Ini Akibatnya Jika PSBB Jakarta Tak Diperpanjang…
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan memberikan pernyataan pada awak media di Gedung Balai Kota Jakarta, Sabtu (12/9/2020). (Antara-Ricky Prayoga)

Solopos.com, JAKARTA — Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan memperpanjang masa Pembatasan Sosial Berskala besar (PSBB) hingga 11 Oktober 2020. Angka harian Covid-19 Jakarta bisa menyentuh angka 2.000, Oktober mendatang, jika PSBB Jakarta tak diperpanjang.

Demi mencegah teror angka Covod-19 Jakarta PSBB Jakarta tak diperpanjang itulah, Gubernur Anies Baswedan mengambil langkah darurat memperpanjang masa PPDB Jakarta. Di sisi lain, menurut Anies, kasus aktif konfirmasi positif Covid-19 bakal mencapai angka 20.000 pada awal November apabila Pemprov melonggarkan PSBB pada akhir September ini.

“Tanpa pembatasan ketat dan dengan tingkat pengetesan tetap seperti saat ini, pertambahan kasus harian di Jakarta diprediksi akan mencapai 2.000/hari pada pertengahan Oktober. Sedangkan kasus aktif akan mencapai 20.000 pada awal November,” kata Anies melalui keterangan resmi pada Kamis (24/9/2020).

Setelah 11 Tahun , MAMA 2020 Digelar di Korea Selatan Lagi

Seperti diketahui, lanjut Anies, jumlah orang dites di Jakarta terus meningkat seiring dengan bertambahnya kapasitas testing. Hingga 23 September, Jakarta telah melakukan tes PCR terhadap 857.863 orang atau 80.588 orang per sejuta penduduk.

“Kapasitas tes di Jakarta per minggu lebih dari 6 kali lipat standar WHO, yang mana WHO menetapkan standar jumlah tes ideal bagi setiap wilayah sebanyak 1 orang per 1.000 populasi setiap minggu,” ujarnya.

Hingga 11 Oktober

Berdasarkan pertimbangan andaikana PSBB Jakarta tak diperpanjang itulah Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah memutuskan untuk memperpanjang kembali PSBB ketat hingga 11 Oktober 2020 mendatang.

Epidemiolog dari Griffith University Dicky Budiman memperkirakan Provinsi DKI Jakarta melampui gelombang pertama Pandemi Covid-19 pada sebelum akhir tahun 2020.

Tuding Najwa Shihab Memprovokasi, Luhut Pandjaitan Viral

Dicky berpendapat prediksi itu berdasar pada cakupan testing DKI Jakarta yang cenderung stabil dalam batas yang telah ditetapkan Organisasi Kesehatan Dunia (World Heath Organization/WHO).

“Untuk DKI Jakarta dan sekitarnya bisa diperkirakan sebelum akhir tahun ini gelombang pertama bisa selesai. Bahwa DKI Jakarta bisa mengalami gelombang berikutnya tentunya tetap ada,” ujar Dicky melalui pesan suara dari Australia, Selasa (22/9/2020).

Stabilitas kapasitas testing, menurut Dicky, memiliki modal yang pasti secara keilmuan untuk melandaikan kurva pandemi Covid-19 di DKI Jakarta.

KLIK dan LIKE untuk lebih banyak berita Solopos

Sumber: Bisnis



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya




Kolom