Seorang warga Desa Guwo, Kecamatan Wonosegoro, Boyolali, mengambil air bersih dari belik yang digali dari aliran anak Sungai Serang di desa setempat, Jumat (22/11/2019). (Solopos-Nadia Lutfiana Mawarni)

Solopos.com, BOYOLALI -- Anak Sungai Serang yang melintasi sejumlah daerah di Boyolali utara menjadi andalan warga di musim kemarau meski kondisinya mengering. Saban tahun, sungai yang kering digali lagi untuk menemukan belik kecil guna memenuhi kebutuhan air bagi warga setempat.

Dilihat dari jembatan Desa Guwo, Kecamatan Wonosegoro, Boyolali, keringnya Sungai Serang memungkinkan warga membuat satu jalur khusus yang bisa dilalui sepeda motor. Sepeda motor yang leluasa turun kali memudahkan warga mencari sumber-sumber air yang tersisa.

Kabar mengenai datangnya musim hujan di bulan November tak serta merta membuat warga bisa bernapas lega. Sepeda motor masih terlihat bolak-balik kali mengangkut air dari sebuah belik kecil yang menjadi sumber penunjang kehidupan warga.

Di sepanjang aliran Sungai Serang di wilayah perbatasan Desa Guwo dan Desa Bojong, Wonosegoro itu, belik di bawah tebing sungai jadi satu-satunya sumber mata air. Sementara di samping belik sebuah genangan dengan diameter lebih besar gampang terlihat. Kendati begitu, warga tetap memilih mengambil air dari dalam belik.

Salah satu warga Guwo, Sunarso, mengatakan warga membuat sekat antarbelik dan genangan sungai menggunakan batu kali. Tujuannya agar air yang diambil warga untuk kebutuhan konsumsi rumah tangga tetap terjaga kebersihannya. Batu-batu kali tampak ditumpuk hingga menyisakan lubang-lubang kecil antara belik dan genangan air.

Air dari genangan bakal masuk ke belik melewati lubang itu. Harapannya kotoran seperti lumut dan hewan-hewan sungai tak terbawa air. Jika diamati lebih jauh, air dari dalam belik pun berwarna lebih bening ketimbang air genangan yang cenderung kehijauan.

Sunarso menambahkan genangan itu makin melebar setelah hujan turun kira-kira tiga kali di Guwo selama awal musim penghujan. Meski belum banyak dampak yang dirasakan, namun Sunarso mengakui sebagian sumur mulai terisi.

“Sekarang bisa kami bagi, air dari kali untuk mencuci sementara yang dari sumur digunakan untuk memasak,” kata dia ketika ditemui di Sungai Serang Jumat (22/11/2019) lalu.

Hal senada juga diungkapkan warga lain, Suminah. Sejak musim hujan datang, warga tak sepenuhnya menggantungkan kebutuhan air dari belik. Dia mengatakan meski konsumsi air sungai dilakukan sekitar enam bulan lamanya, namun tidak ada masalah kesehatan berarti.

“Alhamdulillah semua keluarga sehat,” kata dia.

Sebelumnya, merujuk data Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) diperkirakan musim hujan di sebagian daerah di Indonesia akan berlangsung mulai awal November, termasuk di Boyolali. Prakiraan ini mundur satu bulan dari prediksi awal di awal Oktober.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten