Kategori: Leisure

Ini Alasan Mengapa Terumbu Karang Cukup Dilihat, Bukan Disentuh


Solopos.com/Danang Nur Ihsan

Solopos.com, SOLO -- Terumbu karang menjadi salah satu pesona keindahan bawah laut. Saking indahnya, tidak sedikit yang sedang melakukan snorkeling ataupun menyelam (diving) tergoda untuk menyentuhnya.

Salah satu hal yang harus diketahui saat snorkeling dan diving adalah larangan untuk menyentuh terumbu karang. Sebagaimana dikutip dari laman Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), beberapa waktu lalu, sebagian besar kehidupan laut pada dasarnya tidak berbahaya bagi kegiatan snorkeling dan penyelaman.

Namun, khusus untuk aktivitas snorkeling dan penyelaman yang dilakukan di dalam ekosistem terumbu karang, aktivitas sentuhan manusia itu mengganggu terumbu karang bahkan membunuhnya.

Pengaruh terhadap ekosistem terumbu karang inilah yang menjadi alasan utama kenapa larangan tersebut diberlakukan.

Baca Juga: Jualan Nasi Pecel Daun Jati, Mbah Simah Madiun Raup Rp600.000-Rp1 Juta/Hari

”Pengaruh negatif sentuhan terhadap manusia sebenarnya lebih mengarah kepada keselamatan diri manusia itu sendiri. Ada beberapa jenis hewan yang hidup di ekosistem terumbu karang yang dianjurkan untuk tidak disentuh karena berbahaya,” sebagaimana tertulis di laman KKP.

Ada Sea Fern (bulu ayam). Meskipun tampilannya lentur seperti bulu ayam pada kemoceng, tetapi permukaan biota ini dipenuhi oleh sel penyengat.

Sel ini bernama nematocyst yang mengandung racun yang dapat menimbulkan sensasi rasa gatal. Kadang  bercampur rasa panas jika masuk ke dalam kulit dan akan menjalar dengan cepat saat digaruk.

Kulit akan memerah dan bentol-bentol dengan ukuran besar-besar seperti orang yang mengalami gejala alergi. Racunnya pun mudah berpindah apabila bagian yang tersengat bergesekan dengan bagian tubuh yang lainnya.

Baca Juga: 7 Cara Bikin Interior Rumah Bernuansa Natural dan Nyaman

Untuk beberapa orang dengan tingkat kepekaan tertentu, racun hydroid dapat juga berakibat fatal. Penanganan ketika tersengat hydroid adalah mengoleskan alkohol 70 % ke bagian yang terkena atau dengan menggunakan asam cuka.

Sengatan Karang Api

Kemudian ada Karang api (Millepora sp.). Karang api dapat dibedakan dengan jelas dari karang bercabang sejati. Permukaan karang api lebih halus, berwarna kuning kecoklatan tanpa lubang-lubang koralit seperti pada karang Acropora.

Ciri yang paling menyolok adalah warna keputih-putihan yang terdapat di ujung cabang serta sel penyengat nematocyst yang tampak seperti benang-benang halus yang terjulur.

Sel penyengat inilah yang dapat membuat kulit terasa panas atau melepuh jika terkena atau menyentuh karang ini. Ini bisa menyebabkan kulit berwarna merah kecokelatan.

Rasa sakit akibat sengatan karang api seperti terbakar api dan agak sulit terdeteksi karena racunnya baru mulai menyebar 5-30 menit setelah tergores. Efek yang dihasilkan bisa bervariasi dari iritasi ringan sampai sakit parah dan bahkan terkadang berhubungan dengan mual dan muntah.

Kadang ada pula anemon laut yang terlihat seperti bunga yang hidup di dasar laut sehingga disebut juga mawar laut. Di balik keindahannya, tentakel ini menghasilkan racun neurotoksin untuk melumpuhkan mangsanya.

Baca Juga: Profil Bupati Termuda di Jateng: Lulusan AS, Suami Artis Chacha Frederica, Harta Rp7 Miliar

Pengaruh pada manusia, jika tersentuh dengan kulit dapat menyebabkan rasa terbakar dan perih. Hell’s Fire Anemon adalah salah satu jenis anemon yang berbahaya.

Tidak hanya menimbulkan rasa sakit dan pembengkakan, tetapi juga pembusukan daging pada tempat yang disengat beserta kerusakan otot dan syaraf, dengan proses penyembuhan yang membutuhkan waktu relatif lama.

Selain itu, sentuhan manusia terhadap terumbu karang bisa berdampak buruk bagi ekosistem terumbu karang. Ini dikarenakan sifat terumbu karang yang sangat sensitif terhadap pengaruh lingkungan.

Share
Dipublikasikan oleh
Danang Nur Ihsan