(Kiri ke kanan) Direktur PT Siantar Top Tbk Armin, Dirut Siantar Top Agus Suhartanto, dan Direktur Siantar Top Suwanto saat paparan publik di Surabaya, Jumat (28/6/2019). (Bisnis-Peni Widarti)

Madiunpos.com, SURABAYA -- Tren pasar ekspor untuk komoditas makanan dan minuman olahan tahun 2019 ini dinilai cukup menggembirakan dengan permintaan yang terus meningkat.

Ketua Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi), Adhi S. Lukman mengatakan ekspor produk makanan minuman (mamin) tahun ini cukup ekspansif karena terbukanya pasar-pasar baru seperti Afrika, sekaligus adanya dukungan dari pemerintah yang memasukan sektor mamin dalam komoditas prioritas.

"Tahun ini, ekspor makanan dan minuman olahan diproyeksikan bisa menembus US$8 miliar, dengan target pertumbuhan industri 9%," kata dia, Jumat (28/6/2019).

Direktur Utama PT Siantor Top Tbk, Agus Suhartanto, mengatakan pada tahun lalu pasar ekspor produk makanan kemasan Siantar Top seperti snack meningkat 20%. Hal itu menggambarkan potensi pasar internasional yang terus terbuka bisa menjadi peluang bagi perseroan.

“Selama ini memang komposisi pasar ekspor kami belum banyak baru 10%, dan 90% pasar domestik, tapi semakin kesini ternyata produk kami seperti snack noodles merek Mie Gemez digemari di Korea Selatan, Jepang, China, dan Taiwan,” katanya saat paparan publik, Jumat.

Dia menambahkan dengan permintaan pasar luar negeri yang menggiurkan, perseroan bahan ingin menggenjot pasar ekspor sampai bisa berkontribusi 20% tahun ini. Tetapi hal itu tidak mudah mengingat tingkat persaingan di pasar internasional juga sangat ketat.

“Selain Asia yang jumlah penduduknya besar, kami tahun ini juga mau approaching pasar ke Afrika dan negara-negara Timur Tengah,” imbuhnya.

Direktur Siantar Top, Armin, menambahkan tahun ini perseroan juga menyiapkan belanja modal Rp422 miliar yang akan digunakan untuk perluasan usaha misalnya meningkatkan kapasitas produksi terutama untuk produk crackers.

Dalam kesempatan yang berbeda, Presiden Direktur Sekar Bumi Tbk, Harry Lukmito, mengatakan adanya perang dagang antara AS dan China membuat kalangan industri punya kesempatan untuk memperkuat pasar ekspor terutama ke AS dengan produk makanan olahan basah berbasis udang.

“Sampai saat ini komposisi pasar ekspor terbesar kami selama ini ke AS, tapi tahun ini kami mau sasar negara lain seperti Amerika Latin, Timur Tengah, dan Australia,” katanya.

Begitu juga dengan PT Sekar Laut Tbk yang mengandalkan produk makanan olahan kerupuk udang juga ingin melebarkan sayapnya hingga Belanda dan Inggris. Saat ini kontribusi pasar ekspornya baru mencapai 33%.

“Produk snack dan kerupuk pun sudah mulai digemari di Korea Selatan, Jepang, dan China. Untuk itu tahun ini kami  ingin menambah pasar di sana,” ujar Direktur Sekar Laut John Gozal.

Silakan KLIK dan LIKE untuk lebih banyak berita Madiun Raya


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten