Seorang pengendara sepeda motor melewati monumen rantau manunggal di Desa Juron, Kecamatan Nguter, Kamis (6/6/2019). (Solopos-Bony Eko W.)

Solopos.com, SUKOHARJO-Lalu lalang kendaraan bermotor di jalan perdesaan di Desa Juron, Kecamatan Nguter tak seperti hari biasa. Banyak dijumpai mobil kelas menengah ke atas yang berseliweran melewati rumah-rumah penduduk. Sesekali terdengar bunyi klakson mobil saat melewati warga setempat yang tengah berkumpul di pinggir jalan. Sopir mobil melambaikan tangan menyapa warga setempat sembari tersenyum.

Tepat di tengah wilayah desa, terdapat monumen berlambang pedagang bakso panggul yang dicat warna keemasan. Di monumen itu ada tulisan rantau manunggal yang dibangun para kaum perantau atau boro pada 2003 silam. Monumen itu diresmikan Bupati Sukoharjo periode 2000-2005, Bambang Riyanto.

Desa Juron dikenal sebagai kampung perantau di Sukoharjo. Separuh lebih warga desa setempat mengadu nasib ke luar daerah untuk mengais rezeki sejak puluhan tahun lalu. Mayoritas merantau ke wilayah Jakarta dan sekitarnya. Namun, tak sedikit warga yang merantau ke luar Jawa seperti Padang, Makasar hingga Jayapura.

Saat Lebaran, ribuan perantau mudik ke kampung halaman. Mereka tiba di Desa Juron secara bergelombang. “Setiap regional memiliki paguyuban perantau Juron. Misalnya, Jakarta ada paguyuban Tree MG, Sulawesi ada KRJ Makasar, Jawa Barat ada Ngudi Kamulyan. Masing-masing paguyuban melebur menjadi satu wadah bernama Perantara Selindo. Jumlah perantau asal Juron lebih dari 2.000 orang,” kata pengurus paguyuban Perantara Selindo, Giyarno Dwi Atmojo, saat berbincang dengan Solopos, Kamis (6/6/2019).

Para perantau tak mungkin melupakan berbagai kenangan selama tinggal di kampung halaman. Mereka menjaga kekompakan dan kebersamaan demi memajukan tanah kelahiran. Saat pulang kampung, mereka kerap menyelenggaran hiburan rakyat saat acara halal bihalal seperti wayang kulit. Dana operasional berasal dari patungan para kaum boro.

Tak hanya itu, mereka tak pelit untuk mengucurkan dana segar demi memajukan tanah kelahiran. Misalnya, mengaspal jalan perdesaan dan membangun masjid. Hal ini wujud kepedulian kaum boro terhadap kampung halaman. “Kami pernah hidup selama bertahun-tahun di Desa Juron. Warga yang membutuhkan uluran tangan pasti dibantu karena mereka dianggap seperti keluarga,” ujar dia.

Biasanya, lanjut Giyarno, para perantau mulai kembali ke tanah perantau pada H+1 hingga H+7 Lebaran. Kala itu, kondisi di Juron kembali sepi. Tak ada lagi lalu lalang mobil pribadi milik para perantau. Namun, mereka bakal kembali pulang kampung jika ada hajatan pernikahan warga setempat.

Dalam waktu dekat, paguyuban perantau bakal membeli satu unit mobil ambulan. Mobil ambulan itu bakal diserahkan kepada Pemerintah Desa Juron untuk melayani warga setempat yang hendak berobat ke rumah sakit. Jarak rumah penduduk di Desa Juron dengan rumah sakit cukup jauh. Warga setempat kerap kebingungan saat anggota keluarganya yang sakit harus berobat ke rumah sakit.

“Ada acara halal bihalal karyawan Es Teler Sari Mulia pada pekan depan. Ini kegiatan rutin yang digelar saat Lebaran,” timpal perantau asal Jakarta yang berbisnis kuliner, Yanti.

Sementara itu, Kepala Desa Juron, Sarbini Sigit Budiyanto, menyatakan ikatan emosional antara kaum boro dengan kampung halaman membuat mereka tak segan-segan merogoh kocek pribadi untuk pengembangan potensi desa. Mereka memberikan kontribusi positif dengan membangun berbagai fasum di desa.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten

%d blogger menyukai ini: