Al Iklas Kurnia Salam/Istimewa

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (11/9/2019). Esai ini karya Al Iklas Kurnia Salam, guru Bahasa Indonesia di Pondok Pesantren Tahfidz Quran Darul Fikri Sidoarjo, Jawa Timur. Alamat e-mail penulis adalah iklaskurnia7@gmaiul.com.

Solopos.com, SOLO -- Saya yakin para pembaca novel Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer sepakat dengan pendapat tapal batas kesadaran kemanusiaan Minke pada adegan akhir novel tersebut.

”Kita kalah, Ma,” bisik Minke.

”Kita telah melawan, Nak, Nyo, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya,” jawab Nyai Ontosoroh.

Adegan penutup novel tersebut bukan hanya konflik pamungkas Minke dengan tatanan kolonial yang menindas, tapi juga babak baru kesadaran individualisme Minke tentang sejarah dan masa depan.

Perjuangan Minke mendapatkan legalitas pernikahan beda ras dengan Anelis sesungguhnya bukan hanya perjuangan hukum, tapi perjuangan ideologis. Minke melawan ideologi kolonial yang diskriminatif dan rasis.

Ideologi kolonial yang tidak adil menjadi akar masalah hilangnya harkat martabat kemanusiaan. Sayangnya, pembicaraan tentang konflik Papua sering mengabaikan hal yang sangat krusial ini.

Ibarat Minke yang berduka karena kehilangan martabat sebagai manusia dan suami, para aktivis dan penulis sering lupa bahwa yang harus dilakukan untuk mengembalikan martabat kemanusiaan warga Papua adalah merumuskan akar masalah.

Jika akar masalah belum teridentifikasi, saya percaya kita tidak akan bisa mengembalikan harga diri warga Papua. Yang terjadi hanyalah solusi tambal sulam mencegah timbulnya konflik lagi.

Sesungguhnya akar masalah konflik Papua bukan ideologi. Akar masalah konflik Papua adalah kesenjangan ekonomi, sosial, dan prasangka etnis dari kalangan yang tidak ingin Indonesia bersatu.

Kita hanya perlu belajar sedikit tentang ideologi negara untuk berkesimpulan ideologi Pancasila bukanlah ideologi tertutup yang bersifat antikritik dan otoriter. Pancasila sebagai dasar negara adalah ideologi terbuka. Ideologi Pancasila bisa memayungi perbedaan ras, suku, budaya, dan agama.

Keadilan dan Pemerataan

Ideologi liberal tidak cocok dengan warga Papua yang mencari keadilan dan pemerataan kemakmuran. Ideologi komunis bukan pilihan terbaik buat warga Papua yang ingin lepas dari jerat kemiskinan.

Komunisme yang otoriter dan cenderung militeristis hanya akan membawa Papua pada perang saudara yang tak berkesudahan. Pilihan terbaik warga Papua di tengah pusaran ideologi besar dunia kini masihlah ideologi Pancasila.

Pekerjaan berat kita adalah membumikan kembali spirit ideologi Pancasila agar tidak hanya hadir sebatas verbalisme politik. Pancasila yang menemani kemerdekaan kita selama 74 tahun adalah pantulan dan kehendak hidup bersama yang harus terus ada dalam realitas keindonesiaan kita.

Nilai-nilai Pancasila harus dihadirkan di seluruh wilayah Indonesia, termasuk di bumi Papua. Rasialisme yang terjadi di Kota Surabaya dan Malang yang melibatkan mahasiswa Papua adalah tanda pudarnya nilai Pancasila dalam kehidupan masyarakat kita.

Manusia yang cinta Pancasila dan cinta Indonesia tidak akan mengejek saudara senegara sebagai monyet. Manusia yang menjunjung tinggi ideologi bangsa akan menghormati nilai kemanusiaan saudara-saudara setanah air. Mereka akan menghormati apa pun agama, ras, dan budaya setiap warga Indonesia.

Gagasan tentang ”radikalisasi Pancasila” yang pernah diusung Kuntowijoyo bisa menjadi alternatif di tengah maraknya tuntutan kemerdekaan warga Papua. Pancasila yang dimaknai secara revolusioner sebagai komitmen pandangan hidup yang tegar, efektif, dan segar mesti dijalankan dengan benar di tanah Papua.

Tuntutan logis dari kurang radikalnya praktik ideologis ini bukan lagi kemerdekaan warga Papua dari ikatan kesatuan negara, melainkan penerapan secara konsisten ideologi Pancasila yang berkeadilan.

Negeri ini akan tetap utuh membentang dari Sabang sampai Merauke. Semoga Papua bisa jadi bagian utuh Indonesia yang damai, adil, dan sentosa. Begitulah pendapat saya sebagai guru Bahasa Indonesia yang prihatin pada masalah Papua.  


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten