Kondisi Sungai Ledeng di Mojokerto yang tertutupi limbah berupa usus ayam dan sampah rumah tangga. (detik.com)

Solopos.com, MOJOKERTO -- Pemandangan menjijikkan tersaji di Sungai Ledeng di Mojokerto. Permukaan sungai ini tertutup sampah rumah tangga bercampur limbah usus ayam. Panjang permukaan sungai yang tertutup sampah sekitar 200 meter.

Lokasi sungai ini tepatnya ada di Dusun Sememi, Desa Modopuro, Kecamatan Mojosari, Kabupaten Mojokerto. Permukaan sungai dengan lebar 6 meter itu tertutup sampah yang membuat airnya tidak terlihat.

Seperti dikutip dari detik.com, Rabu (6/11/2019), sampah yang menutupi permukaan sungai itu kebanyakan sampah rumah tangga berupa plastik serta limbah usus ayam. Praktis, sungai ini mengeluarkan bau busuk yang cukup menyengat.

Salah seorang warga setempat, Afandi, 50, mengatakan limbah berasal dari industri rumahan pencucian usus ayam. Menurut dia, delapan industri rumahan di Desa Modopuro membuang kotoran dan lemak dari usus ayam langsung ke Sungai Ledeng.

Usus yang telah dibersihkan biasa diolah kembali menjadi makanan ringan dan sate usus. Kemudian warga juga masih terbiasa membuang sampah rumah tangga ke sungai.

"Sudah terjadi selama 10 tahun lebih. Kotoran dan lemak-lemaknya langsung dibuang ke sungai," kata Afandi kepada wartawan di lokasi, Selasa (5/11/2019).

Tidak hanya jadi pemandangan yang menjijikkan, Sungai Ledeng di Dusun Sememi juga mengeluarkan bau busuk yang cukup menyengat. Terlebih lagi saat musim kemarau.

"Baunya ampun kalau kemarau. Kalau turun hujan, tidak terlalu bau," ujar Afandi.

Warga Dusun Sememi lainnya, Sunari, 69, menuturkan hal yang sama. Para pekerja industri rumahan pencucian usus ayam, menurutnya, biasa membuang limbah ke parit. Menurut dia, dari parit tersebut, limbah terbawa air ke Sungai Ledeng.

"Para pengusaha usus ayam membuang limbahnya ke sungai ini karena tidak ada tempat lain," ujarnya.

Sementara itu, Edi, warga Dusun Sememi, menjelaskan sampah dan limbah menutupi permukaan Sungai Ledeng sejak sekitar 11 tahun yang lalu. Sebelum itu, air sungai ini masih terlihat jernih.

"Kondisi seperti ini sudah 11 tahun dirasakan warga," terangnya.

Sungai Ledeng memisahkan Dusun Sememi dengan Dusun Bangsri di Desa Modopuro. Sungai ini mengalir ke Sungai Sadar. Namun saat ini aliran Sungai Ledeng terhambat pembangunan plengsengan Sungai Sadar.

Limbah berwarna putih seperti lemak di Sungai Ledeng berasal dari parit-parit yang berada di depan permukiman penduduk maupun di tepi lahan pertanian. Limbah terbawa air mengalir ke Sungai Ledeng.

Tidak hanya itu, limbah dari peternakan bebek di Desa Modopuro juga dibuang para peternak ke parit yang mengalir ke Sungai Ledeng. Kotoran dari peternakan bebek membuat air parit berwarna merah dan berbau tak sedap.

"Limbah pengolahan usus dibuang warga ke parit, lalu dari parit mengalir ke Sungai Ledeng," kata Sunari, 69, warga Desa Modopuro, kepada wartawan saat melihat kondisi Sungai Ledeng, Rabu.

Desa Modopuro menjadi sentra industri rumahan keripik usus dan peternakan bebek. Para pemilik home industry mengolah usus ayam menjadi makanan ringan. Proses pencucian usus ayam inilah yang disinyalir menghasilkan limbah berbau tak sedap.

Sementara itu, limba tersebut tidak cuma membuat Sungai Ledeng tercemar, tapi membuat air tanah warga di sekitarnya menjadi berminyak. Seperti air di kamar mandi musala yang dikelola Afandi. Air tersebut bersumber dari pompa air yang dibor sekitar 5 meter dari Sungai Ledeng.

"Airnya menjadi berminyak, tapi tidak bau," pungkasnya.

Sumber: Detik.com


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten