Pelajar menaiki armada bus sekolah gratis di Jakarta, Jumat (13/1/2018)./Antara-Muhammad Adimaja

Solopos.com, SOLO — Kota Solo boleh dibilang tertinggal dengan sejumlah daerah lain untuk urusan angkutan gratis bagi pelajar. Di beberapa daerah, bus sekolah gratis atau biasa disebut bus kuning telah menjadi bagian tak terpisahkan pengembangan-solo"> angkutan massal.

Pemkot Solo telah beberapa kali mewacanakan angkutan gratis untuk pelajar. Pada 2017, Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Solo mengkaji penggunaan sebagian Bus -4-bst-tak-jalan-dishub-solo-ancam-putus-mou-damri-">Batik Solo Trans (BST) sebagai angkutan bagi pelajar. Kini, Wali Kota Solo F.X. Hadi Rudyatmo mewacanakan angkutan kota (angkuta) atau feeder BST menjadi angkuta gratis bagi pelajar.

”Kita rumuskan transportasi gratis khusus untuk pelajar. Supirnya mendapat stimulan dari APBD [Anggaran Pendapatan Belanja Daerah]. Bagaimana pun juga kita tidak bisa membendung ojek online sekarang,” kata dia kepada wartawan, belum lama ini.

Rudy, sapaan akrabnya, menyebut kebijakan itu bisa menjadi solusi keberadaan feeder BST yang dinilai kurang optimal. Sebagian besar pengemudi diketahui tak mampu menutup biaya operasional harian.

Kepala-koridor-4-solo-deadline-damri-pertengahan-agustus"> Dishub Solo, Hari Prihatno, mengatakan upaya tersebut juga berfungsi untuk menghidupkan kembali budaya menumpang kendaraan umum. Kajian akan menyasar besaran subsidi bagi driver yang sumbernya diprediksi dari APBD.

Pola yang ingin diterapkan di Kota Solo dengan menggunakan angkuta sebagai angkutan pelajar sama dengan yang dijalankan di Kota Blitar, Jawa Timur. Di Blitar, ada 11 angkuta yang diberdayakan menjadi angkutan siswa. Sopir angkuta yang menjadi angkutan siswa mendapatkan subsidi BBM dan honor.

Angkuta menjadi angkutan pelajar di Blitar itu melengkapi delapan bus sekolah gratis di Kota Blitar. Di kota itu, bus sekolah gratis alias bus kuning sudah beroperasi sejak 2014 lalu.

Hal yang sama terjadi di Bandung. Alihfungsi angkuta menjadi kendaraan sekolah pelajar telah dilakukan Pemkot Bandung bekerja sama dengan Bandung Eco Transport. Dalam Urban Social Forum di Rumah Banjarsari, Solo, pertengahan Desember 2018, penggagas Bandung Eco Transport, Windu Mulyana, mengatakan uji coba itu dilakukan sejak tahun lalu.

Kota Bandung, Jawa Barat, telah memiliki bus sekolah sejak 2015 lalu. Kini ada 23 unit bus yang melayani empat rute bagi pelajar di Kota Kembang itu. Setiap tahun Pemkot Bandung mengucurkan dana Rp3,5 miliar dari APBD untuk mengoperasikan bus sekolah gratis.

Menurut Togi Haidat Mangara dalkam kajian berjudul Kinerja Pelayanan Bus Sekolah Kota Bandung yang dimuat di Jurnal Planologi Universitas Pasundan pada November 2017, sebagaimana dikutip Solopos.com, Jumat (1/3/2019), disebutkan dari empat rute jalur bus sekolah, tingkat keterisian penumpang beragam.

Keterisian Penumpang

Ada dua rute yang tingkat keterisiannya di bawah 70% (angka ideal keterisian penumpang). Dua rute lainnya tingkat keterisiannya di atas 70%, bahkan ada yang mencapai 118% pada pagi hari saat jam berangkat sekolah.

Daerah lain yang juga sudah menerapkan bus sekolah adalah Tulungagung, Kota Surabaya, hingga DKI Jakarta. Di Tulungagung, pemkab punya 8 bus sekolah yang melayani 8 rute berbeda. Dalam sehari, bus sekolah mengangkut 1.200 siswa.

Di Surabaya, ada sembilan bus sekolah yang beroperasi. Pemkot Surabaya menyediakan kartu bus sekolah atau e-School Bus Card. Meski begitu, jumlah bus dinilai masih kurang sehingga belum berdampak signifikan mengurangi kemacetan.

Sedangkan di DKI Jakarta, berdasarkan data Pemprov DKI Jakarta ada 30 rute bus sekolah yang dilayani 135 bus sedang dan bus kecil. Bus kecil mampu menampung 25 pelajar, sedangkan bus sedang menampung 35-40 pelajar.

”Kalau ini bisa jalan, saya kira bus sekolah punya makna memberi pelayanan langsung kepada pelajar untuk transportasi aman, terjangkau,” kata pengamat transportasi dari Masyarakat Transportasi Indoneesia, Darmaningtyas.

Tulis Komentar Anda

Berita Terkait

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten