Lahan rencana pembangunan konstruksi Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTS) di kawasan TPA Putri Cempo, Mojosongo, Jebres, Solo, Jumat (23/11/2018). (Solopos-NIcolous Irawan)

Solopos.com, SOLO -- PT Solo Citra Metro Plasma Power (SCMPP) selaku Pengelola Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) Putri Cempo, Solo, telah rampung menghitung perkiraan biaya pengolahan limbah sampah (BPLS).

Biaya tersebut nantinya diterapkan setelah kontruksi tahap kedua PLTSa rampung dibangun. “Nilai BLPS diperkirakan senilai Rp400.000 per ton sampah per hari,” terang Direktur Utama PT SCMPP Elan Syuherlan, kepada wartawan, belum lama ini.

BLPS atau tipping fee merupakan biaya yang dikeluarkan pemerintah kepada pengelola sampah. Angkanya dihitung berdasarkan jumlah tonase sampah yang dikelola atau satuan volume (m3).

Biaya tersebut menjadi kompensasi atas jasa pengelolaan sampah di suatu lokasi, namun tidak mencakup biaya pengumpulan, pemungutan, dan pengangkutan oleh pemerintah.

Berdasarkan Peraturan Presiden No. 35/2018 tentang Percepatan Pembangunan Instalasi Pengolah Sampah Menjadi Energi Listrik Berbasis Teknologi Ramah Lingkungan, pemerintah pusat bisa membantu maksimal Rp500.000 per ton.

“Nilai Rp400.000 per ton itu kan tidak lebih dari batasan yang diatur pemerintah,” ucap Elan.

Saat ini, PT SCMPP tengah memburu kesepakatan pendanaan dari China Construction Bank (CCB) setelah manajemen dan Pemkot Solo gagal mencapai kesepakatan dengan calon kreditur utama, yakni PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI/Persero).

Peletakan batu pertama pembangunan konstruksi PLTSa tahap pertama ditargetkan dilakukan bulan ini. Wali Kota Solo, F.X. Hadi Rudyatmo, mengaku tidak mempermasalahkan tawaran pendanaan dari China Contruction Bank (CCB) Indonesia.

“Tidak masalah [kerja sama] dengan CCB, malah lebih murah. Sebenarnya kami ingin PT SMI, tapi soal waktunya itu mereka enggak segera. Pak Luhut [Menko Bidang Kemaritiman] bilang kalau lembaga pendananya sudah ada, ya segera selesaikan saja. Karena itu kami memilih CCB. Nah, bisa jadi PT SMI [menjadi investor] di pembangunan konstruksi tahap II,” kata dia.



Suharsih
Editor:
Suharsih

Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten