilang Bau Karya Uztaz Djuriono yang Meninggal Saat Khotbah Salat Id di Klaten

Ustaz Djuriono yang meninggal saat mengisi khotbah Salat Id di Kalikotes, Klaten, dikenal sebagai penemu Bau Go, alat penghilang bau busuk.

Inilah Keajaiban Bau Go, Alat Penghilang Bau Karya Uztaz Djuriono yang Meninggal Saat Khotbah Salat Id di Klaten

SOLOPOS.COM - Ustaz Djuriyono, guru SMKN 1 Trucuk Klaten penemu alat penghilang bau busuk. (Solopos.com/Moh Khodiq Duhri)

Solopos.com, KLATEN – Ustaz Djuriono, 57, yang meninggal saat mengisi khotbah seusai Salat Id di Dusun Dalangan, Desa Ngemplak, Kecamatan Kalikotes, Klaten, Jawa Tengah, Kamis (13/5/2021) dikenal sebagai sosok brilian. Dia adalah guru SMKN 1 Trucuk yang menemukan alat penghilang bau tak sedap yang diberi nama Bau Go.

Berkat alat temuan warga Desa Balang Wetan, Kecamatan Klaten Utara itu, kotoran ayam yang berbau busuk bias disulap menjadi pakan bebek tanpa ada bau yang menyengat.

Baca juga: Rumah Sakit Indonesia Remuk Dihantam Rudal Israel

Sosok Djuriono mencuri perhatian publik Klaten karena menemukan alat untuk menetralisasi aroma tidak sedap yang ditimbulkan dari banyak hal seperti bangkai atau kotoran hewan. Alat yang berasal dari fermentasi serbuk gergaji itu diberi nama Bau Go. Alat ini berhasil memenangkan Lomba Krenova yang digelar akhir Juni 2012.

“Sudah banyak mahasiswa yang menjadikan serbuk gergaji sebagai objek penelitian. Akan tetapi, sedikit dari mereka yang mengaplikasikan hasil penelitian itu dalam kehidupan sehari-hari,” kata Djuriono saat diwawancara Solopos.com pada 2012 lalu.

Baca juga: Tubuh Warga Kediri Terbelah Kena Ledakan Petasan Rakitan Sendiri

Djuriono menjadikan rumahnya sebagai laboratorium untuk memproduksi Bau Go. Proses fermentasi, pengemasan, hingga penyimpanan Bau Go dilakukan di rumahnya sendiri. Bau Go sebenarnya sudah beberapa tahun lalu ditemukan Djuriono.

Pascaerupsi Gunung Merapi lalu, Djuriono mengajak siswa SMKN 1 Trucuk Klaten menetralisasi bau tidak sedap yang ditimbulkan bangkai ternak yang mati akibat diterjang awan panas.

“Sebelum ditaburi serbuk itu, aroma bangkai sangat menyengat hidung. Setelah ditaburi, aroma tidak sedap itu berangsur hilang,” kata pria yang pernah meraih juara I pemilihan guru berprestasi kategori SMA/SMK di Klaten pada 2010 lalu ini.

Baca juga: Ustaz Djuriono yang Meninggal Saat Khotbah Idulfitri di Kalikotes Ternyata Guru SMKN Trucuk Klaten

Djuriono masih terus termotivasi mengembangkan ilmu pengetahuan. Dalam jangka dekat, dia akan menggelar observasi penggunaan kotoran ayam sebagai pakan itik. Berdasarkan penelitian mahasiswa S-2 UGM, kotoran ayam sebenarnya mengandung banyak nutrisi. Akan tetapi, aroma tidak sedap membuat kotoran ayam cenderung dianggap sebagai limbah.

“Kalau bau tidak sedap dari kotoran ayam itu bisa dinetralisasi, bukan tidak mungkin kotoran itu dijadikan pakan itik,” terang Djuriono.

Berita Terkait

Berita Terkini

Waduh! Covid-19 Meluas, Tambah 3 Kantor Desa di Polokarto Sukoharjo Lockdown

Seluruh pelayanan masyarakat dihentikan sementara setelah tiga kepala desa (Kades) di Polokarto dinyatakan positif Covid-19.

Berbekal Smartphone Atau Tablet Bisa Jadi Pengusaha Lewat Alfamind 

Alfamart melalui Alfamind menawarkan peluang usaha dengan memanfaatkan teknologi digital bagi masyarakat yang ingin menjadi pengusaha.

24 Klaster Covid-19 Muncul Dalam Sepekan Di Sukoharjo, Mayoritas Keluarga

Sebanyak 24 klaster penularan Covid-19 yang muncul dalam sepekan terakhir di Sukoharjo mayoritas merupakan klaster keluarga.

Vaksinasi Publik 18+ Siap Bergulir Di Solo, 12 Kelurahan Jadi Prioritas

Pemkot Solo segera menggulirkan vaksinasi Covid-19 bagi publik usia 18 tahun ke atas dengan prioritas 12 kelurahan.

Awasi Pergerakan Warga Dari Zona Merah Covid-19, Korlantas Polri Siapkan 143 Pos Pemeriksaan

Korlantas Polri menyiapkan 143 pos pemeriksaan atau check point untuk pengawasan pergerakan warga keluar masuk zona merah risiko Covid-19.