Zona megathrust Indonesia (BMKG)

BMKG mengklarifikasi informasi gempa megathrust M8,7 yang disebut mengancam Jakarta.

Solopos.com, SOLO -- Belum lama ini muncul informasi yang membuat masyarakat Indonesia resah terkait gempa megathrust dengan kekuatan mencapai magnitudo 8,7 yang bisa mengguncang Jakarta. Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) pun memberikan klarifikasi tentang informasi yang sudah terlanjur viral itu.

Pasalnya, informasi tersebut disebut-sebut bersumber dari BMKG. Lembaga itu memang mengklarifikasi ada potensi gempa patahan itu. Namun sebenarnya BMKG tidak pernah mengeluarkan prediksi tentang kapan gempa besar itu akan terjadi.

Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, dalam wawancara live yang ditayangkan TV One, menjelaskan makna zona megathrust itu. Zona itu adalah wilayah patahan naik yang sebenarnya berada di dasar Samudra Hindia, tepatnya di sebelah barat Putra Sumatra dan selatan Pulau Jawa.

"Zona megathrust itu zona patahan yang mungkin bergerak dan berada di Samudera Hindia. Sedangkan zona rawan gempa itu tergantung di lokal setempat. Misal daerah kita ini secara lokal kalau ada gelombang gempa, ini bisa mengalami amplifikasi. Kalau ada gelombang masuk ke struktur tanah yang lebih keras akan teredam," kata Dwikorita.

Karena itu, yang dilakukan oleh BMKG adalah memetakan kondisi zona-zaona yang akan diperkirakan berpotensi mengalami amplifikasi akibat gelombang patahan itu. Hal itu sebagai dasar mitigasi agar dampak gempa bisa diminimalisasi. "Yang perlu kami ingatkan adalah mitigasinya, misalnya agar konstruksi bangunan lebih aman," sambungnya.

Dalam keterangan yang dirilis Bagian Humas BMKG di situs resmi, Jumat (2/3/2018), menyebutkan pemerintah melalui Pusat Studi Gempa Nasional (Pusgen) dan didukung para pakar gempa telah menerbitkan buku Peta Sumber dan Bahaya Gempabumi Indonesia Tahun 2017 upaya dan mitigasi gempa di Indonesia.

"Peta tersebut diterbitkan bersama buku dengan judul yang sama. Di dalam buku tersebut diinformasikan bahwa berdasarkan hasil kajian para pakar gempabumi, zona tumbukan antara Lempeng Indo-Australia dan Eurasia, yang menunjam masuk ke bawah Pulau Jawa disebut sebagai zona megathrust, dan proses penunjaman lempeng tersebut masih terjadi dengan laju 60-70 mm per tahun," tulis BMKG dalam rilis itu.

Selanjutnya, menurut analisis para pakar gempa, gerakan pengunjaman lempeng tersebut memungkinkan dapat mengakibatkan gempa megathrust dengan kekuatan/magnitudo maksimum yang diperkirakan dapat mencapai M 8,7. Dari sini, BMKG menjelaskan bagaimana informasi tersebut bisa muncul dan menjadi viral.

Hal itu berawal saat Ikatan Alumni Akademi Meteorologi dan Geofisika (IKAMEGA) berinisiatif menyelenggarakan diskusi dengan Pemprov DKI Jakarta untuk menyiapkan langkah-langkah mitigasi. Diskusi tersebut dirancang untuk kalangan terbatas antara para pakar dan pemegang kebijakan karena membahas hal yang cukup sensitif namun urgen terkait keselamatan publik.

Namun ternyata ada beberapa tulisan yang beredar viral dan kesimpulan yang muncul di masyarakat dinilai kurang tepat. BMKG pun meluruskan beberapa hal dalam tulisan yang menjadi viral itu.

"Meski para ahli mampu menghitung perkiraan Magnitudo maksimum gempa di zona megathrust, akan tetapi teknologi saat ini belum mampu memprediksi dgn tepat, apalagi memastikan kapan terjadinya gempa megathrust tersebut. Kita pun belum mampu memastikan apakah gempa megathrust M8,7 akan benar-benar terjadi, kapan, di mana, dan berapa kekuatannya? Maka dalam ketidakpastian tersebut, yang perlu dilakukan adalah upaya mitigasi yang tepat, menyiapkan langkah-langkah kongkrit yang perlu segera dilakukan untuk meminimalkan risiko kerugian sosial ekonomi dan korban jiwa seandainya gempa benar-benar terjadi, khususnya dengan cara menyiapkan kesiapan masyarakat maupun inftrastrukturnya," tutup BMKG dalam rilis itu.

Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten