Inilah Gua Petilasan Pangeran Mangkubumi di Sragen, Bisa Muat Warga Satu Kampung!
Penampakan mulut Gua Mangkubumi di Dukuh Gebang Kota, Desa Gebang, Kecamatan Masaran, Sragen, Jumat (25/9/2020). (Solopos.com/Moh. Khodiq Duhri)

Solopos.com, SRAGEN — Salah satu gua yang memiliki cerita bersejarah dan dikaitkan dengan Pangeran Mangkubumi berlokasi di Dukuh Gebang Kota, Desa Gebang, Kecamatan Masaran, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah. Salah satu gua ini relatif mudah dijangkau karena berada tak jauh dari permukiman penduduk.

Gua yang berada di bawah pohon beringin itu diyakini sebagai tempat pertapaan Pangeran Mangkubumi atau Pangeran Sukowati. Perlawanan sang pangeran terhadap pasukan Belanda dikenal dengan peperangan Mangkubumen dalam rentang waktu 1746-1757.

Merasa keberatan dengan langkah Paku Buwono (PB) II yang menjalin kerja sama dengan VOC, Pangeran Mangkubumi memilih keluar dari Keraton Surakarta.

Sempat mendirikan pemerintahan Projo Sukowati di Desa Pandak Karangnongko, Desa Krikilan, Masaran, Pangeran Mangkubumi akhirnya bergerilya ke Gebang dengan alasan keamanan.

Meski Pandemi Belum Usai, Partisipasi Pemilih di Pilkada Klaten Tetap Ditarget Tinggi

Di Gebang, Pangeran Mangkubumi memiliki tempat yang nyaman untuk bersemedi sekaligus bersembunyi dari kejaran pasukan Belanda. Tempat tersebut adalah sebuah gua yang berada di tepi sungai.

Masih Dikunjungi

"Sampai sekarang, gua itu kadang masih dikunjungi oleh orang-orang yang mau bertapa. Kalau sudah di dalam gua, biasanya bisa sampai 2-3 malam tidak keluar," ujar Giman, 60, warga setempat yang tinggal tak jauh dari gua kala berbincang dengan Solopos.com, Jumat (25/9/2020).

Kebanyakan orang yang bertapa di gua tersebut karena ingin hajatnya dikabulkan. Entah mereka ingin naik pangkat atau mengincar jabatan penting. Namun, ada pula yang berniat mencari pusaka.

Pusing, Pria Ini Nekat Bugil Motoran Keliling Kota & Serahkan Diri ke Polisi

"Kalau untuk cari nomor togel, mereka larinya tidak ke sini. Sudah pernah ada yang mencoba, tapi tidak membawa hasil. Orang yang bertapa itu biasa datang dari berbagai daerah di luar kota mulai dari Surabaya hingga Jakarta. Saya sebagai warga sini, malah belum pernah masuk gua itu. Paling hanya melongok di mulut gua. Di dinding gua, saya pernah melihat ada lukisan wayang," ucap Giman.

Pada zaman dahulu, warga sekitar rutin menggelar jembulan atau sedekah desa setiap selesai panen kedua setiap tahun. Sedekah desa itu biasa digelar di pelataran tak jauh dari gua tersebut. Namun, seiring berjalannya waktu, tradisi sedekah desa itu hilang dengan sendirinya.

"Saya tidak tahu kedalaman gua itu, tapi menurut cerita para sesepuh, gua itu pernah jadi tempat persembunyian warga satu kampung saat pasukan Belanda datang. Kalau bisa memuat warga satu kampung, berarti lubang gua itu cukup lebar," papar Tumiyatun, warga setempat.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya




Kolom