Atlet asal Indonesia, Dewa Radika Sya (kanan), mendapat ucapan selamat dari rekannya seusai menjuarai lari 1.500 meter putra pada ajang ASEAN School Games di Semarang, Kamis (19/7/2019). (Semarangpos.com-Imam Yuda S.)

Solopos.com, SEMARANG — Persiapan Dewa Radika Sya menghadapi ASEAN School Games XI tak berjalan mulus. Siswa SMAN Olahraga (Smanor) Sidoarjo itu sempat mengalami cedera hamsting yang didapat saat menjalani latihan untuk menghadapi event yang digelar di Kota Semarang, 17-25 Juli 2019. itu.

Bahkan cedera itu membuatnya harus absen selama tiga bulan dan tidak bisa mengikuti berbagai kejuaraan nasional, seperti Jatim Open. Kendati demikian, kondisi itu tak membuatnya putus asa.

Dewa tetap berlatih hingga mampu membuktikan dirinya sebagai salah satu atlet potensial Indonesia di masa depan. Ia bahkan mampu menyumbang emas perdana bagi Indonesia pada ASEAN School Games.

Pria kelahiran Malang, 18 Januari 2001 itu meraih medali emas dari cabang olahraga (cabor) atletik setelah memenangi nomor lari 400 meter putra di Stadion Tri Lomba Juang, Jumat (19/7/2019).

“Puas, senang bisa menyumbang medali emas. Tadinya enggak menyangka. Soalnya, saya pikir susah tadi. Tapi, ternyata bisa,” ujar Dewa seusai melewati garis finis.

Perjuangan Dewa meraih emas memang tidaklah mudah. Hingga detik-detik terakhir, ia harus bersaing ketat dengan atlet asal Malaysia, Thilagan Loganes.

Atlet Indonesia, Dewa Radika Sya. (Semarangpos.com-Imam Yuda S.)

Bahkan beberapa meter sebelum garis finish, Dewa sempat tertinggal dari rival terdekatnya itu. Namun di garis finish, Dewa mampu menyalip atlet asal Malaysia dan memastikan gelar juara dari nomor lari 400 meter putra.

Dewa tampil sebagai juara dengan catatan waktu 48,38 detik atau unggul 0,10 detik dari atlet asal Malaysia yang meraih posisi runner up. Sementara, juara ketiga direbut atlet asal Thailand, Supakit Janmao, dengan catatan waktu 48,86 detik.

Catatan waktu Dewa itu memang belum mampu memecahkan rekor ASEAN School Games yang masih dipegang atlet asal Thailand, Phitchaya Sunthonthuam, mencatatkan waktu 46,87 detik pada ajang serupa di Thailand 2017 lalu.

Meski demikian, Dewa tetap bersyukur karena catatan waktu itu mampu melewati limit untuk tampil di Pekan Olahraga Nasional (PON) 2020 Papua, yakni 49 detik.

Selain itu, dengan catatan waktu tersebut ia tetap bisa meraih emas pertamanya di ASEAN School Games, setelah tahun lalu hanya berhasil mendapat perunggu.

“Senang. Apalagi ini emas pertama bagi cabang atletik. Emas ini saya persembahkan untuk ayah saya yang sudah meninggal. Semoga dia bangga,” ujar putra pasangan almarhum Herwanto dan Tri Astuti itu.

Sementara itu, Chief de Mission Kontingen Indonesia, Yayan Rubaeni, mengatakan Dewa menjadi penyumbang emas pertama bagi Indonesia. Ia meraih emas lebih cepat dari pada Adelia yang tampil di cabor renang nomor 50 meter gaya dada putri.

"Iya, atletik duluan yang meraih emas. Waktunya sih hampir bersamaan, tapi atletik dulu baru renang," ujar Yayan saat dihubungi Solopos.com, Jumat petang. 

Yayan menambahkan Indonesia sementara mengumpulkan 6 emas pada ASG 2019. Enam emas itu tiga di antaranya dari atletik dan tiga lainnya dari renang.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten