SOLOPOS.COM - Airlangga Hartarto (Istimewa)

Solopos.com, JAKARTA – Ekonomi Indonesia diprediksikan rebound pada 2021 ini. Hal itu seiring penanganan pandemi Covid-19 yang semakin membaik. Diproyeksikan perekonomian Indonesia akan tumbuh 4,5 persen hingga 5,3 persen padai 2021 dan 5,4 persen- 6 persen pada 2022.

Untuk mencapai proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tersebut, Pemerintah mengupayakan agar pertumbuhan ekonomi di triwulan II 2021 dapat mencapai kisaran 7% (yoy).

Promosi Klaster Usaha Rumput Laut Kampung Pogo, UMKM Binaan BRI di Sulawesi Selatan

“Keberhasilan reformasi struktural akan menjadi faktor pendongkrak ekonomi dalam jangka menengah. Kemudian Program Pemulihan Ekonomi Nasional [PEN] akan mempercepat pemulihan ekonomi dalam jangka pendek,” ujar Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, sebagai keynote speech acara Seminar Nasional bertema, Transformasi Ekonomi: Mendorong Investasi di Indonesia Melalui Implementasi UU Cipta Kerja, Kamis (29/4).

Baca juga: Silaturahmi Golkar Dan PKS Sepakat Tinggalkan Politik Identitas

Ekspedisi Mudik 2024

Guna mengakselerasi pemulihan ekonomi Indonesia, lanjutnya, pemerintah terus melanjutkan Program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN). Pada 2021 anggarannya meningkat menjadi Rp699,43 Triliun. Hingga 16 April 2021, realisasi dari PEN 2021 telah mencapai Rp134,07 Triliun atau 19,2% dari pagu. Implementasi program ini akan terus dipercepat guna memberikan dampak baik bagi masyarakat.

Indonesia menghadapi tantangan di depan untuk dapat keluar dari middle income trap dan meraih cita-cita menjadi Indonesia Maju. Untuk itu, menurut Airlangga dibutuhkan reformasi struktural agar pertumbuhan ekonomi dapat dipacu lebih tinggi lagi. Dalam menjalankan transformasi struktural, meningkatkan investasi dan mengakselerasi pertumbuhan ekonomi, Pemerintah telah mengesahkan UU No. 11/2020 tentang Cipta Kerja.

Izin Berusaha

UU Cipta Kerja dan 51 Peraturan Pelaksanaannya mendapatkan apresiasi yang positif dari berbagai lembaga internasional. Adapun UU Cipta Kerja mereformasi pendekatan dalam pemberian izin berusaha. Dari sebelumnya menggunakan Pendekatan Berbasis Perizinan (Licenses Based Approach) menjadi Pendekatan Berbasis Risiko (Risk Based Approach).

Selanjutnya, Pemerintah akan segera menetapkan Peraturan Menteri/Kepala Lembaga sebagai pedoman pelaksanaan teknis dan mengoperasionalkan sistem Online Single Submission (OSS) pada Juni 2021. Sehingga diharapkan investasi dapat meningkatkan, lebih banyak kesempatan kerja, dan terciptanya peluangan usaha untuk ekonomi Indonesia.

Baca juga: Proyeksi Indonesia Setelah Tsunami Covid-19 India

Untuk pemulihan ekonomi Indonesia di antaranya ada aturan turunan dari UU Cipta Kerja yang bertujuan untuk mendorong investasi adalah Perpres No. 10 Tahun 2021. Mengatur tentang Daftar Prioritas Investasi. Pemerintah telah menetapkan lebih dari 1.700 bidang usaha terbuka untuk penanaman modal. Kemudian 245 bidang usaha prioritas, 89 bidang usaha yang dialokasikan untuk kemitraan dengan Koperasi dan UMKM, serta 46 bidang usaha dengan persyaratan tertentu.

“Pemerintah juga menawarkan berbagai insentif fiskal dan non fiskal kepada Investor yang menanamkan dananya pada bidang usaha prioritas,” tambah Airlangga.

Perbaiki Iklim Investasi

Baca juga: Webinar UMKM Virtual Expo: Mengungkap Cara Mengakses Permodalan Perbankan dari BSI

Selain itu, guna meningkatkan Foreign Direct Investment (FDI) dan memperbaiki iklim investasi, Pemerintah telah membentuk Indonesia Investment Authority (INA) yang akan mengelola 2 macam dana, yaitu Master Fund dan Thematic Fund seperti di sektor infrastruktur, energi dan SDA, kesehatan, dan lain sebagainya. Pemerintah Indonesia, lanjut Airlangga juga telah berkonsultasi dengan lebih dari 50 perusahaan dan calon mitra strategis.

Perjuangan untuk membangkitkan ekonomi Indonesia dari pandemi Covid-19 masih terus berlanjut. Investasi menjadi kunci dalam mewujudkan pembangunan ekonomi yang berkelanjutan.

“Melalui forum ini, saya mengajak kita semua untuk bersama-sama mewujudkan pemulihan ekonomi melalui sinergi dan koordinasi yang baik antara pemerintah dan perguruan tinggi, terutama di bidang peningkatan daya saing investasi,” pungkas Airlangga.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Simak berbagai berita pilihan dan terkini dari Solopos.com di Saluran WhatsApp dengan klik Soloposcom dan Grup Telegram "Solopos.com Berita Terkini" Klik link ini.
Solopos Stories
Honda Motor Jateng
Honda Motor Jateng
Rekomendasi
Berita Lainnya