Imajinasi tentang Wabah
Bandung Mawardi/Istimewa

Solopos.com, SOLO -- Pada 27 Juli 1900, Achmad Djajadiningrat berdinas sebagai Asisten Wedana Bajonegara di Kawedanan Cilegon. Itu adalah kedudukan terhormat bagi pribumi di tata pemerintah kolonial. Tugas besar pada awal dinas adalah mencegah persebaran cacar semakin meluas.

Dulu, orang-orang terkena cacar biasa diasingkan di barak-barak, dijauhkan dari keluarga. Pada awal abad XX, pengertian-pengertian kesehatan dan wabah belum terlalu diketahui oleh kaum jajahan. Cacar malah menjadi cerita seram yang cepat beredar.

Pada masa lalu, wabah cacar dan wabah imajinasi seram berbarengan bersebaran ke segala tempat. Buku berjudul Memoar Pangeran Aria Achmad Djajadiningrat (1936) memuat peristiwa dan imajinasi mengenai cacar di Banten awal abad XX. Achmad Djajadiningrat selaku asisten wedana bertugas sebagai pencatat dan menangani wabah itu.

Catatan penting itu saya baca saat dunia masa sekarang sedang takut wabah virus corona mulai bersebaran ke pelbagai negara, bermula dari Tiongkok. Achmad Djajadiningrat mengisahkan menurut kepercayaan orang Banten, penyakit cacar dibuat oleh setan yang terkadang menyamar menjadi anak berumur enam tahun sampai delapan tahun.

Setan-setan itu membawa obor yang dipergunakan untuk melukai orang. Kepercayaan seperti itu mungkin timbul karena kulit yang serupa luka-luka bakar terdapat pada kulit pengidap cacar. Setan-setan cacar berkampung di Lawangtaji, Gunung Karang. Mereka diperintahkan menyebarkan cacar oleh pemimpin mereka ke kampung-kampung.

Orang yang dihinggapi penyakit cacar dapat dibawa hidup-hidup oleh setan ke Lawangtaji dan dipaksa bekerja berat untuk kepentingan semua setan yang tinggal di sana. Untuk menjaga agar pengidap cacar tidak dibawa setan maka mereka harus dijaga siang dan malam.

Cerita sulit dipahami oleh akal waras tapi beredar cepat di kampung-kampung. Situasi ketakutan dan derita akibat wabah ditambahi dengan sebaran cerita seram yang sulit dihentikan. Achmad Djajadiningrat memiliki tugas ganda: mengusahakan kesembuhan para pengidap cacar dan meralat atau menghapuskan cerita seram yang telanjur menghinggapi kepala para penduduk.

Siasat Menghadapi Wabah

Obat diperlukan dalam menangani cacar. Perhatian keluarga dan pertolongan wajib diberikan demi kesembuhan. Orang-orang malah berpikiran bahwa obat termanjur dalam situasi wabah adalah kertas jimat. Kertas berisi tulisan beraksara Arab dan gambar dipasang di atas pintu rumah penduduk.

Pejabat pribumi itu lekas berpikir membuat siasat agar warga mau disuntik vaksin cacar, mencegah pertambahan korban dan penderitaan. Para warga mau tapi sekian orang takut dengan suntikan. Achmad Djajadingrat bekerja sama dengan mantri cacar.

Warga diminta berkumpul tapi tenaga mantri terbatas. Antrean membuat capek. Lokasi penyuntikan vaksin cacar di bawah pohon dekat gardu. Achmad Djajadiningrat mengumpulkan para lurah. Mereka diajak iuran untuk membangun los-los bambu agar warga tak kepanasan atau capek saat menunggu giliran disuntik vaksin cacar.

Siasat itu menarik hati warga. Panitia malah mengadakan upacara peresmian dengan iringan gamelan, menambah minat warga ikut serta dalam kebijakan pencacaran atau penyuntikan vaksin cacar. Usaha rasional itu tetap sulit menghilangkan imajinasi seram.

Upacara tolak bala diselenggarakan dengan penanaman sebatang pohon pisang di depan kantor lurah. Di dekat situ ada meja dengan sesaji berupa tumpeng, telinga dan kaki kambing, padi, dan telur. Ilmu kesehatan modern melalui suntik vaksin cacar berduet dengan tata cara tradisional.

Perpaduan itu dijalankan demi mencegah sebaran penyakit cacar. Ketika kita membaca masa lalu itu kita menemukan usaha mengerti situasi dan pandangan hidup warga. Sejarah aneh dalam catatan Achmad Djajadingingrat menguak peran pelbagai pihak dalam adonan nalar kewarasan dan imajinasi seram untuk mengurangi atau mencegah penderitaan di tanah jajahan akibat cacar.

Catatan dibuat oleh asisten wedana saat menunaikan tugas-tugas besar. Saya membaca kisah sejarah itu sambil membandingkan sikap atau cara para pejabat pada masa berbeda dalam menanggapi wabah. Saya  mengingat masa lalu melalui novel bocah berbahasa Sunda berjudul Djatining Sobat (1931) gubahan Samsoedi.

Pada 1957, novel itu diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Ajip Rosidi dengan judul Sahabat Sedjati. Cerita berlatar 1906 di pinggiran Bandung. Alkisah, bapak dan Minta (berumur 12 tahun) sedang naik kereta api menuju suatu tempat untuk mencari kesembuhan. Mereka hendak menemui seorang dukun. Minta sakit parah. Si bapak memilih pengobatan tradisional ketimbang berurusan dengan dokter atau rumah sakit. Ongkos pasti jadi pertimbangan.

Kolera

Di kereta api terdengar pengumuman bahwa pemerintah sedang berusaha menangani wabah: berjangkit penyakit kolera yang mahahebat. Ratusan orang mati akibat kolera. Samsoedi mengisahkan setiap hari di setiap desa, berduyun-duyun orang mengubur mayat, hampir tidak ada waktu istirahat, sungguh sangat mengerikan.

Pemerintah mengeluarkan aturan darurat. Semua orang yang bepergian dilarang keras membawa buah-buahan atau sayur-sayuran mentah. Setiap orang yang tampak sakit mesti dibawa ke rumah sakit.  Tidak boleh ada orang yang berjualan sirup atau cincau. Di setiap gardu disediakan air masak untuk minum orang yang lewat.

Si bapak takut Minta bakal ketahuan polisi yang bertugas di gerbong. Ia nekat membeli karung goni bekas untuk mewadahi tubuh Minta yang sedang sakit. Ulah demi lolos dari pemeriksaan polisi di gerbong. Gagal! Polisi berhasil mengetahui pelanggaran pada situasi wabah kolera itu.

Si bapak ditangkap dan masuk penjara. Minta dibawa polisi ke rumah sakit untuk mendapat perawatan. Saya membaca tentang wabah kolera dalam novel untuk anak-anak yang terbit pada 1930-an. Samsoedi mungkin berimajinasi atau menjadi saksi pernah terjadi wabah kolera di Bandung.

Novel berperan memberi kesadaran kepada pembaca agar mengetahui wabah, cara penanganan, dan sikap warga. Novel bersifat pengajaran dan peringatan tentang wabah yang melanda tanah jajahan. Buku biografi (autobiografi), buku sejarah, dan novel menjadi dokumen atas kejadian-kejadian masa lalu yang memuat bab wabah dan kebijakan pemerintah.

Kini, kita berada pada situasi mirip saat pengetahuan tentang wabah masih simpang-siur, tapi imajinasi ketakutan terlalu cepat bersebaran. Berita-berita di televisi, koran, majalah, atau situs-situs Internet semakin mengimbuhi kebingungan. Kita masih sulit mendapatkan keterangan sahih atau petunjuk-petunjuk terang dalam bersikap dan mengartikan wabah virus corona yang sedang melanda Tiongkok dan pelbagai negara.

Sampar

Kita seperti lupa tak pernah memiliki sejarah wabah atau membaca buku-buku yang memuat imajinasi wabah sebagai acuan penentuan sikap terbijak. Para pembaca karya sastra kelas dunia pastilah lekas mengingat novel berjudul La Peste (1947) gubahan Albert Camus. Novel itu diterjemahkan ke bahasa Indonesia dengan judul Sampar (1985) oleh Nh. Dini.

Novel ini bakal selalu menjadi referensi penting di sejarah wabah dan pemaknaan atas situasi dunia menghadapi hal-hal terburuk. Albert Camus justru menguatkan definisi manusia dan pemikiran-pemikiran kemanusiaan yang terbaca sebagai filsafat eksistensialisme.

Novel jadi acuan kepustakaan dalam masalah filsafat, sejarah, kedokteran, sosial, politik, perkotaan, dan lain-lain. Sampar itu warisan terpenting dari Albert Camus, wajib dibaca pada saat wabah-wabah terus saja melanda umat manusia abad XXI. Wabah melanda kota bernama Oran, bermula dari tikus.

Albert Camus menceritakan suasana yang mencekam. Tetapi, hari berikutnya keadaan menjadi lebih buruk. Jumlah binatang mati yang dikumpulkan semakin bertambah, hasil pengambilan setiap pagi semakin banyak. Sejak hari keempat, tikus-tikus mulai keluar untuk mati bergerombol.

Dari tempat-tempat gelap, dari bawah gedung, dari kelder, dari selokan tertutup. Mereka naik berurutan panjang, berjalan terhuyung-huyung dan sempoyongan di tempat terang, kemudian tubuhnya terbalik dan mati di dekat manusia.

Waktu malam, di gang-gang atau jalanan kecil, kedengaran jelas jerit sekarat mereka. Pagi hari, di pinggiran kota, mereka kelihatan tergeletak di selokan dengan segumpal darah di moncong mereka yang lancip. Beberapa di antaranya menggembung busuk, yang lain kaku dan kumisnya tegak.

Kita membaca sambil mengimajinasikan wabah sampar membunuh ribuan orang di kota, mencipta ketakutan tak terkira. Kini, dunia pun sedang menanggung wabah virus corona. Kita berharap keselamatan dan kebaikan.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya



Kolom

Langganan Konten

Pasang Baliho