M. Fauzi Sukri/Dokumen Solopos

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (13/9/2019). Esai ini karya M. Fauzi Sukri, penulis buku Guru dan Berguru (2015) serta peminta filsafat politik. Alamat e-mail penulis adalah emfauzisukri@gmail.com.

Solopos.com, SOLO -- Rakyat Indonesia yang hidup pada 1980-an dan 1990-an, sebelum krisis ekonomi 1998, pernah merasakan impian teknologis dalam sesosok almarhum B.J. Habibie (25 Juni 1936-11 September 2019. Memang tidak salah menyebut B.J. Habibie sebagai Bapak Teknologi Indonesia.

Pada waktu di sekolah dasar, awal 1990-an, saya mendapati satu teka-teki anak desa yang saling berangkuh ria: Allah mencipatakan alam semesta, tak ada yang bisa mengalahkannya, tapi manusia menciptakan teknologi canggih kok.

Lalu kami membuat satu deret kalimat memukau penuh gelak tawa: Murid SD di Jepang bisa membuat radio, murid SMP Jepang bisa membuat televisi, murid SMA bisa membuat sepeda motor, mahasiswa bisa buat mobil. Murid Indonesia bisa buat? Orang Indonesia bisa bikin pesawat terbang! Kami tertawa menang!

Kita semua tahu siapa sosok jenius pembuat pesawat terbang itu tanpa perlu menyebut namanya. Ingat: menciptakan pesawat terbang, impian teknologis yang ada dalam buku-buku pelajaran sekolah pada t 1950-an.  

Sampai saat itu saya tidak pernah membaca tulisan B.J. Habibie, tidak pernah melihat bentuk pesawat CN-235 yang diresmikan pada 10 September 1983 (bertepatan dengan puncak kepahlawanan bangsa Indonesia!) atau karya-karya lainnya.

Kami murid SD di desa hanya terpukau—bahkan sebagian yang lainnya mengalami sakit hati--karena penetapan impian teknologis oleh atau dari orang tua. Gosip keampuhan bangsa Indonesia yang diwakili B.J. Habibie itu seperti wabah yang tidak kita ketahui dari mana datangnya.

Setelah dewasa dan bisa membaca beberapa tulisan B.J. Habibie, saya cukup tahu dan bisa menilai impian teknologis masa itu. Kita bisa membuka impian teknologis itu dari peristiwa yang baru saja terjadi. Di lini masa media sosial, hanya beberapa jam setelah Presiden Joko Widodo meresmikan mobil Esemka pada Jumat (6/9/2019), orang-orang jadi ramai.

Tentu ada yang kemudian mengunggah foto-foto yang membandingkan Bima 1.2 dan Bima 1.3 yang dikeluarkan Esemka dengan mobil niaga yang sangat serupa dari Tiongkok. Kita tidak bisa cukup tahu apa di balik keriuhan orang-orang media sosial itu: sebagai strategi serangan politik, kelatahan kritis bermedia sosial, kekecewaan terhadap mobil yang pernah diimpikan sebagai mobil nasional, atau bermakna apa?

Dalam peresmian mobil Esemka, Presiden Joko Widodo juga tidak berkoar-koar yang heroik. Ia tidak mengatakan sebagaimana pada 2012 saat masih menjabat Wali Kota Solo (Tempo, 22 Januari 2012). Saat itu ia berkata,”Saya ingin menjadikannya simbol nasionalisme kita. Buat saya, ini kebanggaan kita, simbol perlawanan terhadap mobil-mobil impor. Wong kita sudah 60 tahun lebih merdeka kok nggak bisa bikin mobil sendiri.”

Impian-impian bangsa Indonesia sebagai bangsa teknologis pada zaman modern yang bersumber pada sains sudah berumur 120 tahun. Kita pantas mengingat seorang pemuda bernama Sosrokarto (kakak R. A. Kartini) yang menyampaikan pidato penting dalam Kongres Ilmu Bahasa dan Sastra Belanda ke-XXV, pada 29 Agustus 1899, di Belanda.

Dia termasuk mahasiswa awal dari Jawa yang kuliah teknik di Sekolah Politeknik di Delft, Belanda, meski akhirnya keluar dan pindah kuliah bahasa-bahasa Timur di Universitas Leiden, Belanda.

Kuasa Ilmu

Dalam pidato pertama seorang pribumi di hadapan forum ilmiah Barat itu, Sosrokartono berbicara dengan antusias bahkan sedikit memelas dalam bayang-bayang kuasa ilmu-pengetahuan Eropa (juga Amerika) yang begitu digdaya.

”Kami melihat kereta-kereta tanpa kuda menggelinding di atas jalur besi; kami melihat kapal-kapal meluncur bebas tanpa layar di atas samudra; kami melihat terang yang tak dinyalakan; kami melihat banyak hal yang bagi kami tetap merupakan keajaiban dan misteri,” kata Sosrokartono (Poeze, 2008).

Saya membayangkan pasti Sosrokarto semakin memelas jika tahu bahwa di Amerika Serikat kemudian muncul teknologi pesawat terbang: besi terbang, tanpa sayap berbulu, tanpa kekuatan gaib seperti Gatotokaca, dan lain-lain.

Barangkali, bahkan sampai sekarang, benda-benda teknologis itu masih tetap menjadi misteri bagi sebagian besar warga Indonesia, tanpa mau mendapatkan pemahaman dan penjalasan sainstifik. Dan, sayangnya, barangkali sudah menjadi benda-benda lumrah yang tak perlu ditakjubi, apalagi dipelajari dengan kesungguhan seorang ilmuwan.

”Apakah kami hanya akan sekadar menyaksikan?” tanya Sosrokartono dalam nada begitu lirih dan memelas. ”Betapa orang Jepang mengembangkan diri dengan bebas dan bangga, betapa orang Amerika menciptakan hal-hal yang mengagumkan, seolah-olah semuanya itu datang dari dunia dongeng dan cerita binatang, sementara pada kami tidak muncul sedikit pun kebijakan atau pun hasrat untuk lebih banyak tahu,” kata Sosrokartono.

Ia mengucap dan bertanya pada akhir abad ke-19 dan sekarang kita memasuki dekade abad ke-21. Sudah satu abad lebih, namun seiring pergerakan waktu sosial dan budaya, pertanyaan pemuda Sosrokartono itu sekarang sudah menjadi ironi besar bagi kebanyakan kita semua.

Pertanyaan teknologis mutakhir, bahkan di ruang-ruang pengajaran, bukanlah apakah kita mampu menciptakan benda-benda teknologis bagi kesejahteraan dan kebaikan bersama. Kita memang pernah terbius untuk menjadi bangsa pencipta teknologi pada masa B.J. Habibie.  

Pertanyaan mutakhir sederhana dan mendesak itu berbunyi dari kelas menengah Indonesia yang berjumlah sekitar 141 juta jiwa pada tahun 2020, menurut Boston Consultation Group: Kapan aku bisa mempunyai smartphone tercanggih? Kapan aku bisa mempunyai mobil terbaru dan termahal? Kapan bisa mempunyai sekadar sepeda motor keluaran terbaru tanpa kredit?

Terus muncul pertanyaan-pertanyaan berikutnya. Begitulah kita memunculkan pertanyaan-pertanyaan terkait dengan hidup berteknologi. Pertanyaan kolektifnya lebih banyak bersifat mengonsumsi teknologi, bukan mencipta teknologi. Tentu saja, hampir tiap pemimpin tertinggi Indonesia mempunyai angan-angan kemajuan teknologis, sejak Sukarno sampai Joko Widodo.

Tiap pemimpin yang membawa impian penciptaan produk teknologis dari rakyat Indonesia sering mendapatkan tanggapan bergemuruh. Pada 2006, Joko Widodo meresmikan Solo Techno Park, yang dihasratkan tidak hanya melatih cara mengoperasikan teknologi canggih, tapi terutama untuk menciptakan teknologi.

Semasa memimpin Kota Solo, Joko Widodo termasuk yang sangat mendukung SMK di Kota Solo dengan menjadikan Kota Solo sebagai kota vokasi. Pada awal 2013, Joko Widodo membuat gebrakan: mobil Esemka yang tak dilirik investor, meski sudah dipamerkan di Surabaya dan Jakarta, diberi pelat nomor mobil dinas wali Kota Solo.

Pada kemunculan itulah nama Joko Widodo seakan-akan menjadi pengabul impian lama mobil nasional. Publik Indonesia seakan tersentak lagi setelah B.J. Habibie yang telah jadi mitos teknologis yang gagal: ternyata, kita akan bisa punya mobil nasional, yang bahkan siapa tahu bisa mengalahkan mobil Jepang, mobil Jerman, atau setidaknya mobil Korea Selatan. Apakah dengan diresmikannya mobil Esemka impian teknologis bangsa Indonesia sudah tercapai?

Medan Bisnis

Tiap pemimpin politik di Indonesia seharusnya belajar pada kasus tokoh legendaris utama impian teknologis bangsa Indonesia: B.J. Habibie. Pada 1982, Habibie menyampaikan pidato penting di International Symposium on Energy and International Cooperation: Options for the 21st Century di Tokyo, Jepang.

Judul pidato yang dia sampaikan adalah Science, Technology, and Nation-Building. Intinya sangat jelas dan tentu jauh lebih jelas lagi bagi Jepang yang telah memulai pada abad ke-19: sains dan teknologi adalah penggerak utama kemajuan dan kemakmuran satu bangsa.

Lalu, dengan lebih spesifik dan strategis, Habibie menyampaikan pidato kehormatan di Deutsche Gessellschaft fur Luft-und Raumfahrt (Masyarakat Jerman untuk Aeronautika dan Astronautika) di Bonn, Jerman, pada 14 Juni 1983. Dalam pidato berjudul Some Thoughts Concerning a Strategy for the Industrial Transformation of a Developing Country, Habibie bergerak lebih jauh lagi: bukan hanya sebagai teknolog-insinyur, tapi sudah menjadi sosiolog-politikus yang mengambil kebijakan pengembangan teknologi dan industri.

Inti pidato Habibie saat itu sangat jelas. Pertama, teknologi adalah satu kebudayaan dan perlu penguasaan pendidikan dan pengajaran agar bisa dikuasai dalam bentuk institusi pendidikan. Kedua, lalu semua itu diberi kesempatan untuk dikembangkan sesuai kebutuhan yang melingkupinya dalam praktik eksperimen pembuatan teknologi tanpa intervensi politis-ekonomis dari negara yang sudah maju industrinya.

Yang lebih pokoh adalah yang ketiga, anak bangsa itu harus terus mengembangkan daya inovasi dan inovasi sampai pada tahap yang tingkat tinggi agar bisa menjadi technologically advanced nation (bangsa berteknologi tinggi). Apakah Habibie berhasil melaksanakann itu? Jika saja Habibie adalah segalanya, tentu bisa.

Seperti yang tersirat dalam pidatonya, tidak semua tahap bisa dilaksanakan, terutama yang kedua dan ketiga. Kondisi politik ekonomi Indonesia pada masa Orde Baru, terutama akibat terlalu mengistimewakan Jepang, membuat semua itu tidak bisa berjalan dengan mulus.

Reformasi mengubur impian teknologis itu, meski bukan berarti semua orang diam tanpa mencoba. Lalu, setelah reformasi berjalan dua dakade, tampaknya Joko Widodo adalah kasus yang sangat menarik dari impian teknologis itu. Di kap mesin satu mobil yang diluncurkan, Joko Widodo menulis kalimat “Kalau bukan sekarang, kapan lagi” dan membubuhkan tanda tangannya.

Kita tentu bisa menafsirkan dalam banyak hal. Omongan Joko Widodo sekian tahun lalu bukan ngibul, tapi terbukti tentang pembuatan pabrik mobil bangsa Indonesia (meski hanya 60% produksi dalam negeri), impian teknologis bangsa Indonesia sedikit bangkit dan mulai terlaksana, dukungan political will dari seorang presiden Indonesia, dan seterusnya.  

Tapi, seperti diperingatkan Habibie, tiap negara yang hendak membangun mahadaya cipta teknologi biasanya berhadapan dengan dua hal. Pertama, medan persaingan bisnis yang akan menentukan keberhasilan dan kegagalan di hadapan konsumen. Kedua, pembangunan kultur daya cipta teknologis yang tanpa itu hanya akan menjadi pusat pabrik dari luar negeri.

Pada urusan yang pertama, yang dihadapi mobil Esemka jelas berat. Sejak zaman Orde Baru, Jepang terlalu leluasa menguasai pasar otomotif  Indonesia sampai mengerdilkan daya cipta bangsa Indonesia. Para manajer Esemka jelas harus berjuang ekstra keras menghadapi pasar otomotif Indonesia yang sudah sedemikian mapan dikuasai pabrikan Jepang (juga negara lain seperti Korea, dan seterusnya) dan konsumen Indonesia sudah cukup percaya dengan kualitas produk mereka ini.

Kecerdasan Kultural Teknologis

Kita akan menyaksikan keberhasilan atau kegagalan mereka dalam beberapa tahun ke depan. Pada urusan yang kedua juga masih sangat berat dihadapi bangsa Indonesia. Sekarang, tentu teknologi bukan semata-mata kecerdasan milik Eropa atau Amerika Serikat atau Jepang, sebagaimana dibayangkan Sosrokartono pada abad ke-19.

Semua negara bisa mengembangkan kecerdasan kultural teknologis. Masalahnya, seberapa besar ambisi impian teknologis itu mau diwujudkan dan tidak berhenti sebagai ilmu akademis belaka. Inilah impian teknologis yang menggelayuti publik Indonesia sampai sekarang.

Secara umum arahnya cukup jelas: dari dunia keilmuan, bergerak ke jalur political will, dan diimplementasikan di jalur bisnis teknologi yang mendapat dukungan dari publik akademis dan konsumen bangsa Indonesia (syukur kalau bisa diekspor). Yang jelas tampak dari impian teknologis bangsa Indonesia: kita kalah ambisius dibandingkan warga Jepang, Korea Selatan, atau khususnya Tiongkok sekarang.

Sejak Perang Dunia II, ratusan ribu mahasiswa Asia belajar di kampus-kampus di Amerika Serikat dan beberapa negara Eropa. Indonesia mengirimkan mahasiswa ke negeri Abang Sam, namun yang paling banyak dan ambisius berasal dari Tiongkok, terutama sejak Deng Xioping memimpin negeri itu.

Antara tahun 1978-2003 jumlah mahasiswa asal Tiongkok yang belajar di luar negeri 580.000 orang dan sekitar 172.800 (sekitar 32%) kembali ke Tiongkok. Pada tahun 2008, sekitar 1.000 mahasiswa berbakat yang menguasai teknologi  tinggi tinggal di kawasan Shanghai Pudong dan mendirikan 150 perusahaan dengan modal yang tercatat senilai US$30 juta.

Perkembangan sains dan ekonomi Tiongkok mendapatkan bantuan ilmu pengetahuan (brain drain) dari warga negeri itu yang benar-benar berpengalaman dalam bidang usaha pengembangan teknologi di negara maju (Mahbubani, 2011: 110).

Perhatikan, yang kita lihat dari data itu bukan hanya hasrat perseorangan untuk menjadi ahli-ahli teknologi, tetapi adalah hasrat impian teknologis yang sudah menyatu secara kolektif dan mendapat dukungan politis yang sangat besar. Juga bukan hanya impian-impian teknologis seorang wali kota atau kepala negara yang bisa segera berakhir sebagai citra politik.

Berhenti di Level Mengonsumsi

Saya tidak tahu seberapa kuat impian teknologis pemimpin individual bisa bertahan di negeri ini, atau seberapa besar impian teknologis seorang pemimpin negera untuk mewujudkannya. Yang paling sering kita saksikan sehari-hari: impian teknologis kita berhenti di level mengonsumi!

Tanda tertulis dari Joko Widodo, ”Kalau bukan sekarang, kapan lagi”, jelas sangat berarti. Struktur dan iklim bisnis yang kondusif, riset dari lembaga pendidikan dan pengajaran, dan political will jelas sangat dibutuhkan. Jauh melampaui personalitas sosok seorang politikus yang akan berganti tiap lima tahun sekali.

Niaga teknologi dalam skala besar jelas membutuhkan semua itu. Tidak bisa berjalan sendiri. Sejarah imipan teknologis dalam kasus B.J. Habibie sudah membuktikan. Yang tak kalah perlu untuk diperhatikan: sekarang, pemerintahan daerah jauh lebih berkuasa daripada pada tahun-tahun sebelumnya.

Para elite politik daerah menjadi penguasa. Dalam beberapa hal, situasi politik ini bisa menjadi penjamin pengembangan pusat-pusat teknologi di daerah, baik untuk pengembangan ekonomi berskala menengah, atau benar-benar menjadikan pusat pengembangan teknologi masa depan dengan jangkauan global, yang akhirnya juga bisa memakmurkan penduduk daerah.

Dan yang tak kalah maha penting dari semua itu adalah etos teknologi berkelas tinggi untuk berselalu berinovasi secara progresif bahkan revolusioner. Apakah Indonesia akan menjadi negara maju tanpa pengembangan-pencipta industri teknologi atau bakal maju menjadi pusat konsumen terbesar tekonologi di kawasan Asia Tenggara? Sayangnya, yang terakhir ini sudah mulai terwujud!


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten