Kategori: Wonogiri

Ini Loh Fungsi Luweng di Pracimantoro Wonogiri yang Hilang


Solopos.com/Chelin Indra Sushmita

Solopos.com, WONOGIRI – Mulut luweng di beberapa desa Kecamatan Pracimantoro, Wonogiri, Jawa Tengah, hilang. Sampai saat ini proses pencarian terus dilakukan untuk menemukan mulut luweng tersebut.

Nah tahukah Anda apa makna luweng? Yuk cari tahu di sini...

Baca juga: Menguak Misteri Hilangnya Luweng di Pracimantoro Wonogiri Bak Ditelan Bumi

Makna Luweng

Dihimpun dari berbagai sumber, Minggu (14/2/2021), luweng merupakan sumur di dalam gua, khususnya pegunungan berkapur. Dalam ilmu geomorfologi, luweng merupakan bentang lahan di wilayah bukit karst.

Luweng atau dalam bahasa lain disebut sinkhole biasa terbentuk di daerah yang batuan dasarnya berupa batu gamping. Lubang ini terbentuk akibat retakan yang terjadi karena rembesan air. Lubang terbentuk karena batu gamping lebih mudah larut dalam air.

Adanya aliran di bawah tanah itu menyebabkan munculnya rongga batu gamping karena di bagian bawah terjadi erosi oleh aliran sungai. Proses ini berlangsung terus menerus sehingga akhirnya membentuk lubang yang cukup besar di permukaan tanah.

Kedalaman lubang ini pun bervariasi, ada yang mencapai 100 meter. Namun, mulut luweng bisa saja tertutup karena proses erosi dan deposisi yang sering kali tidak disadari.

Baca juga: 5 Hal Ini Bikin Solo Dijuluki Kota Ternyaman di Indonesia, Sepakat?

Fungsi Luweng

Sayangnya, selama ini masih banyak masyarakat yang belum mengetahui fungsi luweng. Luweng berfungsi sebagai penampung air yang terbentuk secara alami, sehingga sangat perlu dilestarikan untuk menanggulangi bencana banjir.

Tetapi akibat ketidaktahuan masyarakat, lubang tadah air ke jalur perut Bumi ini sering kali beralih fungsi sebagai tempat sampah. Alhasil, pihak BPBD Wonogiri begitu giat melakukan patroli luweng, apalagi di musim penghujan.

Jika tempat resapan air alami ini tersumbat, maka wilayah perbukitan yang biasanya aman bisa saja tergenang banjir. Mulut luweng harus bersih dari segala sumbatan seperti sampah, daun dan ranting kering, batu, maupun tanah.

Pada prinsipnya luweng merupakan saluran pembuangan air yang tercipta secara alami. Ketika luweng tersumbat, maka aliran air tertahan sehingga tidak bisa mengalir lancar, bahkan menggenangi kawasan sekitarnya.

Baca juga: Dihadiri Ratusan Tamu, 3 Hajatan Warga di Grogol Sukoharjo Dikukut Satgas Covid-19

Jumlah Luweng

Kepala Pelaksana BPBD Wonogiri Bambang Haryanto mengatakan ada ratusan luweng tersebar di wilayah Wonogiri bagian selatan, yakni di Kecamatan Paranggupito, Pracimantoro, Eromoko, Giriwoyo, dan Giritontro.

Tetapi balakangan mulut luweng yang berada di Desa Joho dan Desa Petisari, Kecamatan Pracimantoro, Wonogiri, hilang. Sesepuh desa setempat mengatakan mulut luweng itu telah hilang sejak puluhan tahun lalu. Oleh sebab itu sampai saat ini pemerintah desa melakukan pencarian mulut luweng untuk mengantisipasi banjir.

Sebagai informasi, Banjir akibat luweng yang tersumbat sempat terjadi di wilayah Giriwoyo, Wonogiri, pada 2017. Hal serupa juga pernah terjadi di puncak perbukitan karst, Pracimantoro. Begitu juga di Paranggupito, Giritontro, dan Eromoko. Semua bencana banjir di perbukitan karst ini terjadi akibat luweng yang tersumbat.

Baca juga: Aneh bin Ajaib! Janda di Cianjur Mendadak Hamil Tanpa Seks & Melahirkan Bayi Perempuan

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Wonogiri, Bambang Haryanto, mengatakan mulut luweng di Pracimantoro kemungkinan tidak hilang. Namun ada beberapa faktor lain yang menyebabkan mulut luweng itu tidak nampak.

Bambang menjelaskan, ada dua kemungkinan yang menyebabkan mulut luweng tidak nampak dan menjadikan tidak berfungsi. Pertama, adanya sedimentasi luweng. Kedua, mulut luweng tertutup sampah.

"Biasanya sampah yang menutupi luweng itu berasal dari sisa hasil pertanian dan sampah dari rumah tangga. Selain itu, juga bisa guguran daun dari pohon di sekitarnya," kata Bambang saat dihubungi Solopos.com, Minggu (14/2/2021).

Share
Dipublikasikan oleh
Chelin Indra Sushmita