Tutup Iklan

Iga Bakar Pak Wid Boyolali Kini Hadir di The Park Mal Solo

The Park Solo konsisten menghadirkan kuliner tradisional dengan menggandeng dua tenant baru di Food Park, sejak Desember 2018. Pertama, Warung Iga Bakar Pak Wid asal Boyolali dan kedua, Warung Makan Sunda Bu Momoh. Keduanya siap memanjakan lidah pengunjung yang ingin mencicipi masakan khas daerah.

Iga Bakar Pak Wid Boyolali Kini Hadir di The Park Mal Solo

SOLOPOS.COM - Owner warung Iga Bakar Pak Wid menyajikan menu andalan seperti iga bakar, sop iga, dan iga gongso, di Food Park The Park, Jumat (25/1/2019). (Solopos-Farida Trisnaningtyas)

Solopos.com, SUKOHARJO – The Park Solo konsisten menghadirkan kuliner tradisional dengan menggandeng dua tenant baru di Food Park, sejak Desember 2018. Pertama, Warung Iga Bakar Pak Wid asal Boyolali dan kedua, Warung Makan Sunda Bu Momoh. Keduanya siap memanjakan lidah pengunjung yang ingin mencicipi masakan khas daerah.

Owner Warung Iga Bakar Pak Wid, Wening Tri Dewi, mengatakan pembukaan cabang baru rumah makan yang hits di Boyolali di mal ini adalah kali pertama. Menurutnya, ini menjadi ekspansi ketiga setelah di Jaten, Karanganyar dan sempat buka di Jakarta.

“Kami ingin melebarkan sayap dengan mencoba pasar di mal. Apalagi banyak pelanggan kami dari luar daerah yang mengharapkan kami buka dekat dengan mereka. Gayung bersambut, ada tawaran di mal, akhirnya kami ambil,” ujarnya, kepada wartawan, Jumat (25/1/2019).

Wening merupakan generasi kedua pemilik Warung Iga Bakar Pak Wid, yakni Widadi, sang ayah. Sebelumnya, di pusatnya di Boyolali warung makan iga bakar ini sempat berganti-ganti nama. Mulai dari Iga Bakar Bu Emma, Iga Bakar Merapi, hingga akhirnya menggunakan nama sang ayah sebagai branding, Iga Bakar Pak Wid.

Kini, ia dan sang suami lah, Medi Ramadian, yang mengelola tenant baru di The Park ini. Sedangkan cabangnya di Jaten, Karanganyar, dipegang sang kakak.
Di sisi lain, menu yang disuguhkan di Warung Iga Bakar Pak Wid ini tak jauh beda dengan di pusat. Akan tetapi, ada beberapa modifikasi menu. Masakan khasnya adalah iga bakar, iga goreng, iga gongso, dan sop iga. Masing-masing menu ini ada porsi besar dan kecil. Misalnya, iga bakar besar dibanderol dengan harga Rp49.500, iga bakar kecil Rp38.500, iga goreng besar Rp49.500, iga goreng kecil Rp38.500, sop iga besar Rp49.500, dan sop iga kecil Rp38.500.

“Bedanya, kalau di Boyolali paketannya itu iga bakar, sop, dan nasi, sementara di sini iga bakar, nasi, plus sambal penyet. Selain itu, hanya di tenant mal yang ada bakso iga,” imbuhnya.

Jika mau mencicipi masakan Sunda, pengunjung The Park bisa mencoba Warung Makan Sunda Bu Momoh yang buka dua bulan lalu di Food Park. Sang pemilik, Tommy Tanudjaja, menjamin aneka masakan Sunda yang dijajakannya, otentik.

“Saya ingin menyajikan masakan khas Sunda di pasar Solo itu seperti apa. Ternyata respons masyarakat bagus. Rasanya saya bikin seotentik mungkin agar masyarakat di Solo bisa mencicipi masakan asli Sunda di sini,” kata sang owner yang asli Tasikmalaya, Jawa Barat ini.

Beragam menu Sunda yang bisa dinikmati pengunjung, yakni ayam goreng bumbu kuning, pepes ikan nila, karedok, empal gepuk, dan mie kocok. Menurutnya, biasanya untuk pepes ikan ini semestinya menggunakan ikan mas, tapi di sini ia memilih ikan nila. Begitu pula dengan karedok. Aslinya, timun yang dipakai adalah ukuran kecil, tapi di sini ia ganti dengan yang besar.

“Ada beberapa menu yang dimodifikasi menyesuaikan bahan-bahannya, tapi rasanya tetap otentik,” ungkapnya.
Harganya, semangkuk mie kocol dibanderol di angka Rp25.000, sementara empal gepuk Rp35.000, ayam goreng bumbu kuning Rp33.000, dan pepes ikan Rp35.000.

Sementara itu, Public Relation Staff The Park, Christina Tri Mawarti, menambahkan adanya dua tenant baru di Food Park ini menambah referensi kuliner bagi pengunjung.

“Kami juga memanjakan loyal customer The Park dengan promo cash back 30% bagi pengunjung yang bertransaksi menggunakan aplikasi Gopay,” jelasnya. 

Berita Terkait

Berita Terkini

Begini Komitmen Indonesia Turunkan Angka Pekerja Anak

Indonesia tak lelah berupaya menurunkan angka pekerja anak, tetapi bagaimana sebenarnya wujud komitmen Indonesia menumpas pekerja anak?

Indonesia Desak Gerakan Non Blok Dukung Kemerdekaan Palestina

Indonesia melalui Menlu Retno Marsudi dalam Pertemuan Luar Biasa Komite Gerakan Non Blok atau GNB meminta dukungan kemerdekaan Palestina.

Tenda Darurat di RSUD Tugurejo Diisi Pasien Berpenyakit Penyerta

RSUD Tugurejo Semarang terpaksa mendirikan tenda darurat untuk merawat pasien Covid-19 yang membeludak sehingga tak tertampung.

Sering Bersin Ciri Penerima Vaksin Kena Covid-19

Seseorang yang sudah mendapatkan vaksinasi Covid-19 masih harus tetap menghindari virus corona pemicu Covid-19.

Solo Bersiap Terapkan Jam Malam

Meningkatnya penularan virus corona di wilayah eks Karesidenan Surakarta membuat Pemkot Solo berencana menerapkan jam malam Covid-19.

Dompet Cekak, Mungkinkah Jakarta Disuntik Dana Sri Mulyani?

Dompet Jakarta terlampau cekak untuk menggerakkan iklim membangun sehingga harus mengharap disuntik dana dari Menkeu Sri Mulyani.

Korsel Gencarkan Vaksinasi, Jumlah Pasien Kritis Covid-19 Menurun

Korea Selatan atau Korsel menyatakan efek vaksinasi virus corona pencegah Covid-19 mulai terlihat pada penurunan jumlah pasien kritis.

Kendaraan Listrik Diramalkan Capai Puncak Penjualan 2033

Kendaraan listrik global diramalkan mencapai puncak penjualan tahun 2033 yang berarti lima tahun lebih awal daripada perkiraan sebelumnya.

Malaysia Targetkan Vaksinasi 60% Penduduk

Pemerintah Malaysia menargetkan dapat melakukan vaksinasi terhadap 60% penduduk dengan deadline akhir September 2021.

Panen Hadiah Simpedes BRI Klaten Diundi, Ini Nasabah Yang Beruntung Dapat Honda Mobilio

Bank BRI Cabang Klaten menggelar penarikan undian panen hadiah Simpedes periode II dengan hadiah utama satu unit mobil Honda Mobilio.

Kronologi Munculnya Klaster Takziah Covid-19 di Kabupaten Pasuruan

Satgas Covid-19 Kabupaten Pasuruan menemukan klaster takziah di Desa Dayurejo, Kecamatan Prigen. Ada 21 orang positif terpapar Covid-19.