Imbas Corona, WC Umum di Pasar Wonogiri Ikut Sepi
Penjaga WC umum di Pasar Kota Wonogiri, Selasa (7/4/2020). (Solopos/Rudi Hartono)

Solopos.com, WONOGIRI – Belakangan ini WC umum di Pasar Kota Wonogiri sepi akibat persebaran wabah virus corona. Pengunjung  yang menggunakan WC umum tak sebanyak sebelum wabah Covid-19 merambah Wonogiri.

Turunnya tingkat penggunaan WC umum membuktikan jumlah pengunjung dan pedagang di Pasar Kota Wonogiri menurun signifikan. Kondisi itu diyakini terjadi di semua pasar di Wonogiri, bahkan di daerah-daerah lain.

Petugas penjaga WC umum di Pasar Kota Wonogiri, Dadan, mengatakan penghasilannya menurun. Setiap orang yang menggunakan WC umum di pasar bakal ditarik biaya Rp1.000.

ODP Terbanyak di Kelurahan Jebres, Ini Data Lengkap Sebaran Covid-19 Solo 8 April 2020

Pada hari normal dia bisa menyetorkan uang Rp80.000/hari kepada pengelola dan mengantongi pemasukan lebih dari Rp200.000/hari.

Misalnya dalam sehari uang yang masuk kotak Rp280.000, berarti pengunjung dan pedagang yang menggunakan WC umum sebanyak 280 orang. Namun, sekarang ini Dadan sangat bersyukur jika mendapatkan pemasukan Rp100.000/hari. Bahkan, dia sering meraup pendapatan kurang dari Rp100.000/hari.

Meski demikian, pria 37 tahun itu tetap menjalani pekerjaannya sebagai penjaga WC umum di Pasar Kota Wonogiri. Dia bersyukur pengelola menurunkan target setoran.

Alat PCR dari Swiss Datang, Bisa Lakukan 10.000 Tes Corona Sehari

“Kalau Minggu tambah sepi. Tapi syukur pengelola punya kebijaksanaan menurunkan uang setoran kalau pas pengunjung sangat sepi,” kata Dadan kepada Solopos.com, Selasa (7/4/2020).

Dadan mengatakan WC umum di lantai II Pasar Kota Wonogiri lebih sepi lantaran jumlah pedagang dan pengunjung berkurang. Dia berharap wabah virus corona segera berakhir.

96.469 Siswa Lolos SNMPTN 2020! Cek Pengumuman Di Sini

“Semoga semua segera baik-baik saja seperti sedia kala. Enggak perlu pakai masker dan enggak perlu waswas lagi kalau bersama orang,” sambung Dadan.

Penjaga WC umum lainnya di Pasar Kota Wonogiri, Murwanto, 31, bernasib sama. Pendapatannya menurun drastis.

Baginya, mengumpulkan uang Rp90.000/hari merupakan berkah di tengah wabah. Padahal, biasanya dia bisa mengantongi lebih dari Rp200.000/hari.

“Bagaimana tak sepi, pedagang saja pukul 11.00 WIB sudah tutup. Bahkan tak sedikit yang menutup usahanya. Ini karena konsumen yang datang berkurang banyak dibanding sebelum ada corona,” ulas dia.

 


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya





Kolom

Langganan Konten

Pasang Baliho