Ini Kriteria Rumah yang Aman Untuk Isoman

Ada beberapa kriteria yang harus dipenuh pada sebuah rumah agar aman dipakai isolasi mandiri pasien Covid-19.

 Ilustrasi isolasi mandiri di rumah. (Freepik)

SOLOPOS.COM - Ilustrasi isolasi mandiri di rumah. (Freepik)

Solopos.com, SOLO — Saat ini sulit menemukan RS yang masih bisa menampung pasien Covid-19 tambahan di tengah tingginya lonjakan kasus baru. Sebagian besar pasien Covid-19, terutama yang tanpa gejala dan bergejala ringan, akhirnya melakukan isolasi mandiri (isoman) di rumah.

Namun belakangan, kasus pasien Covid-19 yang meninggal dunia saat isoman di rumah mulai meningkat. Hal ini menimbulkan kekhawatiran tersendiri bagi pasien Covid-19 yang tengah isoman di rumah. Apakah kini isoman di rumah tak lagi aman?

Kusubbid Tracking Satgas Covid-19, dr Kusmedi Priharto SpOT MKes, mengatakan isoman di rumah boleh saja. Namun dengan syarat rumah memenuhi kriteria untuk dijadikan tempat isolasi.

Baca Juga: Rahasia Sukses Kudus Keluar dari Zona Merah dan Turunkan BOR Hingga 15%: Kolaborasi Semua Pihak

“Tidak mudah melakukan isolasi mandiri. Di rumah itu tidak boleh terlalu banyak orang yang ada di sana. Karena kalau tidak melakukan isolasi dengan baik, dia akan menulari semua keluarga di sana,” ujar dr. Kusmedi, Selasa (27/7/2021).

Dalam talkshow bertajuk Penyuluhan Penguatan Peran Desa sebagai Garda Depan Pencegahan & Penanganan COVID-19 yang digelar secara daring pada Selasa, ia menyebut sejumlah kriteria rumah yang aman untuk isoman. Berikut kriterianya:

1. Tidak Berisikan Banyak Orang

Seperti dijelaskan di atas, jika pasien Covid-19 menjalani isoman di rumah yang berisikan banyak anggota keluarga lain, dikhawatirkan justru akan menularkan virus Corona.

“Kadang-kadang orang ingin isolasi mandiri di rumah karena ingin dekat dengan keluarga, tapi isi rumahnya isi 6 atau 8 orang. Padahal orang-orang yang melakukan isolasi mandiri dia harus terisolasi betul,” terangnya.

Baca Juga: Menengok Industri Batik di Kampung Batik Semarang, Lokasinya di Dekat Kota Lama

Tidak ada patokan angka maksimal penghuni rumah untuk isoman karena bergantung luas rumah tersebut. Sepanjang ada ruang yang cukup bagi pasien untuk mengisolasi diri, maka rumah tersebut terbilang aman.

2. Memiliki Kamar Mandi Terpisah

Pasien Covid-19 yang menjalani isoman di rumah tidak boleh berbagi kamar mandi dengan penghuni lain yang sehat. Jika tidak memiliki kamar mandi terpisah dengan penghuni lain, maka sebaiknya menjalani isolasi di tempat isolasi terpusat.

Menurut dr. Kusmedi, kamar mandi terpisah ini penting. Sebab saat mandi pasien Covid-19 akan membuka masker, sehingga dapat meningkatkan peluang penyebaran virus Corona.

“Apabila kita akan melakukan isolasi mandiri di rumah harus ada kamar tersendiri. Yang ada kamar mandi di dalamnya atau di dekatnya. Kenapa itu harus ada, karena kalau mandi orang akan membuka bajunya semua termasuk maskernya sehingga kemungkinan itu akan menyebar di sekitar situ,” tuturnya.

Baca Juga: Ternyata, Ini Akar Masalah RSUD Caruban Tak Mau Rawat Pasien yang Akhirnya Meninggal dan Viral

Apabila tidak ada kamar mandi yang terpisah, anggota keluarga yang ingin menggunakan kamar mandi tersebut wajib menunggu selama 30 menit hingga 1 jam. Kemudian, kamar mandi harus disemprot dan dibersihkan.

“Lalu apa saja kamar isinya, harus ada jendelanya, harus ada ventilasi. Jendela juga harus diperhatikan jangan sampai jendela kita berhadapan dengan jendela tetangga. Ketika dua-duanya dibuka maka virusnya berpindah ke sebelah,” tandasnya.

3. Sinar Matahari Bisa Masuk

Selain itu, Kusmedi menjelaskan kamar yang digunakan untuk isolasi mandiri harus mendapatkan sinar matahari. Dengan begitu pasien Covid-19 bisa tetap berjemur guna mempercepat proses penyembuhan.

“Kemudian alat alat-alat makan harus disendirikan, baju baru disendirikan, sprei bantal semuanya disendirikan, nggak boleh bercampur. Apabila kita habis makan Ada apa gelas piring dan sebagainya, dicuci dulu, rendam pakai sabun selama 3 jam, selesai baru keluarkan biar dicuci oleh keluarga,” katanya.

4. Termometer dan Oksimeter

Lebih lanjut, dr. Kusmedi menjelaskan setidaknya ada 2 alat kesehatan yang harus dimiliki oleh pasien Covid-19 di rumah. Yakni, termometer dan oksimeter untuk mengukur suhu badan dan memantau saturasi oksigen. Apabila hal-hal tadi tidak terpenuhi, maka ia menyarankan agar pasien melakukan isolasi di tempat yang telah disediakan pemerintah.

“Apabila tidak mempunyai tempat untuk isolasi mandiri maka lebih baik melakukan isolasi di tempat pemerintah yang sudah diatur. Untuk pembiayaan tidak ada pembiayaan karena semua pembiayaan ditanggung oleh pemerintah, baik itu di tempat isolasi ataupun di rumah sakit,” pungkasnya.


Berita Terkait

Espos Premium

Berita Terkini

Tertimbun Rumah Roboh di Jakarta Barat, Ibu-Bayi Meninggal Berpelukan

Seorang ibu bernama Ita, 40, dan bayinya yang berusia 4 bulan karena tertimbun reruntuhan rumah hingga meninggal dunia di Jakarta Barat.

10 Berita Terpopuler: Solo Tak Jadi Daerah Istimewa, 2 Teman Berkelahi

Ulasan tentang kenapa Kota Solo tidak menjadi daerah istimewa seperti Yogyakarta menjadi berita terpopuler di Solopos.com, Minggu (24/10/2021) pagi.

Pasukan Siber dan Propaganda di Media Sosial Mengancam Demokrasi

Penelitian kolaboratif tentang pasukan siber dan kerja-kerja mereka ini bertujuan meningkatkan kesadaran dan perdebatan publik mengenai dampak mobilisasi dan aktivitas mereka.

Solopos Hari Ini: Usulan Arus Bawah Versus Elite, Bunuh Teman Sendiri

Harian Solopos Hari Ini, Minggu (24/10/2021), mengangkat headline terkait deklarasi dukungan calon presiden (capres) 2024 dari arus bawah.

Sejarah Hari Ini : 24 Oktober 1929, Kehancuran Wall Street

Beraneka peristiwa yang terjadi pada 29 Oktober dari berbagai penjuru dunia terangkum dalam Sejarah Hari Ini.

Senin, Sukmawati Soekarnoputri Jalani Ritual Pindah Agama Hindu

Sukmawati Soekarnoputri bakal menjalani sejumlah ritual saat upacara Sudhi Wadani atau pindah ke agama Hindu di Kota Singaraja, Bali.

Posisi Berangkulan, Mayat Sejoli di Tasikmalaya Bikin Geger

Penemuan mayat sepasang lelaki dan perempuan atau sejoli di Tasikmalaya menggegerkan warga karena ditemukan dalam kondisi berangkulan.

Aktivitas Gunung Berapi Jadi Pemicu Rentetan Gempa Salatiga-Ambarawa?

Rentetan gempa atau gempa swarm terjadi di wilayah Kota Salatiga-Ambarawa sepanjang Sabtu (23/10/2021).

Aksi Mantan Kapolsek Parigi Terungkap dari Chat Mesra Lewat WA

Aksi mantan Kapolsek Parigi, Iptu IDGN, yang diduga memerkosa anak tersangka kasus pencurian ternak, S, 20, sebanyak dua kali terungkap melalui chat mesra di WhatsApp.

Elektabilitas Ganjar Naik Terus, PDIP Malah Sebut Survei Bukan Patokan

Elektabilitas Ganjar Pranowo kini menyamai Prabowo Subianto menurut survei Litbang Kompas. PDIP menyebut pemimpin bangsa tidak ditentukan oleh survei.

Selain Dipecat, Kapolsek Parigi yang Lakukan Perkosaan Juga Dipidana

Kapolda Sulteng pastingan proses pidana Kapolsek Parigi yang memperkosa anak dari tersangka pencurian ternak jalan terus.

Buruan Daftar! Kemenaker Buka Beasiswa 1000 Talenta Santri

Kemenaker membuka pendaftaran Beasiswa 1000 Talenta Santri bagi santri di seluruh Indonesia dalam bentuk program pelatihan.

Sidik Pinjol yang Bikin Ibu Wonogiri Bunuh Diri, Bareskrim Sita Rp20 M

Bareskrim Polri menyita Rp20 miliar dari Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Solusi Andalan Bersama yang diduga menaungi pinjol ilegal yang membuat ibu di Wonogiri bunuh diri.

Polisi Tangkap Bos Pinjol Pemicu IRT di Wonogiri Gantung Diri

Polisi menangkap bos perusahaan pinjol ilegal yang diduga menyebabkan IRT di Kabupaten Wonogiri, Provinsi Jawa Tengah meninggal gantung diri karena tidak kuat menahan teror pinjol ilegal.

Anggotanya Diduga Perkosa Anak Tersangka, Kapolda Sulteng Minta Maaf

Kapolda Sulawesi Tengah (Sulteng), Irjen Polisi Rudy Sufahriadi, meminta maaf kepada masyarakat buntut kasus Kapolsek Parigi yang memerkosa anak tersangka.

Diduga Perkosa Anak Tersangka, Kapolsek Parigi Dipecat Tidak Hormat

Kapolsek Parigi, Iptu IDGN, yang diduga memerkosa anak tersangka diberhentikan secara tidak hormat setelah menjalani sidang kode etik, Sabtu (23/10/2021).