Tutup Iklan
Direktur Perwakilan ILO untuk Indonesia dan Timor-Leste, Michiko Miyamoto (kedua dari kanan) dan Koordinator Residen PBB di Indonesia Anita Nirody (kedua dari kiri) mengunjungi pabrik PT Ungaran Sari Garmen, Ungaran, Jawa Tengah, Rabu (3/10/2019). (Antara-Azis Kurmala)

Solopos.com, JAKARTA — International Labour Organization (ILO) badan dunia Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk tenaga kerja, awal Oktober ini, menyambangi pabrik PT Ungaran Sari Garmen, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. ILO mengapresiasi Better Work perempuan pekerja di Ungaran.

Kunjungan itu dipimpin Direktur Perwakilan ILO untuk Indonesia dan Timor-Leste, Michiko Miyamoto dan Koordinator Residen PBB di Indonesia Anita Nirody. Mereka menilai pemberdayaan wanita yang dilakukan dilakukan Ungaran Sari Garments sebagai sebuah pabrik garmen di Indonesia.

"Berbagai program untuk memberdayakan perempuan dilakukan oleh perusahaan garmen, termasuk kelas prenatal, kurir ASI [air susu ibu], ruang laktasi, koperasi, klinik, serta pengembangan kapasitas untuk pekerja," kata Koordinator Residen PBB di Indonesia Anita Nirody dalam keterangan resmi yang dipublikasikan Kantor Berita Antara, Rabu (16/10/2019).

Memberdayakan perempuan di perusahaan garmen dinilai PBB penting karena 95% pekerja didominasi oleh perempuan. PBB, menurut Anita Nirody, mengelompokkan itu dalam program Better Work, yakni peningkatan kondisi kerja demi meningkatkan kesejahteraan dan daya saing, keuntungan, serta produktivitas perusahaan.

Program ini mengakui bahwa dalam hal pengentasan kemiskinan, pertumbuhan inklusif dan pembangunan berkelanjutan, kualitas pekerjaan sama pentingnya dengan kuantitas. Tempat kerja yang setara gender sangat penting untuk produktivitas bisnis.

Anita Nirody mengungkapkan bahwa program Better Work atau Kerja Lebih Baik itu mewakili kemitraan unik di berbagai tingkatan. Di tingkat global, antara Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) dan Korporasi Keuangan Internasional (IFC) membawa keahlian ILO dalam standar ketenagakerjaan dengan keahlian IFC dalam pengembangan sektor swasta.

Masih di tingkat global, program Better Work memiliki kemitraan dengan 37 perusahaan atau merek global di sembilan negara. Sedangkan di tingkat negara, program Better Work memiliki kemitraan dengan 216 pabrik di lima provinsi di Jawa dengan hampir 400.000 pekerja, 80% di antara mereka adalah wanita.

Program ini memiliki model pendanaan yang menarik, yaitu kombinasi kontribusi dari program global ILO, hibah dari donor, kontribusi dari merek global dan biaya untuk layanan yang diberikan oleh pabrik. Program ini bekerja di berbagai tingkatan seperti di tingkat kebijakan/makro melalui saran kebijakan dan bantuan teknis untuk memengaruhi perundang-undangan penting terkait misalnya, jaminan sosial, upah, dan lain-lain.

Di tingkat mikro (tingkat pabrik), program tersebut melakukan penilaian untuk meninjau kepatuhan terhadap undang-undang perburuhan, dan menyediakan alat, pelatihan serta pengembangan kapasitas untuk memberdayakan perempuan, mengakhiri diskriminasi di tempat kerja dan mempromosikan dialog sosial di antara para pemangku kepentingan utama.

Program ini telah mencapai hasil penting yang dibuktikan dengan peningkatan stabilitas dan kesejahteraan kerja, kondisi kerja yang lebih baik termasuk akses yang lebih baik ke layanan perawatan ibu, reproduksi dan kesehatan, dan peningkatan produktivitas dan keuntungan. "Ungaran Sari Garments mengimplementasikan program pemberdayaan pekerja perempuan dengan sangat baik. Hal itu menjadi praktik terbaik tentang pemberdayaan perempuan di pabrik garmen," ujar Anita Nirody

Sementara itu, Direktur ILO untuk Indonesia dan Timor-Leste, Michiko Miyamoto, mengatakan bahwa dialog yang baik antara manajemen, pekerja, dan serikat pekerja menjadi jalan keluar untuk meningkatkan produksi dan produktivitas kerja. Ia mengatakan bahwa Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) berkomitmen untuk mendorong manajemen mempromosikan dialog antara pekerja dan pengusaha.

"Pengusaha dan pekerja harus memperkuat dialog sosial di perusahaan untuk menghadapi tantangan ketenagakerjaan saat ini," katanya.

Terutama di era revolusi industri keempat yang berdampak pada hubungan industrial antara pekerja dan pengusaha. "Jika ada masalah, itu akan dibahas bersama dalam mengatasi masalah hubungan industrial. Dengan cara ini masalah antara pengusaha dan pekerja dapat diatasi dengan baik," kata Michiko Miyamoto.

Melalui penguatan dialog sosial, lanjutnya, pengusaha dan pekerja dapat mengatasi berbagai tantangan ketenagakerjaan dan memajukan perusahaan. "Kami sangat senang dengan upaya Ungaran Sari Garment mengenai dialog sosial. Perusahaan menyediakan saluran komunikasi bagi para pekerja dalam memberikan saran kepada perusahaan," katanya.

Perusahaan garmen menyediakan kotak saran di toilet dan kantin, diskusi mingguan atau diskusi melalui aplikasi pesan instan, Whatsapp. Upaya yang dilakukan oleh Ungaran Sari Garment, menurut dia harus ditiru oleh perusahaan lain.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

Sumber: Antara


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten