Tempat tinggal F, 6, di Desa Tanduk, Kecamatan Ampel, Boyolali, Selasa (16/7/2019). (Solopos/Akhmad Ludiyanto)

Solopos.com, BOYOLALI -- Psikolog asal Solo, Susatyo Yowono, menilai tindakan https://soloraya.solopos.com/read/20190716/492/1005997/makam-bocah-boyolali-dibongkar-orang-tuanya-diperiksa-polisi" title="Makam Bocah Boyolali Dibongkar, Orang Tuanya Diperiksa Polisi">penganiayaan yang dilakukan SW, 30, wanita yang tinggal di Desa Tanduk Kecamatan Ampel, Boyolali, terhadap anak kandungnya, F, 6, hingga meninggal dunia bisa dilatarbelakangi berbagai masalah.

Masalah tersebut misalnya hubungan dengan pasangan, masalah ekonomi, dan sebagainya.

“Kemungkinannya bisa jadi karena psikologis pelaku yang mengalami stres atau depresi. Tetapi sumbernya ini bisa macam-macam, misalnya konflik dengan pasangan, atau masalah ekonomi, atau problem masa lalu yang belum selesai,” ujarnya kepada solopos.com, Kamis (18/7/2019).

Susatyo Yuwono menambahkan masalah-masalah tersebut jika disimpan terus-menerus dalam waktu lama pada suatu saat bisa meledak. Bentuknya bisa beragam, bisa dalam bentuk perilaku yang tidak terprediksi.

“Misalnya yang biasanya tidak melakukan kekerasan, tiba-tiba jadi suka melakukan kekerasan,” beber dia. 

Disinggung mengenai sasaran pelaku yang merupakan anak kandung sendiri, Susatyo mengatakan hal itu bisa saja terjadi sebab orang yang paling dekatlah yang menjadi sasaran.

Atau jika https://news.solopos.com/read/20190717/496/1006159/berita-terpopuler-pembongkaran-makam-bocah-leh-polres-boyolali" title="Berita Terpopuler: Pembongkaran Makam Bocah oleh Polres Boyolali">penganiayaan itu sebelumnya sudah ada dorongan, saat itu dia tidak berani melakukannya kepada orang yang setara atau lebih besar, sehingga dia akan melampiaskannya kepada orang yang lebih lemah.

Pada sisi lain, pengakuan sementara tersangka kepada polisi, pelaku menganiaya anaknya karena rewel. Menurut Susatyo, pengalaman sebagai ibu yang sudah mengurus anak bertahun-tahun tidak bisa menjadikan rewel sebagai alasan melakukan kekerasan.

“Tapi mungkin memang kondisi psikologis yang dialami ibu ini sekarang terlalu berat sehingga tak mampu menahan kerewelan anaknya, kemudian menganiaya. 

Diberitakan, kekerasan yang dilakukan SW kepada F terbilang sadis.  Berdasarkan keterangan tersangka kepada polisi, Senin (8/7/2019) dan Selasa (9/7/2019) http://soloraya.solopos.com/read/20190716/492/1005906/makam-bocah-6-tahun-di-semarang-dibongkar-polisi-boyolali-ada-apa" title="Makam Bocah 6 Tahun di Semarang Dibongkar Polisi Boyolali, Ada Apa?">tersangka mencubit korban di beberapa bagian badan.

Kekerasan ini masih berlanjut pada Rabu (10/7/2019) sekitar pukul 22.00 WIB hingga Kamis (11/7/2019) dini hari. Saat itu SW kembali melakukan kekerasan kepada anak kandungnya itu dengan cara memukul perut, bahkan membenturkan kepala F ke lemari.

Tulis Komentar Anda

Berita Terkait

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten