Kelompok tari Sahita (JIBI/Solopos/Dok.)

Solopos.com, SOLO — Maraknya program acara televisi yang menampilkan berbagai bentuk kesenian tradisional Jawa beberapa tahun belakangan ini, membuat sejumlah seniman asal Kota Bengawan kebanjiran tawaran untuk turut serta tampil di layar kaca. Wajah seniman yang biasanya mengisi panggung hiburan Kota Solo pun kini silih berganti mewarnai layar televisi.

Menyajikan seni tradisional di televisi bagi sejumlah seniman idelis rupanya bukan barang mudah. Meskipun telah diberikan kompensasi finansial, namun sisi idealis mereka sebagai pekerja kreatif tak bisa dikorbankan.

Salah satunya bagi pegiat teater tari Sahita. Kelompok seni yang terdiri atas Inong, Sri Lestari Cempluk, Thing Thong, dan Atik ini mengaku harus pintar-pintar mempertahankan idealisme mereka sebagai bagian pelestari kesenian tradisional. “Kami punya problem saat tampil di televisi. Kebanyakan para produser sulit menerima kehadiran budaya tradisional, maunya yang populer saja. Kami harus eret-eretan [tarik-tarikan] konsep dengan penggagas acara,” terang Cempluk, saat berbincang di Wisma Seni Taman Budaya Surakarta, Rabu (5/2/2014).

Cempluk mencontohkan pembuat program acara kerap menuntut personel Sahita untuk menampilkan lagu dalam bahasa Inggris atau Indonesia yang saat ini sedang digandrungi anak muda. Padahal, lanjutnya, mereka berharap bisa membawakan lagu berbahasa Jawa sesuai konsep cerita yang mereka usung.

“Dalam durasi dua sampai tiga menit itu, biasanya kami bikin medley lagu tuntutan mereka digabung dengan lagu berbahasa Jawa. Kami juga menyelipkan sisi tradisional pada busana dan tarian. Sisi idealisme kami bisa diselipkan di situ,” ujarnya.

Berangkat dengan konsep teater tari yang tak jarang menampilkan parodi di atas panggung, kelompok kesenian yang berdiri pada 2001 lalu ini juga menolak melakoni gojekan berbau slapstik (candaan fisik). “Adegan yang slasptik kami tegas menolak, karena kami juga ibu. Kalau usulan gojekan wajar [sesuai norma kesopanan] masih kami garap,” bebernya.

 

Negosiasi

Lewat formula mengambil “jalan tengah” dengan gaya Sahita tersebut, hingga kini kelompok seni ini masih dipercaya mengisi acara sebagai bintang tamu di sejumlah televisi. Sebut saja program berating tinggi seperti YKS, Showimah, Bukan Empat Mata, hingga Hitam Putih pernah mereka sambangi.

Senada dengan Sahita, pesinden Sruti Respati yang dipercaya mengisi sejumlah acara di jam tayang utama di televisi juga enggan mengorbankan idealismenya sebagai seniman yang berangkat dari seni tradisional. “Saya enggak mengorbankan idealisme. Tapi menyinergikan dengan tuntutan di dunia hiburan televisi. Secara pribadi saya punya misi yang membutuhkan kemapanan industri televisi. Saya ingin local wisdom kita yang selama ini saya tampilkan bisa menginspirasi generasi muda,” ujarnya.

Sruti mengungkapkan selama ini industri televisi kerap menuntutnya tampil menanggalkan bahasa Jawa, konde, atau kebaya yang selama ini lekat dengan dirinya. Tapi dirinya memilih berdamai dengan negosiasi agar idealismenya bisa terakomodasi.

Bargaining seperti itu terjadi setiap saat. Saya memilih berdamai sambil negosiasi. Misalnya saya dituntut pakai pakaian senam saat menyanyi, saya mau tapi rambut tetap disanggul. Saat dituntut jadi DJ, saya juga tetap tampil dengan kebaya dan konde. Tapi tetap saat ini saya pakai bahasa Jawa halus dengan aksen medok,” pungkasnya.

Meskipun tarik ulur tradisi-populer di belakang layar televisi terus bergulir, namun konsistensi sejumlah seniman berbasis tradisi yang enggan menanggalkan identitas kulturalnya ini agaknya memang menjadi magnet tersendiri. Hingga kini, mereka masih dipercaya mengisi sejumlah acara di televisi.

 


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten