Pengendara roda dua dan roda empat melintas di dekat proyek pembangunan drainase dan penataan city walk di perempatan Pasar Pon, Jl. Gatot Subroto, Solo, Rabu (3/7/2019). (Solopos/Nicolous Irawan)

Solopos.com, SOLO -- Lamanya pengerjaan sejumlah proyek fisik di pusat kota Solo dikeluhkan warga dan pengguna jalan karena bikin kemacetan lalu lintas makin parah.

Salah satu pekerjaan fisik yang saat ini sedang berlangsung adalah crossing drainase Jl. Slamet Riyadi sekitar simpang empat Nonongan dan simpang empat Coyudan. Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Solo mengungkapkan ada sejumlah kendala yang dihadapi pekerja proyek tersebut.

Salah satunya adalah saluran air kuno buatan Belanda dengan material berumur ratusan tahun dan sangat tebal sehingga tak bisa ditembus ekskavator. Saluran air di dua titik padat itu baru bisa dikerjakan sebagian yang berimbas pada penutupan separuh jalan.

Sekretaris Dinas PUPR Kota Solo, Arif Nurhadi, mengatakan material penyusun saluran drainase lawas tersebut berupa batu bata merah. “Drainase ini kerasnya luar biasa. Alat berat pakai bracket yang bentuknya kaya sisir itu enggak kuat, malah jebol. Ekskavator juga enggak kuat. Solusinya harus mendatangkan alat semacam check hammer, alat berat tapi ada semacam tongkat panjang untuk menembus saluran. Senin [8/7/2019] malam pelaksana mulai menggunakan alat itu,” kata dia kepada Solopos.com, Senin siang.

Arif mengatakan saluran drainase peninggalan Belanda itu sudah tak bisa menampung limpahan air saat hujan deras terjadi. Kendati materialnya kokoh, lebarnya hanya 1,2 meter.

Akibatnya, air menggenang di sepanjang jalan. Pemerintah Kota (Pemkot) Solo mengganti saluran itu dengan box culvert (beton pracetak gorong-gorong) selebar dua meteran.

“Kalau saluran lama enggak dibongkar, box culvert enggak bisa masuk,” ucap Arif.

Kendala lain yakni keberadaan jaringan utilitas listrik, telepon, dan air. Beberapa waktu lalu, pelaksana proyek tidak sengaja mengeruk kabel listrik di kedalaman 1,4 meter.

Padahal, sesuai ketentuan jaringan tersebut seharusnya berada di kedalaman 1,5 meter. “Untung hanya terkena kulitnya, jadi enggak sampai terjadi korsleting atau menyetrum pekerja. Saat ini sudah diperbaiki PLN,” paparnya.

Dia mengaku selalu berkoordinasi dengan pemilik jaringan utilitas saat akan menggali. Jika terjadi kendala, hal itu tidak terprediksi sebelumnya. Arif menyampaikan perbaikan drainase ditargetkan selesai pada November.

Soal percepatan, ia mengatakan hal itu tergantung pelaksana proyek. “Ya, kalau pengerjaan berlangsung lebih dari November, itu enggak boleh. Tapi kalau lebih cepat, lebih baik,” kata Arif.

Sebelumnya, sejumlah warga mengeluhkan kemacetan di jantung Kota Bengawan sebagai dampak pembangunan, salah satunya saluran drainase di Jl. Slamet Riyadi. Salah seorang warga, Roby Hartono, mengeluhkan lamanya proyek itu.

“Saya yakin, tujuannya baik. Tapi, momen dan teknisnya kurang pas. Ini masa liburan sekolah, volume kendaraan sedang banyak. Proyek jalan bareng, ada MRLL. Tiap kali lewat simpang empat Pasar Pon atau Ngarsopuro, paling pekerja yang kelihatan cuma satu atau dua. Kapan rampungnya? Bahkan, kadang enggak ada orang,” keluh dia, Minggu (7/7/2019).

Suharsih
Editor:
Suharsih

Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten