Imapres Jawab Tantangan Bupati Dengan Melakukan Ini…
Mahasiswa yang tergabung dalam Imapres terlibat dalam proses verifikasi dan validasi DTKS Semester I di Wonogiri, belum lama ini. (Istimewa)

Solopos.com, WONOGIRI — Mahasiswa penerima beasiswa dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Wonogiri yang tergabung dalam organisasi Ikatan Mahasiswa Berprestasi (Imapres) mulai tahun ini terlibat dalam proses verifikasi dan validasi data terpadu kesejahteraan sosial (DTKS).

Selain program itu mereka mengaku memiliki segudang rencana lain untuk membuktikan Imapres bisa memberi kontribusi nyata kepada masyarakat dan daerah.

Sebelumnya, Bupati Joko Sutopo, menilai mahasiswa penerima beasiswa belum memberi kontribusi nyata untuk masyarakat dan daerah. Dia belum pernah melihat mereka melaksanakan suatu program, meski sekadar kegiatan yang melibatkan pelajar, apalagi kegiatan yang bisa memberi manfaat lebih besar. Bahkan, Bupati sampai mengancam mulai tahun ini akan menghentikan program pemberian beasiswa senilai Rp12 juta/tahun yang digulirkan sejak 2016 itu.

Kedatangan Gubernur Ganjar Ke Lereng Merapi Balerante Klaten Disambut "Entut Dewa"

Ketua Imapres Wonogiri, Abimanyu Arya Ramadhan, 23, kepada Espos, Selasa (19/1/2021), tak memungkiri Imapres harus banyak bebenah. Ultimatum Bupati memantik semangat Imapres untuk menjawab tantangan, memberi kontribusi nyata bagi masyarakat dan daerah.

Pengurusan Imapres 2020/2021 yang baru saja terbentuk awal Januari lalu sudah membuat sederet program yang diklaim dapat memberi dampak besar bagi pembangunan. Bahkan, ada program yang sudah dilaksanakan mulai Januari ini, yakni program kemitraan dengan Dinas Sosial.

Sebanyak 364 dari 600 mahasiswa penerima beasiswa 2020 yang tersebar di 25 kecamatan terlibat aktif dalam proses verifikasi dan validasi (verval) DTSK. Belum semua mahasiswa bisa mengikuti kegiatan karena sebagian ada yang menjalani kuliah kerja nyata (KKN), berada di luar Wonogiri, dan mengikuti kegiatan kampus lainnya.

Ngegas! Kasus Covid-19 di Wonogiri Tambah 207 Orang Dalam Sehari

Sesuai Wilayah Tugas

Teknisnya, mahasiswa yang tergabung dalam Imapres terlibat dalam verval membantu tenaga kesejahteraan sosial kecamatan (TKSK) dalam menginput dan mengolah data, ikut mengecek tempat tinggal warga yang diusulkan masuk DTKS, dan sebagainya. Kegiatan tersebut dilaksanakan sesuai ruang lingkup tempat tinggal mahasiswa.

Tugas mereka dibagi berdasar kecamatan. Setiap kecamatan ada koordinatornya. Selanjutnya kelompok setiap kecamatan berkoordinasi dengan TKSK untuk mengidentifikasi dan memetakan persebaran mahasiswa berdasar tempat tinggal. Kemudian mahasiswa bergerak sesuai wilayah tugas yang ditentukan sebelumnya.

“Selain itu kami ikut membantu mendata difabel, membantu penyaluran bansos [bantuan sosial], dan pendataan KPM [keluarga penerima manfaat] PKH [Program Keluarga Harapan]. Prinsipnya, tugas kami membantu TKSK dan pendamping PKH,” kata mahasiswa Fakultas Teknik UGM yang biasa disapa Abim.

10 Berita Terpopuler : 9.865 Penerima BPNT Sukoharjo Terancam Dicoret

Pemuda asal Jatisrono, Wonogiri tersebut melanjutkan, program kemitraan dengan Dinsos akan dijadikan program rutin setiap semester. Dia menilai keterlibatan mahasiswa dalam jumlah banyak dapat mempercepat proses verval.

Februari mendatang Imapres akan menggelar seminar ideologi kebanggsaan untuk kalangan internal. Kegiatan ini sebagai jawaban atas keresahan Pemkab terhadap fenomena mahasiswa yang terlibat paham radikalisme. Kemudian, Imapres akan menggelar pelatihan penulisan karya tulis, seperti artikel dan pembuatan video bagi pelajar SMP dan SMA, pada Maret. Di dalamnya akan ada pembahasan mengenai cara agar tak termakan dan turut menyebarkan hoaks di media sosial.

Sebagai informasi, pada 2020 Pemkab memberi beasiswa kepada 600 mahasiswa yang terdiri atas 392 mahasiswa penerima program 2019 dan 208 mahasiswa penerima baru. Total anggaran Rp7,5 miliar.

 



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya









Kolom