Ini 3 Tingkatan Puasa, Kamu yang Mana?
Ilustrasi puasa (Solopos-Whisnupaksa Kridhangkara)

Solopos.com, SOLO – Marhaban Ya Ramadan. Bulan suci penuh berkah dan ampunan yang selalu dinantikan umat Islam di dunia. Datangnya bulan Ramadan selalu disambut dengan penuh kegembiraan. Pada bulan Ramadan, setiap muslim diwajibkan berpuasa.

Perintah berpuasa di bulan Ramadan termaktub dalam surat Al-Baqarah ayat 183-187. Dalam ayat tersebut dijelaskan tujuan berpuasa yang semestinya diperjuangkan untuk mencapai ketakwaan. Namun, pada kenyataannya banyak orang yang hanya mendapatkan lapar dan dahaga selama berpuasa. Hal ini sesuai dengan hadis Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan Imam Nasa’i dan Ibnu Majah:

“Banyak di antara orang yang berpuasa tidak memperoleh sesuatu dari puasanya, kecuali rasa lapar dan dahaga.”

Hadis di atas menjelaskan bahwa menahan diri dari lapar dan dahaga bukan tujuan utama dari puasa. Dalam buku Wawasan Alqur’an, seperti dikutip Solopos.com, Senin (6/5/2019), pakar tafsir Indonesia, Quraish Shihab, menjelaskan, puasa merupakan ibadah yang unik. Dalam hadis qudsi, Allah berfirman, “semua amal anak Adam untuk dirinya, kecuali puasa. Puasa adalah untuk-Ku. Dan Aku yang memberi ganjaran atasnya.”

Hadis tersebut semakin menjelaskan keunikan ibadah puasa yang semestinya dilakukan atas dasar ketakwaan. Sebab, puasa adalah suatu rahasia antara manusia dengan Tuhan. Jadi, semestinya puasa dilakukan atas dasar ketakwaan kepada Allah, bukan takut atau segan terhadap sesama manusia.

Ulama besar, Imam Ghazali, dalam kitabnya, Ihya’ ‘Ulumuddin, menjelaskan, puasa memiliki tiga tingkat, yakni puasanya orang awam, puasanya orang khusus, dan puasa khususnya orang khusus. Nah, tahukah Anda apa perbedaannya?

Puasanya orang awam adalah menahan makan, minum, dan menjaga kemaluan dari dorongan syahwat. Sementara puasanya orang khusus dilakukan bukan hanya menahan makan, minum, dan syahwat. Tetapi juga menahan pendengaran, pandangan, ucapan, gerakan tangan serta kaki dari segala macam dosa.

Sedangkan tingkatan puasa tertinggi, yakni puasa khususnya orang khusus jauh lebih berat. Yakni puasanya hati dari kepentingan jangka pendek dan pikiran duniawi. Serta menahan segala hal yang dapat memalingkan dirinya pada selain Allah.

Meski demikian, manusia tidak pernah tahu apakah puasa yang dilakukan mendapat pahala atau tidak. Sebab, puasa adalah ibadah yang sangat rahasia. Mengingat di bulan Ramadan penuh berkah ini Allah memberikan ampunan, maka perbanyaklah beramal salih agar puasa yang dilakukan tidak sia-sia.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya






Kolom