Ibu Berbuku
Hanputro Widyono/Istimewa

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (22/12/2018). Esai ini karya Hanputro Widyono, redaktur sebaran bahasa Katebelece. Alamat e-mail penulis adalah hanputrowidyono@gmail.com.

Solopos.com, SOLO -- Perempuan pernah begitu menggilai buku-buku. Leslie Stephen (dalam Sapardi Djoko Damono, 1979) mengatakan berkembangnya perpustakaan di Inggris sesudah 1740 berdampak pada cakupan “masyarakat pembaca” tak hanya terbatas pada kelas bangsawan.

Anak-anak sekolah, petani, pelayan, babu, tukang sepatu, tukang roti, dan pekerja atau profesi lainnya yang bergaji rendah terjangkiti wabah membaca buku. Banyak di antara pembaca baru tersebut adalah kaum perempuan. Para perempuan itu biasanya para istri yang tak harus membantu pekerjaan suami.

Mereka hanya di rumah. Waktu luang yang tersisa dari aktivitas memberesi rumah membuat perempuan-perempuan di Inggris jadi getol membaca. Perhatian mereka lebih banyak tertuju pada novel. Babu-babu yang kebetulan bekerja pada keluarga kaya juga memiliki kesempatan membaca buku yang lebih menggembirakan.

Fasilitas lampu yang dimiliki tuan mereka membuat mereka mungkin membaca buku pada waktu malam tanpa harus memikirkan biaya listrik atau harga lilin yang mahal. Potret kegilaan membaca buku para babu di Inggris masa itu sempat diabadikan dalam novel Pamela garapan Richardson. Pamela adalah seorang babu yang pandai dan jujur.

Sejak di rumah majikan, Pamela mulai gandrung membaca. Suatu ketika, tuannya bersikap kurang ajar kepada Pamela. Peristiwa itu membuat Pamela memutuskan pergi dari rumah majikannya. Hal itu bukanlah satu-satunya alasan. Yang lebih menarik bagi Pamela untuk pergi adalah keinginan mendapatkan waktu lebih banyak untuk membaca.

Buku-buku menjadi barang ajaib yang menyihir perempuan-perempuan di Inggris yang sebelumnya lebih banyak dibaca kaum Adam. Lain di Inggris, lain pula di India. Di negerinya Mahatma Gandhi itu buku-buku hanya menjadi konsumsi laki-laki. Suatu buku bisa menjadi warisan turun-temurun yang diturunkan ayah kepada anak laki-laki.

Pusaka

Buku yang diwariskan itu mungkin setara dengan pusaka-pusaka kerajaan. Selain bernilai sejarah, pasti juga berharga. Simaklah pengakuan Koli, tokoh perempuan dalam novel Homeless Bird (Gloria Whelan, 2012), saat melihat ayah mertuanya yang miskin membaca buku,”Satu-satunya saat ayah mertuaku terlihat hidup adalah saat dia membaca buku”.

Buku-buku membuat hidup seorang yang didera kemiskinan menjadi bergairah. Pandangan sebaliknya justru datang dari kaum perempuan India. Mereka lebih banyak mencurigai buku-buku dan memperlakukan buku-buku itu seakan-akan adalah kalajengking yang akan menyengat.

Perempuan yang membaca buku dianggap orang-orang yang malas, tapi Koli, perempuan muda yang baru saja diajari membaca oleh ayah mertuanya, telah terpengaruh buku-buku yang dia baca. Koli yang penurut itu kemudian berubah menjadi pemberontak agar dirinya tak melulu ditindas oleh ibu mertuanya.

Kegilaan Koli pada buku dia buktikan dengan kerelaan menukar sepasang anting-anting perak, satu-satunya harta peninggalan orang tuanya, dengan seeksemplar buku puisi Rabindranath Tagore. Kisah itu seakan-akan menjelaskan ada hal-hal di dalam buku yang tak bisa diukur dengan uang atau barang berharga lainnya.

Menyimak Koli mengingatkan kita pada Kartini, perempuan Jawa yang mendobrak tradisi patriarki akibat bacaan. Pramoedya Ananta Toer lewat buku Panggil Aku Kartini Saja (2012) t menghadirkan episode-episode keakraban Kartini dengan buku.

Kartini lahir di keluarga ningrat. Itu membuat Kartini bisa mendapat pendidikan bersama anak-anak Belanda. Ia tak perlu bekerja keras di ladang atau sawah layaknya perempuan-perempuan miskin pada masa itu. Keadaan yang menguntungkan itu membuat Kartini dan saudara-saudaranya memiliki banyak waktu luang.

Barang Ganjil

Waktu luang dimanfaatkan Kartini untuk membaca pelbagai buku yang tak mudah pula untuk didapatkan. Tempat tinggalnya, Jepara, cukup terpencil pada masa itu. Buku-buku yang dia pesan di sebuah toko buku belum tentu ada dan terkadang mesti menunggu berbulan-bulan untuk satu buku yang dikirim melalui pos laut dari Belanda.

Selama hidupnya yang singkat itu Kartini (1879-1904) telah membaca Max Havelaar dan Minnebrieven garapan Multatuli, Java karangan Pieter Johannes Vert, Eline Vere racikan Couperus (Louis Marie Anne), De Kline Johannes oleh Van Eeden (Frederik), Inwijding-nya Vosmaer (Cerel), Moderne Vrouwen karya Jeannette van Riemsdijk.

Ia juga membaca Hilda van Suylenburg dari C. Goekoop de Jong, Bartold Meryan gubahan Huygens, Moderne Maagden karangan Marcel Prevost, De Wapent Neergelegd racikan Bertha von Suttner, Quo Vadis? oleh Henryk Sienkiewicz, Wij Beiden karya Edna Lyall (Ada Ellen Bayle), De Vrouw en Sosialisme karangan August Bebel, sajak-sajak De Genestet (Petrus Augustus), dan masih banyak lainnya.

Buku-buku itulah yang memengaruhi pemikiran Kartini ihwal situasi sosial masyarakat sekitarnya, pendidikan kaum perempuan, agama, poligami, dan kebebasan kaum perempuan yang perlu diubah agar setara dengan lelaki.

Di Inggris, India, dan Indonesia, dalam situasi sulit masa lalu yang lebih didominasi kaum lelaki, buku-buku telah memberikan kesadaran soal arti hidup pada kaum perempuan. Catatan itu mungkin bukan alasan bagi puluhan perempuan berstatus ibu mendatangi Balai Soedjatmoko Solo pada 18 Desember 2018.

Malam itu mereka datang dengan kesadaran merayakan Hari Ibu 22 Desember 2018 dengan berbuku. Mereka mengobrolkan buku berjudul Tulisan Itu “Ibu” (2018) yang berisi pengakuan-pengalaman 17 perempuan dari pelbagai latar kehidupan menjalani peran sebagai seorang ibu.

Peristiwa singkat itu membuktikan bahwa dalam peradaban modern yang serbateknologi sekarang ini buku tak terus-menerus jadi barang ganjil bagi kaum perempuan.

Saya berharap agar kegilaan membeli buku tak kalah dari kegilaan mengoleksi baju, kosmetik, tas, sepatu, parfum, dan barang lainnya agar kecanduan membaca buku tak kalah dengan kecanduan bergosip atau bermedia sosial. Selamat Hari Ibu.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya



Kolom