Ilustrasi siswa PAUD. (Dok)

Solopos.com, SOLO — Beberapa orang tua di Solo memilih lembaga pendidikan anak usia dini (PAUD) yang lebih memprioritaskan pelajaran membaca, menulis, dan berhitung (calistung). Mereka berharap anak mereka tak kesulitan saat duduk di sekolah dasar (SD).

Warga Karangasem, Laweyan, Solo, Deswita Luksa, 32, memilih menyekolahkan anak keduanya di PAUD yang mengajarkan calistung. “Saya memang mendidik anak saya sejak umur tiga tahun untuk mengenal angka dan tulisan. Di sekolah anak saya diajarkan pembelajaran calistung secara dasar,” ujarnya saat ditemui Solopos.com di halaman Taman Kanak–Kanak (TK) Alam Surya Mentari, Selasa (19/2/2019).

Deswita menggunakan metode yang digunakan Glenn Doman yakni belajar dengan bermain guna menstimulasi otak. Tujuannya otak berkembang dengan lebih lebih baik. ” Di toko mainan anak terdapat banyak contoh kartu abjad dan angka dengan berbagai warna. Saya sering membelikan anak saya kartu tersebut. Sejak anak saya masuk usia PAUD, dia sudah mengerti abjad dan angka 1-30,” ujar dia.

Menurut dia, semua anak terlahir dengan kecerdasan linguistik. Mereka terlahir tanpa mengerti bahasa apa pun, tapi mereka bisa belajar, mengerti, dan meniru orang sekitarnya. “ Dengan metode yang saya gunakan anak bisa jelas mengetahui apa yang sedang saya ajarkan. Anak usia dini daya ingin tahunya mengenai sesuatu sangat tinggi. Oleh karena itu peran sekolah PAUD dan orang tua sangat dibutuhkan,” ujar dia.

Hal senada disampaikan warga Kerten, Ayumi Tyas, 29. Menurut dia, pembelajaran calistung perlu diberikan pada anak bawah usia tujuh tahun. “Pembelajaran calistung tak melulu serius. Pembelajaran calistung bisa diajarkan dengan cara bermain.  Saya mengajarkan calistung ke anak saya sejak dini untuk lebih melatih otak dan mental. Saya tidak mau anak saya kaget jika sudah memasuki usia SD [sekolah dasar],” ujarnya saat ditemui Solopos.com di Solo Paragon Mall.

Ia menyukai proses mendaftar di SD yang menggunakan sistem calistung untuk proses seleksi ketimbang sistem zonasi. “Waktu saya mendaftarkan anak saya ke jenjang SD yang menggunakan sistem calistung pada seleksinya. Kalau seleksi masuk SD menggunakan calistung, guru dapat melihat kemampuan anak. Jika menggunakan sistem zonasi dalam pendaftaran sekolah, siswa tidak bisa berlomba–lomba untuk mendapatkan sekolah favorit,” ujar dia.

Ayumi bangga saat menerima rapor semester I. Beberapa siswa di salah satu SD swasta di Solo tempat anaknya belajar belum bisa mengikuti pembelajaran calistung.

“Sewaktu menerima rapor beberapa bulan lalu saya bangga. Pembelajaran yang saya ajarkan ke anak dapat diterima. Rupanya beberapa siswa kelas I ada yang belum paham calistung. Beberapa guru kelas I mengaku kewalahan,” ujar dia.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten