Petugas melakukan pemantauan dan analisa gempa di kantor Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta, Jl Cendana, Jogja, Selasa (6/6/2017). (Harian Jogja-Desi Suryanto)

Solopos.com, JAKARTA -- Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah mengklarifikasi isu prediksi tsunami 57 meter sebenarnya hanya simulasi atau hasil pemodelan. Merebaknya keresahan tersebut berawal dari informasi dari hasil seminar yang digelar oleh BMKG pada Selasa (3/4/2018).

Seminar dalam rangka memperingati Hari Meteorologi Dunia ke-68 itu mengusung tema Sumber-Sumber Gempabumi dan Tsunami di Jawa Bagian Barat. Dalam informasi yang dirilis situs resmi BMKG, Rabu (4/4/2018), Kepala Puslitbang BMKG Urip Haryoko menyebutkan seminar ini membagikan hasil penelitian terkait potensi gempa dan tsunami di Jawa Bagian Barat.

Ada beberapa hasil penelitian yang disampaikan sejumlah ahli. Dr. Dany Hilman Natawidjaja (Geotek-LIPI) menyampaikan makalah berjudul Evaluasi Jalur Sesar Aktif dan Zona Subduksi di Wilayah Jawa Bagian Barat Untuk Mitigasi Bencana Gempa dan Tsunami. Dr. Widjo Kongko (BPPT) menyampaikan Potensi Tsunami di Jawa Bagian Barat, Dr. Irwan Meilano (ITB) menyampaikan Deformasi Terkini di Pulau Jawa dan Implikasinya Terhadap Potensi Bahaya Gempabumi, dan Dr. Iman Suardi (STMKG-BMKG) yang menyampaikan Proses Sumber Gempa Bumi Tasikmalaya 2 September 2009.

Seminar ini menghasilkan sejumlah rekomendasi. Di antaranya adalah perlunya identifikasi jalur-jalur sesar dan penelitian parameter gempa sesar aktif khususnya laju geser dan data paleoseismologi yang belum diteliti. Selain itu, diperlukan pemetaan jalur-jalur sesar aktif untuk wilayah yang memiliki bangunan-bangunan besar atau instalasi vital.

Seminar ini juga menekankan tindak lanjut penanganan ancaman bahaya terburuk dari sesar yang melintasi Jawa dari timur hingga barat. "Keberadaan zona sesar Baribis - Kendeng yang lewat Surabaya - Semarang - Cirebon dan mungkin Jakarta, sebagai pusat ekonomi dan pemerintahan, ancaman bahaya sekecil apapun perlu ditindak lanjuti secara serius apalagi ancaman besar, perlu ada Extreme Measure atau Worst Case Scenario," sebut dalam rilis itu.

Seminar ini juga mengungkapkan perkiraan adanya interplate coupling di Selat Sunda dan Palung Jawa yang mencapai 50-80 persen. Hal ini menimbulkan potensi bahaya gempa di selatan Jawa bagian barat sehingga diperlukan usaha pengurangan risiko.

Rabu lalu, Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Unggul Priyanto dengan tegas mengatakan bahwa isu potensi tsunami di pulau Jawa bagian Barat adalah sebuah kajian pemodelan secara ilmiah. "Datangnya bisa saja masih lama, bisa saja juga tidak terjadi. Masyarakat tidak perlu galau dengan pemberitaan yang tidak lengkap atau sensasional," katanya di Jakarta.

Potensi tsunami di Jawa bagian Barat yang dimaksud adalah hasil kajian akademis awal dari simulasi model komputer, menggunakan sumber tsunami dari gempa bumi di tiga titik potensi gempa bumi megathrust, Enggano, Selat Sunda, dan Jawa Barat bagian Selatan.

Skenario terburuknya itu (total ada enam skenario), jika gempa terjadi secara bersamaan di tiga titik potensi gempa, dan dengan skala tertinggi, 9 skala richter (SR). Skenario ini apabila dibuat simulasi permodelan, maka akan menimbulkan tsunami yang dahsyat.

"Tapi perlu ditekankan bahwa ini adalah pemodelan yang ditujukan guna mencari solusi langkah mitigasi andai bencana terjadi," kata Unggul.

Hasil simulasi model komputer dari skenario terburuk ini mengindikasikan ketinggian tsunami di wilayah pantai Utara Jawa bagian Barat maksimum mencapai 25 m, dan di wilayah pantai barat-selatan maksimum hingga 50 m.

Namun, ia menegaskan bahwa ini baru sebuah pembicaraan atau permodelan, dan menggunakan data batimetri sekunder dan bukan data primer. Hal tersebut masih harus didalami lebih lanjut, jadi belum bisa dijustifikasi pasti akan terjadi seperti itu.

Terkait dengan hasil kajian awal potensi tsunami di Jawa bagian Barat yang telah disampaikan di atas, maka perlu dilakukan tindak lanjut berupa kajian dengan menggunakan data yang lebih akurat. Meskipun ini adalah hasil kajian awal, tetapi telah mengindikasikan adanya potensi ancaman tsunami yang besar di sepanjang pantai Jawa Bagian Barat.

"Bagi masyarakat sendiri, yang terpenting jangan cepat panik karena seperti yang disampaikan sebelumnya ini masih potensi, belum tentu kapan terjadinya kita tidak mengetahuinya, bisa saja terjadi bertahun-tahun lagi, bahkan mungkin juga seribu tahun, tidak ada yang tahu pasti masalah gempa, termasuk juga skalanya, bisa besar sekali, bisa juga tidak terjadi seperti itu," lanjut dia.

Ia lalu membandingkan bencana yang pernah dialami Jepang, yang diklaim sebagai negara yang paling siap menghadapi gempa. Berkaca kepada tsunami yang terjadi di Jepang, mereka juga kecolongan.

Jepang menunggu gempa terjadi di sekitar Tokyo, lalu setelah itu gempa di Sendai. Tapi yang terjadi justru gempa Tokyo itu tidak datang. Malah, gempa justru terjadi di Sendai.

"Jepang itu paling siap dengan gempa, mereka bikin dinding hingga lebih 8 meter, namun tsunami yang terjadi sampai bisa 15 meter, dengan demikian terlampaui dinding yang berada di sepanjang pantai Sendai. Ini merupakan salah satu contoh, bahwa gempa paling sulit sekali diprediksi kapan terjadinya dan berapa besar skalanya," lanjutnya. (Antara)


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten