INFO SOLO : Inilah Pesona Museum Pertama di Indonesia, Radya Pustaka
Ketua Komite Museum Radyapustaka Solo Purnomo Subagyo mengamati miniatur kapal Rajamala Museum Radya Pustaka (Sunaryo Haryo Bayu/JIBI/Solopos)

Info Solo kali mengupas Museum Radya Pustaka yang merupakan museum pertama di Indonesia.

Solopos.com, SOLO – Museum Radya Pustaka berdiri sejak 125 tahun lalu, karena itulah museum ini tercatat sebagai museum pertama di Indonesia. Museum yang dibahas dalam Info Solo ini menyimpan berbagai artefak penting budaya Jawa, termasuk banyak karya pustaka kuno.

Bangunan museum yang berada di kompleks Sriwedari Solo ini dulunya merupakan kediaman orang Belanda, Johanes Busselar. Rumah itu dibeli Paku Buwono X seharga 65.000 gulden untuk digunakan sebagai museum oleh Kanjeng Raden Adipati Sosrodiningrat IV. Ia adalah pepatih dalem—wakil penguasa pemerintahan—pada masa bertahtanya Raja Kasunanan Surakarta Hadiningrat Paku Buwono IX dan Paku Buwono X.

Sebelum memanfaatkan rumah bekas Johanes Busselar, museum itu pada mulanya berlokasi di Dalem Kepatihan alias Pura Mangkunegaran Solo yang diresmikan pada 28 Oktober 1890 dengan rintisan koleksi buku sastra kuno. Buku sastra kuno tersebut dahulunya dihasilkan dari diskusi di Paheman Radya Pustaka—kumpulan para sastrawan—setiap Rabu malam Kamis.

Sejak 1 Januari 1913, museum itu dipindahkan ke rumah bekas Johanes Busselar di tepian jalur jalan kerajaan di kompleks Taman Kebon Raja Sriwedari. Setelah jalur jalan kerajaan itu disebut Jl. Brigjen Slamet Riyadi, Solo, pada 11 November 1953, museum itu kembali diresmikan oleh Ir. Soekarno selaku presiden Republik Indonesia.

Selanjutnya, benda koleksi museum itupun lebih variatif ketimbang naskah-naskah kuno milik Paheman Radya Pustaka. Museum Radya Pustaka dari waktu ke waktu dilengkapi dengan senjata kuno, wayang, arca, dan benda bersejarah lainnya.

Disambut Ranggawarsita

Museum Radyapustaka Solo (JIBI/Solopos/Sunaryo Haryo Bayu)
Museum Radyapustaka Solo (JIBI/Solopos/Sunaryo Haryo Bayu)
Pengunjung mendengarkan keterangan pemandu wisata di teras Museum Radya Pustaka (Sunaryo Haryo Bayu/JIBI/Solopos)
Pengunjung mendengarkan keterangan pemandu wisata di teras Museum Radya Pustaka (Sunaryo Haryo Bayu/JIBI/Solopos)

Saat singgah ke museum tertua di Indonesia ini, pengunjung akan menjumpai Patung Raden Ngabehi Ranggawarsita yang menjadi ikon selamat datang museum itu. Patung dada pujangga Jawa tersebut diletakkan di tugu batu, tengah halaman depan museum.

Ranggawarsita dikenal sebagai pujangga penutup di Keraton Solo, sebab setelahnya tidak ada lagi pujangga kerajaan. Banyak hasil karya tulisnya yang dimuseumkan di perpustakaan Museum Radya Pustaka. Karyanya yang termasyhur adalah Serat Kalatidha yang secara harfiah berarti Zaman Edan atau “zaman gila” pernah dilukis dengan aksara Jawa pada tembok rumah orang Belanda di Kota Leiden.

Setelah disambut oleh Patung Ranggawarsita, pengunjung yang mengendarai sepeda motor atau mobil, dapat menempatkan kendaraan di lokasi parkir di sayap kiri halaman. Sedangkan mobil bsa parkir di halaman depan museum.

Dari tempat parkir, pengunjung dapat langsung melihat gedung museum yang dikelilingi pagar besi bercat hijau-kuning. Penjaga loket di dekat pintu masuk akan menawarkan tiket sebagai syarat administrasi masuk museum yang dibuka setiap hari Selasa-Minggu pada pukul 08.30 WIB-13.00 WIB itu. Pengunjung diwajibkan membayar tiket seharga Rp2.500 untuk pelajar, Rp5.000 untuk dewasa, dan Rp10.000 untuk warga negara asing.

Menginjak teras museum, mata pengunjung akan disambut saksi bisu sejarah berupa meriam dan patung koleksi Radya Pustaka. Tiga pintu terbuka yang tingginya sekitar tiga meter dilengkapi kaca dengan ornamen ukiran kayu pada setiap bagian akan menarik mata pelancong untuk terus menilik lebih dalam museum yang terbagi atas lima ruangan itu. (Fitria Julestri/JIBI/Solopos.com)

 

KLIK DI SINI untuk Masuk Ruang Pertama


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya





Kolom

Langganan Konten

Pasang Baliho