INFRASTRUKTUR BANTUL :  Rekam Jejak Penguasa Proyek Mencurigakan
Ilustrasi (JIBI/Bisnis/dokumen)

Infrastruktur Bantul, identitas perusahaan pemenang tender diragukan

Solopos.com, BANTUL- Sejumlah rekanan yang menguasai puluhan miliar proyek infrastruktur di Bantul tahun ini tak jelas keberadaannya. Ada alamat perusahaan yang tak sesuai data administrasi, ada pula yang tak punya plang nama perusahaan.

Media ini menelusuri rekam jejak sejumlah pemborong yang menguasai Rp80 miliar lebih proyek pengadaan barang dan jasa di Bantul dari total Rp250 miliar anggaran pengadaan. Penelusuran antara lain dilakukan terhadap PT Pradipta Bhumi Konstruksi. Perusahaan ini memenangi lima paket pekerjaan konstruksi dengan nilai mencapai Rp22 miliar.

Jumlah tersebut sekaligus menempatkan PT Pradipta Bhumi Konstruksi menjadi perusahaan teratas pelaksana proyek dengan nilai tertinggi. Sesuai data yang terekam dalam situs Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE), perusahaan itu beralamat di Perumahan Sawit Asri Residence, Blok D 1 Desa Panggungharjo, Sewon. Media ini bermaksud memwawancari pemilik perusahaan dengan mendatangi alamat tersebut.

Namun setelah dicek di lokasi, perusahaan itu tidak ditemukan. Seorang security kompleks perumahan Sawit Asri Residence, Isbani mengatakan, rumah blok D 1 sudah dijual ke orang lain sekitar lima bulan lalu.

“Dulu Blok D 1 memang digunakan sebagai kantor kontraktor. Tapi sudah lima bulan lalu dijual,” ungkap Isbani ditemui Senin (29/8/2016).

Ia menyebut pemilik perusahaan itu bernama Sigit tanpa tahu siapa nama lengkapnya. Padahal sesuai data yang terekam dalam Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi (LPJK), penanggungjawab perusahaan itu bernama Azizah Prjana Saraswati. Nama Sigit tidak ditemukan di struktur pengurus perusahaan.

Penelusuran di situs LPSE, perusahaan ini tidak hanya menggarap proyek puluhan miliar di Bantul, namun kiprahnya juga melebar ke sejumlah daerah seperti Sleman dengan nilai proyek mencapai miliaran untuk satu paket lelang.

Selain PT Pradipta Bhumi Konstruksi, media ini juga menelusuri keberadaan PT Maju Sarana Mulya, bermaksud mewawancarai penanggungjawab perusahaan. Perusahaan ini bertengger di urutan kedua paling banyak menguasai proyek lelang senilai Rp18,7 miliar setelah PT Pradipta Bhumi Konstruksi. Sesuai data pemenang lelang di LPSE Bantul, perusahaan ini beralamat di Jalan Jenderal Sudirman No.192.

Jalan protokol yang membentang di pusat Kota Bantul tidak sulit dicari. Namun plang PT Maju Sarana Mulya yang dimiliki pengusaha AL Sigit Sujatmika tidak ditemukan. Informasi yang disampaikan salah seorang warga Jalan Jenderal Sudirman, nama AL Sigit Sujatmika beralamat di sebuah kantor bernama PB Tanjung No.194. PB Tanjung di data LPSE juga kerap memenangi lelang konstruksi, namun pemiliknya bernama Agustinus Heru Saptanto.

Media ini singgah ke sebuah kantor tanpa plang nama tepat berada di sebelah PB Tanjung. Seorang lelaki bernama Ratno membenarkan, kantor berukuran sekitar 20 meter persegi tanpa tanda pengenal itu merupakan PT Maju Sarana Mulya yang menggarap proyek belasan miliar rupiah. Namun ia membantah PT Maju Sarana Mulya merupakan satu kelompok dengan PB Tanjung lantaran kantornya berdempetan. Sayangnya, AL Sigit Sujatmika diklaim tidak berada di tempat.

“Pak Sigit sedang ke lapangan meninjau proyek,” kata Ratno. Telepon genggam Sigit juga tidak pernah  bisa dihubungi. Ia tidak pernah mengangkat telepon yang ditujukan kepadanya.

Panitia Lelang Pengadaan Barang dan Jasa Unit Layanan Pengadaan (ULP) Bagian Administrasi Pembangunan Sekretariat Daerah (Setda) Bantul Dendi Sulistyo sebelumnya mengklaim, panitia telah mengecek kelengkapan administrasi para peserta dan pemenang lelang. Ia memastikan persoalan administrasi beres sehingga layak memenangi lelang. “Kami sesuai prosedur saja. Yang menang lelang memang yang memenuhi syarat administrasi. Kami ada evaluasi seperti administrasi, cek kompetensi teknis dan juga harga yang ditawarkan,” kata Dendi.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya






Kolom