Soleh Amini Yahman/Istimewa

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis (29/8/2019). Esai ini karya Soleh Amini Yahman, dosen di Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta. Alamat e-mail penulis adalah solehamini11@gmail.com.

Solopos.com, SOLO -- Bencana tidak bisa dipastikan datangnya, seperti gempa bumi dan tsunami yang melanda Indonesia akhir-akhir ini. Indonesia sebagai negara  rawan bencana harus memiliki edukasi tetang kebencanaan. Masih sering ditemukan kesalahan masyarakat awam dalam menyikapi bencana alam.

Kesalahan itu terutama menyangkut penanganan kehidupan anak-anak pascabencana. Esai ini bermaksud memberikan edukasi bagaimana membangun imunitas psikologis, khususnya pada anak-anak yang terpapar bencana alam dengan model psychological first aid  (PFA), yaitu cara penanganan awal bagi seseorang yang sedang berada dalam kondisi stres, terutama karena bencana.

Konsep dasar terapi psikologi dalam penanganan traumatic syndrome pascabencana pada anak-anak harus dilakukan dengan konsep pendekatan holistic interdisplineri dan lintas sektoral. Artinya aktivitas recovery atau pemulihan kondisi korban bencana tidak cukup hanya ditangani dokter, psikolog, konselor, guru, social worker, dan lainnya.

Berbagai profesi tersebut harus bersinergi dan membangun kolaborasi yang kuat sehingga terbuka akses bersama untuk melakukan tindakan-tindakan rehabilitatif  maupun tindakan kuratif atas berbagai problem yang tengah dihadapi para korban bencana .

Hal ini penting mengingat persoalan yang dihadapi pengungsi korban bencana tidak hanya berupa problem kesehatan, sanitasi, kebutuhan gizi , nutrisi, dan pendidikan. Hal lain yang sering lolos dari prioritas penanganan korban bencana adalah bantuan terapi psikologi untuk mengembalikan kondisi mental yang porak-poranda akibat bencana luar biasa yang baru saja mereka alami.

Kebugaran mental menjadi hal yang sangat penting dalam proses rehabilitasi dan recovery anak-anak korban bencana. Tanpa kondisi mental yang baik maka semua usaha dan upaya pemulihan keadaan pascabencana menjadi sia-sia. Oleh karena itu, prioritas terdepan dalam program advokasi recovery pada anak-anak korban bencana adalah mengembalikan kondisi mental mereka yang penuh pengalaman-pengalaman traumatik sehingga terbentuk imunitas psikologis terhadap trauma pascabencana.

Bukan Faktor Tunggal

Pemulihan kondisi mental ini tidak mungkin bisa dilakukan dengan baik bila masing-masing kelompok sukrelawan melakukan dengan cara sendiri-sendiri dan mengabikan cara lain yang mungkin diperlukan. Persoalan atau permasalahan yang timbul pada era pascabencana tidak hanya disebabkan satu faktor tunggal, melainkan sangat dipengarhui oleh interplay multifactor.

Oleh karena itu, untuk mewujutkan soliditas tim yang holistik  maka yang harus dlakukan kali pertama adalah mengesampingkan egoisme sektoral, egoisme profesi, dan egoisme keilmuan, namun tetap menjaga profesionlisme masing-masing.

Semua elemen yang terlibat dalam kegiatan penanganan trauma pascabencana harus bersedia saling belajar, saling mendengarkan, dan saling mengisi sehingga menjadi tim kerja yang solid. Pokok persoalan ini sengaja saya tekankan karena dalam implementasi banyak program  yang  gagal karena berkembangnya egoisme kelompok ini.

 

Persoalan atau permasalahan pascabencana yang dihadapi anak-anak jauh lebih kompleks dibanding persoalan sama yang dihadapi para korban berusia dewasa. Terdapat banyak persoalan pada diri anak korban bencana yang sifatnya tersembunyi.

Anak tidak mampu mengemukakan atau menjelaskan apa yang dirasakan dan apa yang diinginkan. Persoalan-persoalan tersebut  bersifat laten dan  bisa meledak pada kemudian hari jauh setelah persoalan bencana itu sendiri sudah lama berlalu.  Efek traumatik akibat bencana akan terbawa selama masa proses tumbuh dan berkembang, bahkan bisa sangat memengaruhi pembentukan karakter, sifat, dan pola pola perilaku tertentu yang nanti bisa menghambat proses kreatif dan proses produktif  pada usia dewasa.

Oleh karena itu, dalam penanganan trauma pascabencana pada anak-anak butuh kesegeraan guna menghambat mekanisme internalisasi pengalaman buruk akibat bencana dalam alam ketidaksadaran mereka. Teknik terapi pada pemulihan trauma pascabencana dapat juga dilakukan dengan cara memutus arah arus trauma dengan melakukan experiance blocking.

Dengan cara ini anak-anak tidak mempunyai kesempatan mengembangkan pengalaman pahit itu dalam khayalan atau imajinasi yang menyeramkan. Bila terjadi kondisi yang demikian, efek trauma akan menjadi lebih traumatik dan menimbulkan gangguan fungsi kejiwaan yang lebih parah.

Mengalihkan dan Mensubstitusikan

Experience blocking dapat dilakukan dengan cara mengalihkan dan mensubsitusikan fokus perhatian anak atas nestapa  bencana yang menimpa dengan aktivitas-aktivitas pengganti (activity substitusion), baik berupa kegiatan fisik, psikis, dan kegiatan sosial spiritual. Aktivitas pengganti ini merupakan kanalisasi dari segala bentuk pengalaman negatif akibat bencana.

Mereka diberi kesempatan menyalurkan rasa sedih, rasa takut yang ekstrem, dan dendam kepada alam dengan kegiatan bersama yang sifatnya menggembirakan.  Kegiatan tersebut dilakukan dalam kelompok-kelompok bermain atau kelompok belajar dengan bimbingan seorang tentor atau pendamping.  

Dalam kegiatan ini anak tidak hanya dijadikan sebagai objek pasif atau semata-mata menjadi sasaran kegiatan, melainkan secara bergantian dijadikan bagian aktif dari pelaksanaan program bersama-sama para tentor atau para sukrelawan yang mempunyai kompetensi. Intinya anak dibawa pada aktivitas terstruktur yang mengarah pada terbentuknya stimulasi internal  sehingga dapat mewujud sinergi internal dalam diri anak.

Dengan demikian anak kembali memiliki energi psikologis yang lebih baru yang sangat berguna untuk membangun rasa percaya diri, keberanian, dan ekploitasi diri untuk memasuki kembali kehidupan baru pascabencana. Energi psikologis yang terbentuk tersebut berdampak pada timbulnya keasadaran diri bahwa selain dirinya banyak orang lain yang juga menderita karena bencana.  

Secara psikologis timbulnya rasa senasib sepenanggungan ini akan menjadi daya atau kekuatan yang luar biasa yang dapat mengentaskan seseorang dari nestapa diri dan mendorong  terjadi interaksi personal yang penuh makna. Hal inilah yang secara mekanistis akan mewujudkan self healing atau mekanisme penyembuhan oleh dirinya sendiri.  

Untuk menuju itu semua dibutuhkan kerja keras dan pendampingan yang intensif tidak hanya dari para sukarelawan, tetapi juga dari para orang tua dan guru-guru sekolah. Dalam proses  ini peran sekolah menjadi penting karena institusi tersebut memiliki tanggung jawab membentuk intellectual integrative yang akan membuka kecerdasan academis, kecerdasan emosional, kecerdasan kultural, dan kecerdasan spiritual anak.  

Semua bentukkecerdasan tersebut sangat diperlukan bagi proses tumbuh kembang anak, khusunya dalam membangun imunitas psikologis sehingga anak menjadi kebal dalam menghadapi derita maupun kenestapaan lain yang timbul karena bencana alam.

Tidak Penting Merelokasi

Imunitas psikologis yang terbangun itulah yang nantinya akan membawa hidup anak-anak pada kehidupan normal meskipun mereka berada dalam situasi alam yang sama seperti alam sebelum bencana melanda mereka. Oleh karena itu, dalam pandangan saya sebagai psikolog, ide untuk merelokasi anak dari  daerah rawan bencana ke lokasi atau daerah lain menjadi tidak penting lagi.

Relokasi selain membutuhkan sumber pembiayaan yang besar juga menuntut anak beradaptasi yang sesungguhnya tidak mudah dilakukan oleh anak-anak. Adaptasi sosial, kultural, dan geografis akibat relokasi akan banyak menguras energi psikologis anak sehingga anak rentan dihinggapi stres dan bahkan gangguan-gangguan psikotis lainnya.

Dampak yang paling nyata dari bencana adalah terjadinya banyak korban fisik, jiwam maupun harta benda. Dari semua kerugian tersebut kerugian paling dahsyat adalah kerugian yang menyangkut aspek  psikologis. Dalam kondisi bencana dampak psikologis selalu lebih besar daripada dampak medis.

 Dalam kondisi bencana anak-anak merupakan pihak yang paling rentan terpapar masalah-masalah psikososial dan medis karena mekanisme pertahanan diri yang masih lemah. Dampak psikologis yang paling umum dari imbas bencana biasanya berupa stres dan rasa takut. Kedua hal itu menyebabkan muncul perubahan tingkah laku dan gangguan mental.

Reaksi stres terhadap bencana berpengaruh pada empat efek personalitas manusia, yaitu efek emosional, efek kognitif, efek fisik, dan efek interpersonal. Efek emosional tampak dari  timbulnya shock, marah, sedih, masa bodoh, takut, merasa bersalah, cepat marah, dan putus asa.

Efek kognitif tercermin dari kurangnya kemampuan berkonsentrasi, tidak bisa membuat keputusan, daya ingat menurun, tidak bisa percaya, bingung, menurunnya self esteem (harga diri), dan cenderung menyalahkan diri sendiri. Efek yang terkait aspek fisik adalah lelah, gangguan tidur, pusing kepala, gangguan motilitas lambung atau dyspepsia, menurunnya nafsu makan, kecacatan, dan lainnya.

Dampak lain yang ditimbulkan oleh stres dan takut akibat bencana juga berefek pada aspek hubungan interpersonal, yakni dalam bentuk perilaku alienasi, menarik diri, konflik, tidak bisa bekerja, tidak bisa sekolah, ingin membalas, mencari kambing hitam, dan sulit memaafkan diri sendiri maupun orang lain.

Mendorong Komunitas Berperan Aktif

Kondisi stres tersebut bukan merupakan persoalan yang ringan. Oleh karena itu, harus segera mendapatkan pertolongan sehingga penderitaan korban tidak merembet pada penderitaan yang lebih berat lagi semacam depresi yang ujungnya berkeinginan kuat untuk bunuh diri.

Untuk melakukan tugas tersebut dibutuhkan model psychological first aid (PFA), penanganan awal bagi seseorang yang sedang berada dalam kondisi stres. PFA dilakukan dengan cara mendorong komunitas berperan lebih aktif terhadap permasalahan yang terjadi di lingkungannya, melakukan rujukan jika korban menujukkan gejala reaksi stres yang akut, dan memberikan informasi selengkap-lengkapnya mengenai tingkah laku yang wajar muncul dalam kondisi bencana.

PFA merupakan intervensi holistik awal yang bisa diberikan dalam lima langkah sederhana, yaitu memenuhi kebutuhan dasar, mendengarkan, menerima perasaan atau keluh kesah penderitaan korban, pendampingan untuk langkah-langkah selanjutnya, dan melakukan rujukan.

Lima langkah sederhana tersebut akan mewujutkan kembali rasa aman (safety) yang mungkin sudah hilang bersama datangnya bencana, menimbulkan keberanian diri pada korban untuk memfungsikan potensi dirinya kembali dan mendorong korban untuk mengambil dan menentukan langkah berikutnya yang akan dilakukan demi membangun masa depan yang baru.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten