Suwarmin/Dokumen Solopos

Solopos.com, SOLO -- Dua orang laki-laki, Bagong dan Mbilung, asyik bercengkrama di gardu kampung. Nama mereka itu semacam nama panggung, nama alias, nama paraban.

”Si Bos jadi nyalon nggak ini, Lung,” tanya Bagong.

“Ya… kan masih nunggu rekomendasi. Malah jangan segera turun ini rekomendasinya dari pusat. Biar pekerjaan agak lama sedikit haha….”

Rupamu…,” Bagong menjawab lalu ikut tertawa ngakak.

Mereka berdua adalah influencer atau orang yang mampu memengaruhi warga dalam arti yang sebenarnya. Mereka pandai berembuk, pintar bersilat lidah, berani ngotot, berani adu fisik jika sesekali diperlukan.

Keduanya adalah influencer politik bagi aktor politik. Mereka juga bisa menjadi juru bicara atau bahkan semacam duta bagi juragan mereka. Peran mereka paten dan vital. Jangan pula menyebut mereka sebagai preman politik.

Mereka adalah influencer, walaupun pekerjaan mereka lebih banyak di jalanan. Tahun ini, kata kabar yang dirilis koran, berita online, dan televise, 270 daerah akan menggelar pemilihan kepala daerah. Di Provinsi Jawa Tengah akan digelar pemilihan kepala daerah di 21 daerah kabupaten/kota.

Tentu itu kabar menarik bagi keduanya yang memang pemain politik dalam arti yang sebenarnya. Mereka adalah tangan kanan politikus. Mereka yang menghubungkan warga atau massa dengan sang politikus.

Kadang warga minta pengadaan seragam karang taruna, kostum futsal, penambalan jalan, pengaspalan jalan, atau bahkan minta dibangunkan jembatan. Bahkan TV led 32 inci di gardu desa itu merupakan pemberian calon anggota legiskatif pada pemilihan umum tahun lalu.

Onggokan pasir yang masih tersisa di pinggir jalan itu juga pemberian calon anggota legislatif. Kerja politik Bagong dan Mbilung nyaris tak pernah kosong. Setelah pemilihan umum 2019, pada Desember tahun lalu mereka ikut berpesta dengan menjadi tim sukses calon kepala desa.

Pemilihan Kepala Desa

Walau sekadar pilihan tingkat desa, uang yang berputar melalui tangan mereka juga tidak main-main. Saat serangan fajar, yakni pembagian uang kepada calon pemilih pada waktu fajar menjelang pemungitan suara, Bagong dan Mbilung masing-masing menyebar Rp50 juta.

Masing-masing warga berhak pilih di kawasan pantauan mereka menerima Rp200.000. Jumlah yang sangat lumayan untuk warga desa. Jumlah itu cukup untuk kebutuhan dapur selama sepekan bagi warga desa.

Bisa juga digunakan untuk empat kali menyumbang hajatan tetangga. Kabarnya si calon kepala desa menghabiskan uang Rp 2miliar hingga berhasil terpilih. Bagong dan Mbilung sebenarnya juga menganggap uang sebanyak itu aneh dan berlebihan bagi daerah mereka itu, tapi biarlah, toh ini saatnya masyarakat bawah menikmati duit orang kaya.

”Ada ibu-ibu kampung sebelah yang anaknya sakit parah. Kemarin bilang ke aku bisa nggak dimintakan bantuan Si Bos. Sudah diobati pakai BPJS tapi sampai sekarang belum sembuh,” ujar Mbilung.

”Iya, nanti malam aku ambil duit dari Bos. Kemarin dia habis acara di Jakarta.”

”Yang ini jangan diunthet, Lung. Duit jatah orang susah.”

”Ya, enggaklah. Kayak kamu aja Gong, Gong….”

Keduanya lalu tertawa. Memang kadang-kadang dalam alur pekerjaan mereka ada juga pekerjaan kemanusiaan seperti itu. Si miskin yang sedang susah ada kalanya meminta bantuan si juragan penguasa yang juga tokoh politik. Nah, Bagong dan Mbilung penyambung lidahnya.

Tentang dari mana uang si juragan, mereka tidak terlalu paham. Bisa jadi ada duit dari proyek infrastruktur yang sedang dibangun. Bisa pula dari cukong kaya raya yang katanya akan membangun kawasan pabrik di sektor timur.

Bisa jadi ada sedikit biaya honor dari macam-macam pekerjaana yang dilakukan anak buah di pemerintahan. Bisa juga dari proyek pertambangan pasir dan batu yang mereka memaksa untuk bergabung jika izinnya mau diterbitkan.

KPK

Banyaklah cara yang bisa dilakukan. Seribu jalan.  Ada pula bayang-bayang operasi tangkap tangan dari Komisi Pemberantasan Korupsi yang bisa saja menghampiri bos mereka.

”Oh, ya, kemarin Tholang minta izin mau membagi kalender calon bupati di daerah kekuasaanmu. Aku suruh menyampaikan sendiri ke kamu. Daripada aku keliru.”

”Sudah beres,” kata Bagong sembari menyandarkan badan ke dinding.

”Nih, buat kamu Rp200.000. Ngerti wae kalau ada rejeki,” tangan Bagong mengangsurkan dua lembar duit kertas warna merah ke tangan Mbilung.

”Ya, namanya teman kan memang begitu, Bos. Nanti toh gampang kita bereskan saat Bos benar-benar nyalon bupati,” ujar Mbilung sambil tersenyum.

Meski mereka terkesan kasar dan ugal-ugalan, ada semacam aturan kerja sama tim di antara mereka. Mereka selalu membagi uang yang mereka peroleh sesuai proporsi masing-masing. Keduanya cocok dan sudah lama bekerja sama.

Tiba-tiba gadget di tangan Bagong bersuara. Begitu melihat nama yang muncul di layar, Bagong njenggirat berdiri. Mbilung pun ikut turun dari lincak.

“Ya, Pak, siap. Nggih, … siap… siap….”

”Apa, Gong?” tanya Mbilung begitu melihat Bagong selesai menerima telepon.

”Bos bilang rekomendasi terbit sebulan lagi. Kita diminta siap-siap. Malam ini kita diminta kumpul di markas, segala sesuatunya akan dibicarakan.”

Keduanya masih melanjutkan pembicaraan seputar kemungkinan rekomendasi partai untuk bos mereka. Mereka juga menghitung-hitung peluang si bos dan peluang kompetitornya.

”Bakal ramai ini. Semoga uang sakunya banyak,” bisik Mbilung sambil nyengir.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten