Warga berkerumun melihat sumber api alam di tanah tegalan milik Rebo, 65, di Dukuh Banyurip RT 022, Desa Bonagung, Tanon, Sragen, Senin (19/8/2019). (Solopos-Tri Rahayu)

https://soloraya.solopos.com/read/20190820/494/1013183/sumur-emas-jadi-tumpuan-hidup-warga-desa-dayu-karanganyar" title="Sumur Emas Jadi Tumpuan Hidup Warga Desa Dayu Karanganyar">

Solopos.com, SRAGEN -- Sejumlah dugaan mencuat atas kemunculan api dari dalam tanah di tegalan seluas 4.000 meter persegi di antara kebun jati di Dukuh Banyurip RT 022 Desa Bonagung, Tanon, Sragen, Jawa Tengah, sejak Minggu (18/8/2019) malam.

Ladang tadah hujan yang terletak di perbatasan Desa Bonagung dan Kalikobok tiba-tiba mengeluarkan api yang menjulur ke atas dengan ketinggian 20 cm dari permukaan tanah. Api itu keluar dari lubang menganga dengan diameter 15 cm dengan kedalaman 70 cm. Rongga lubang itu dari permukaan tanah terlihat https://soloraya.solopos.com/read/20190820/494/1013183/sumur-emas-jadi-tumpuan-hidup-warga-desa-dayu-karanganyar" title="Sumur Emas Jadi Tumpuan Hidup Warga Desa Dayu Karanganyar">membara berwarna merah kekuning-kuningan.

Api itu diduga muncul dari gas nitrogen yang berasal dari perut bumi. Sejumlah warga menuturkan sekitar 20 tahun silam pernah dilakukan penelitian dengan melibatkan pihak pemerintah desa setempat tentang adanya kandungan gas alam di sekitar lokasi munculnya api misterius itu.

"Hasil penelitian itu menyebut kandungan gas alam di sekitar perbatasan Bonagung dan Kalikobok ini tak akan habis selama 50 tahun," ujar warga Dukuh Banyurip RT 016, Desa Kalikobok, Tanon, Sragen, Asep Nurdiansyah, 30, saat berbincang dengan solopos.com, Senin (19/8/2019) siang.

Sementara itu, Kasi Cagar Budaya dan Permuseuman Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Sragen Anjarwati Sri Sayekti menduga https://news.solopos.com/read/20190718/496/1006442/fenomena-awan-topi-di-atas-gunung-bahayakan-penerbangan-kenapa" title="Fenomena Awan Topi di Atas Gunung Bahayakan Penerbangan, Kenapa?">api itu muncul karena ada lapisan laut purba yang mengandung gas nitrogen.

Dia mengatakan ketika terjadi gesekan maka akan menimbulkan nyala api. "Itu sisa peninggalan purba pada 3 juta tahun lalu. Kandungan gas nitrogennya cukup banyak di lokasi itu," katanya.

Diberitakan sebelumnya, lokasi ladang tempat keluarnya api dari tanah berada di lembah sedalam 5 meter dari permukaan tanah permukiman dan berjarak 100 meter dari permukiman penduduk. Lokasinya dekat dengan hutan rakyat.

Tempat itu juga berjarak 2 km dari lokasi penemuan batu akik mani gajah yang sempat menggemparkan warga Bonagung pada 2015 lalu. Ladang itu milik Wignyo Dikromo alias Rebo, 65, yang tinggal di Dukuh Banyurip RT 016, Desa Kalikobok, Tanon, Sragen.

Rebo mengetahui adanya gas panas bumi sejak 10 hari terakhir. Ia meraba-raba tanah ladangnya sambil istirahat terasa hangat dan seperti mencium bau seperti bensin. Pada Minggu sore, Rebo duduk-duduk sambil istirahat setelah menggarap ladang yang ditanami kacang tanah itu di bawah pohon mlanding. Saat itulah Rebo melihat seperti https://news.solopos.com/read/20190717/496/1006214/3-fakta-menarik-soal-gerhana-bulan-parsial" title="3 Fakta Menarik Soal Gerhana Bulan Parsial">bara api pada batu yang digunakan untuk menutup lubang sumur dalam yang digalinya dua tahun lalu.

"Batu itu saya buka ternyata sudah panas. Dari dalam lubang itu terlihat ada hawa panas tetapi belum muncul apinya. Lubang itu pada dua tahun lalu saya gali dengan menghabiskan pipa sebanyak 17 batang, masing-masing sepanjang 4 meteran. Setelah itu saya pulang memberitahu keluarga dan adik saya serta warga," kisah Rebo saat ditemui solopos.com, Senin siang.

Rebo berkisah habis Magrib adiknya membawa cangkul dan mengeruk tanah di sekitar lubang. Pada saat itulah, ujar dia, api mulai menyembur ke atas. 

Tulis Komentar Anda

Berita Terkait

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten