Ilmuwan Korsel Bikin Alat Tes Covid-19, Satu Menit Hasil Langsung Keluar
Ilustrasi surat hasil tes Covid-19. (Freepik)

Solopos.com, SEOUL – Peneliti di Korea Selatan membuat kemajuan signifikan dalam upaya memerangi persebaran virus corona Covid-19. Peneliti berhasil membuat biosensor berbasis transistor yang menjanjikan untuk mendeteksi SARS-CoV-2. Alat tes Covid-19 ini terbilang cepat lantaran hasilnya keluar dalam waktu kurang lebih satu menit.

Akhirnya! Indonesia Tembus Target 10.000 Tes PCR Covid-19 Perhari

Alat tes Covi-19 ini dirancang tim peneliti Korea Basic Science Institute, Korea Research Institute of Chemical Technology dan University of Science & Technology. Tim yang dipimpin Dr. Edmond Changkyun Park dan Dr. Seung Il Kim mengembangkan tes diagnostik yang lebih cepat, yakni Covid-19 FET.

Alat mereka disebut dapat menganalisis sampel pasien langsung dari tabung penyangga berisi penyeka, tanpa langkah persiapan sampel.

Dilansir Science News, Kamis (28/5/2020), sebagian besar tes diagnostik untuk SARS-CoV-2 mengandalkan teknik RT-PCR yang memperkuat RNA virus dari apusan pasien sehingga sejumlah kecil virus dapat dideteksi.

Tes PCR Drive Thru RSND Undip Semarang: Cepat, Tak Perlu Keluar Mobil

Namun, metode tersebut membutuhkan setidaknya 3 jam, termasuk langkah untuk menyiapkan RNA virus untuk dianalisis.

Para ilmuwan mendasarkan pengujian mereka pada transistor efek medan (FET), dengan selembar graphene dengan konduktivitas elektronik yang tinggi. Mereka menempelkan antibodi terhadap protein spike SARS-CoV-2 pada graphene.

Alat Tes Covid-19 Supercepat

Dilansir dari The Conversation, graphen merupakan konduktor berbentuk lembaran yang tersusun dari karbon.

Daru Seto Bagus Anugrah, dosen biotechnology Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya yang tidak terkait dengan penelitian mengatakan, bahwa Covid-19 FET bekerja dengan mendeteksi virus corona baru melalui perubahan arus listrik.

Rapid Test Covid-19 di Pasar dan Swalayan Sukoharjo: 5 Orang Reaktif

“Ketika mereka memberikan sampel protein spike murni, atau hasil pengembangbiakan virus SARS-CoV-2 ke sensor, atau sampel swab lendir dari pasien Covid-19 maka terjadi ikatan dengan antibodi pada sensor yang menyebabkan arus listrik yang mengalir lebih besar,” tulis Anugrah pada The Conversation.

“Perubahan arus inilah yang dijadikan para peneliti sebagai indikator keberadaan virus SARS-CoV-2. Kemudian mereka menguji teknik swab nasofaring yang dikumpulkan dari pasien dengan Covid-19 atau kontrol yang sehat. Hasilnya, sensor dapat membedakan antara sampel dari pasien yang sakit dan sehat,” tambahnya.

Meskipun begitu, para peneliti menyatakan bahwa tes ini mungkin tidak lebih sensitif dari RT-PCR. “Tes baru ini sekitar 2-4 kali kurang sensitif daripada RT-PCR, tetapi bahan yang berbeda dapat dieksplorasi untuk meningkatkan sensitivitasnya,” kata para peneliti.

Sumber: Suara.com


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya





Kolom

Langganan Konten

Pasang Baliho