Tutup Iklan -->
Ini Catatan Sejarah Kantor Denhubrem 073 Salatiga
Gedung kubah kembar yang dulunya milik seorang kepala perkebun kopi kini menjadi Kantor Denhubrem 073 Salatiga. (Semarangpos.com-kebudayaan.kemdikbud.go.id)

Solopos.com, SEMARANG — Warga Salatiga tentu tak asing dengan Kantor Detasemen Perhubungan Korem 073 Makutarama di Jl. Diponegoro 86, Kecamatan Sidorejo, Kota Salatiga, Jawa Tengah yang tampil antik. Kantor Denhubrem Salatiga itu memang tergolong situs benda cagar budaya bernilai sejarah.

Namun siapa sangka, sebelum menjadi pusat kegiatan militer pada saat ini, kantor Denhubrem itu dulunya merupakan tempat tinggal juragan perkebunan kopi. Jika diperhatikan lebih detail, bangunan ini memiliki bentuk atap yang sama di bagian kanan dan kiri.

Ciri itulah yang membuat kebanyakan warga Salatiga menyebutnya dengan gedung kubah kembar. Berdasarkan penelusuran Semarangpos.com, Selasa (12/5/2020), Kantor Denhubrem bukan sekadar pusat aktivitas militer, gedung itu juga menjadi saksi bisu sejarah Kota Salatiga sejak masa kolonial.

Di Rumah Angker Jogja, Sara Wijayanto Melihat Banyak Hantu

Sistem registrasi cagar budaya nasional cagarbudaya.kemdikbud.go.id mencatat markas atau Kantor Denhubrem 073 sebagai bangunan cagar budaya sejak 23 Oktober 2014. Namun, hingga kini, status objek sejarah itu masih dalam tahap verifikasi dinas di daerah.

Sebelum memasuki Denhubrem, terlebih dahulu harus melewati halaman yang cukup luas. Dua sisi atap pada bagian kanan dan kiri yang terlihat kembar merupakan ciri khas gaya barrock dan art nouvau.

Seperti dilansir pengelola laman kebudayaan.kemdikbud.go.id gaya itu menjadi ciri khas pertengahan abad XIX di Eropa. Total hanya ada dua bangunan yang menggunakan gaya serupa di Kota Salatiga.

Pabrik Sarung Goyor di Tegal Tak Loyo saat Covid-19

Artikel penelitian yang diunggah di repository.uksw.edu menyebutkan semula bangunan itu merupakan rumah milik seorang kepala perkebunan kopi yang kala itu banyak tersebar di sekitar Salatiga. Rumah dengan kubah kembar yang mengapit teras membuat pemiliknya bisa menikmati pemandangan dengan lebih leluasa.

Ditempati Kepala Sekolah

Setelah pemilik rumah meninggal, rumah itu diserahkan kepada Tuan Bar, seorang kepala sekolah Normal Kweekschool (sekolah guru) yang berada di Jl. Kartini Salatiga. Namun, sekitar tahun 1988, seorang keluarga pemilik rumah bernama Eddy van der Wall pernah datang ke Salatiga untuk melihat bekas rumah milik orang tuanya.

Tuan Bar meninggalkan rumah itu sekitar 1946 atau pada masa pendudukan Jepang. Pada tahun yang sama, bangunan sempat direnovasi, terutama pada kedua kubah yang sempat bocor.

Warung Tahu Gimbal Pak Edy Satu-Satu di Semarang

Denhubrem 073 tercatat mulai memanfaatkan bangunan itu setelah perbaikan selesai. Sebelumnya, bangunan itu juga pernah dimanfaatkan sebagai asrama militer Belanda pada masa perang Diponegoro antara tahun 1825-1830.

Penelitian yang dilakukan UKSW juga menyebutkan terdapat sebuah jalan tembus di antara gedung kubah kembar dengan Rumah Dinas Komandan Korem yang terletak berseberangan. Jalan tembus ini diperkirakan merupakan lorong rahasia yang dipergunakan oleh pemilik gedung kubah kembar itu dengan pemilik rumah Danrem 073 waktu itu.

Kedua penghuni rumah bersebelahan itu diperkirakan saling berkunjung dan memanfaatkan lorong tersebut. Keduanya sama-sama bekerja sebagai eksportir hasil-hasil perkebunan.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya






Kolom

Langganan Konten

Pasang Baliho