Mobil Esemka Bima (Solopos-Nadia Lutfiana Mawarni)

Solopos.com, BOYOLALI -- Induk Koperasi Angkatan Udara (Inkopau) menyiapkan dana sebesar Rp3,3 miliar untuk membeli mobil pikap Esemka tipe Bima 1.3L sebanyak 35 unit. Jajaran TNI AU berencana memakai mobil tipe ini untuk kendaraan operasional di seluruh skadron di Indonesia.

Bima 1.3L akan dioperasikan sebagai kendaraan pengangkut logistik di landasan udara. Spesifikasi mobil ini dinilai cocok untuk kebutuhan pengangkutan logistik TNI AU.

Penandatanganan perjanjian kerja sama dilakukan oleh Ketua Umum Inkopau Marsekal Pertama TNI Nailul Humam dan perwakilan direksi bidang pemasaran PT Solo Manufaktur Kreasi (PT Esemka), Regina, di pabrik perakitan mobil Esemka, Desa Demangan, Kecamatan Sambi, Boyolali, Selasa (24/9/2019).

Turut hadir dalam acara tersebut Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) Marsekal TNI Yuyu Sutisna dan Komisaris PT Esemka Derry Wihardja. Sebelum penandatanganan, Yuyu Sutisna sempat melakukan uji coba untuk mobil tipe Bima 1.3L dan Garuda yang merupakan jenis city car.

Ditemui wartawan seusai proses penandatanganan, Yuyu Sutisna menjelaskan TNI AU menggelontorkan dana senilai Rp95 juta untuk membeli satu unit mobil Esemka Bima 1.3L lewat Inkopau. Maka jika diakumulasikan pembelian mobil Esemka ini menghabiskan dana lebih dari Rp3,3 miliar.

Namun demikian, Yuyu menegaskan dana pembelian mobil Esemka BIma tidak bersumber dari anggaran rutin yang masuk dalam Rencana Kerja dan Anggaran-Kementerian dan Lembaga (RKA-KL).

“Ini dibiayai oleh koperasi angkatan udara yang berkontribusi terhadap bantuan kendaraan dinas, sekian tahun terkumpul uang kemudian diwujudkan dalam membantu keperluan dinas,” ungkap Yuyu.

Yuyu menambahkan mobil-mobil itu akan didistribusikan ke 21 skadron udara tempur, angkut, maupun helikopter. Termasuk skadron pendidikan yang juga mengoperasikan pesawat dan Akademi Angkatan Udara (AAU).

Ada sejumlah alasan yang melatarbelakangi pemilihan mobil Esemka sebagai kendaraan operasional TNI AU. Yuyu menyebut alasan ekonomis menjadi alasan utama pemilihan mobil pikap Esemka Bima ini.

“Kalau merek asing atau yang sudah terkenal harganya bisa Rp130 juta sehingga dengan uang yang sama hanya mendapat 25 unit saja, sementara kalau Esemka bisa mendapat 35 unit,” ujarnya.

Pemerintah juga menjamin ketersediaan suku cadang dan TNI AU ingin menyukseskan industri otomotif dengan produk-produk buatan dalam negeri.

“Kalau ada yang dalam negeri kenapa harus pilih yang dari luar,” imbuh Yuyu.

Sementara itu, Komisaris PT Esemka Derry Wihardja menyebutkan saat ini produk-produk Esemka tengah mengikuti ekshibisi (pameran) Teknologi Tepat Guna Nasional di Bengkulu.

“Sudah ada pesanan dari Provinsi Bengkulu dan kabupaten di sekitarnya,” imbuh Derry. Ditanya soal jumlah yang telah laku dan untuk keperluan masyarakat umum, Derry enggan menjawab. Dia hanya menyebut masih ada tim yang fokus pada pameran.

 


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten