Ilham Santoso, Manager PLN yang rajin belajar dari kritik masyarakat

Solopos.com -- Siapa pun yang menjadi Manager PLN cabang Pekanbaru acap kali dihujat masyarakat dan dikritik media terkait pemadaman listrik. Kondisi itu menyebabkan pimpinan di PLN kerap menutup info. Tapi berbeda dari Manager PLN Pekanbaru, Ilham Santoso, yang menghadapi dengan sabar dan tidak pernah menutup informasi apa pun soal PLN.

Kota Pekanbaru, ibukota Provinsi Riau, merupakan salah satu kota di Sumatera yang paling sering terjadi pemadaman listrik. Ini sehubungan Riau sangat terbatas pembangkit lisytiknya. Sehingga posisinya di jalaur interkoneksitas berada di paling ujung. Riau mendapat bantuan daya dari jaringan interkoneksitas Sumatera Bagian Tengah serta dari Sumatera Barat. Bila terjadi penurunan daya, maka salah satu sasaran yang harus menjadi korban adalah jalur interkoneksitas di Riau.

Bila sudah terjadi pemadaman, maka masyarakat pun dengan sendirinya menghujat perusahaan negara itu. Kritikan pedas pun mengalir dengan sendirinya di sejumlah media massa baik di daerah maupun media di tingkat nasional. Kondisi Riau yang selalu kekurangan daya inilah, yang menyebabkan sejumlah pimpinan PLN biasanya selalu menutup diri baik ke masyarakat apa lagi ke kalangan jurnalis.

Tapi kondisi serba menutupi informasi untuk kepentingan publik itu, sedikit demi sedikit bisa dibuka dengan kehadiran Manager PLN Cabang Pekanbaru, Ilham Santoso yang menjabat sejak Oktober 2009. Ilham yang lahir 48 tahun silam di Kalimantan Barat ini, seakan menjadi ikon di tubuh perusahaan listrik plat merah itu khususnya untuk wilayah di Riau.

Dia tidak akan pernah mau menutup akses info baik untuk kepentingan masyarakat, apa lagi terhadap jurnalis yang bertugas memberi informasi ke masyarakat. Kapan saja, tidak mengenal malam atau siang hari, HP yang dimiliki Ilham aktif 1x24 jam. Setiap masyarakat ada yang komplain atas pemadaman listrik, suami dari Nila Martini ini dengan sabar menjelaskan baik lewat telepon langsung maupun penjelasan lewat SMS ke pelanggan. termasuk kalangan wartawan. Nomor HP-nya tak pernah disembunyikan, siapa pun pelanggan yang memintanya akan diberikan dengan senang hati.

"Kadang kalau sudah listrik padam, ratusan kritikan masuk ke HP saya terutama lewat SMS. Saya akan jawab soal pemadaman itu apa adanya. Kadang ada yang menerima dengan baik kadang ada juga yang tidak mau terima. Saya tidak pernah mau menutupi apa sebenarnya yang terjadi atas pemadaman itu," kata alumnus Universitas Tanjungpura (UNTAN) di Pontianak, Kalbar itu dalam sebuah perbincangan.

Ilham bukanlah pemimpin yang hanya ongkang-ongkang kaki di balik meja dengan ruangan serba sejuk dibalut udara AC. Tak jarang ayah tiga anak ini harus begadang hanya karena adanya pemadaman di sekitar kota Pekanbaru. Sekalipun ada tim teknis yang tengah memperbaiki jaringan, dia tetap mengontrol jalannya perbaikan jaringan tersebut.

Sering saat tengah malam, Ilham mengajak sejumlah jurnalis untuk ikut bersama melihat kondisi kerusakan jaringan tersebut. "Bos, mohon maaf ada gangguan, jadi listrik kami padamkan. Sinilah kita nonkrong sambil  melihat tim tengah bekerja, tenang saja kopi panas tersedia kok," kata Ilham lewat SMS suatu saat ketika waktu sudah pukul 01.30 WIB.

Begitulah keseharian pria berdarah Melayu Kalbar ini dalam menyikapi berbagai persoalan pelik menyangkut kelistrikan. Dia mengaku menjabat pimpinan di Pekanbaru memiliki tantangan tersediri yang unik dan nyentrik. Berbagai caci maki dari pelanggan diterimanya dengan lapang dada.

Ilham juga pernah diajak stasiun TV lokal dalam acara dialog interaktif seputar pemadaman listrik yang terjadi di Pekanbaru. Dia sadar betul, acara itu nantinya akan mendapat hujatan dari para pelanggan PLN. Namun dia tetap berniat untuk menjawab semua pertanyaan yang dibutuhkan masyarakat. Padahal dari sekian banyak mantan pimpinan di PLN Cabang Pekanbaru, biasanya tidak akan mau menerima undangan berdialog di TV lokal maupun kepada media massa lainnya terkait soal pemadaman listrik.

"Saya mau berdialog, karena niat yang baik bagaimana dapat menjelaskan soal kondisi listrik yang ada saat ini. Biar masyarakat tahu bahwa kita sesungguhnya memang minim pembangkit. Kalau memang ada jaringan yang rusak, kita juga akan jelaskan secara rinci," kata Ilham.

Bagi pria yang suka bercanda dan periang ini, dengan membuka diri dapat menyaring masukan dari masyarakat. Ada saja warga yang melapor menjadi korban oknum PLN atau Biro PLN saat memasang jaringan baru.

Berbagai pengaduan soal susahnya mendapat jaringan baru yang mesti membayar mahal dari ketentuan, diladeni dengan senang hati. Semua masukan ditampung untuk ditelaah kembali di internal tempat dia bekerja.

"Tanpa membuka diri ke masyarakat saya tidak akan pernah tahu apa sebenarnya yang diinginkan pelanggan dan calon pelanggan. Dari masyarakat juga kita menerima berbagai info negatif soal staf kita di lapangan. Bila terbukti bersalah, mohon maaf saya akan mutasikan. Tapi keputusan itu kita keluarkan setelah diteliti dari berbagai sisi dengan fakta yang ada," kata Ilham yang hobi minum kopi ini.

Sekalipun pria perokok berat ini terus menerus menerima hujatan, dia tak pernah bosan. Kritikan pedas itu dengan sendirinya akan terobati bila ada pelanggan yang berkirim SMS sekedar memberitahukan bahwa listrik di tempat mereka telah menyala.

"Terima kasih pak, listrik ditempat kami sudah menyala." Isi SMS seperti itu dari pelanggan memberi kepuasan tersendiri baginya. "Kalau sudah terima SMS seperti kalimat itu, saya pun enak tidur," tutur peraih sarjana Teknik Elektro tahun 1992 itu sembari tertawa.

Dalam sistem kerja, Ilham juga kadang dikenal suka 'nyeleneh'. Dia selalu membuat gebrakan soal penyambungan baru di tengah masyarakat. Bila dianggapnya ada tambahan daya dari jalur interkoneksitas, Ilham tidak segan-segan untuk melakukan penyambungan baru. Padahal risikonya sangat besar, bisa terjadi pemadaman. Tapi baginya, soal pemadaman bukan menjadi kendala untuk melakukan penyambungan.

Walaupun kadang Ilham menyadari gebrakannya berisiko mendapat teguran pimpinan. Niatnya sederhana saja, bahwa masyarakat cepat atau lambat harus dapat menikmati listrik. Kondisi listrik di Riau memang sangat memprihatikan dibanding kondisi kelistrikan di sejumlah daerah di Jawa. Riau selaku daerah kaya akan sumber daya alam, menurut Ilham, kondisi kelistrikannya baru terpasang 45 persen. Artinya, lebih dari separuh penduduk di Riau belum menikmati listrik.

(dtc/try)



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya






Kolom