Ibadah Natal di Gereja Tertua Solo
Gereja Protestan Indonesia Penabur di Bundaran Gladag, Solo. (Solopos/Mariyana Ricky P.D.)

Solopos.com, SOLO -- Hujan deras mengguyur kawasan Solo dan sekitarnya, Selasa (25/12/2018) pagi. Kidung Natal bergema di dalam Gereja Kristen Jawa (GKJ) Margoyudan, Jl. Monginsidi No. 44, Gilingan, Solo.

Seribuan orang jemaat sepuh dan remaja memadati kursi ruangan yang meluas hingga halaman gereja. Kajang menjadi peneduh sementara hujan terus saja turun.

Pdt. Tanto Kristiono dan Pdt. Nugroho Hadiwibowo memimpin ibadah Natal dalam bahasa Jawa. Yesus Kristus Hikmat Bagi Kita menjadi tema. Nuansa penuh kedamaian memeluk seluruh jemaat yang berdoa.

April lalu, Gereja Margoyudan baru berulang tahun ke-102. Umur itu menandai lamanya Perkabaran Injil (PI) memasuki wilayah Sala.

Sejak 2013, Pemkot Solo telah menetapkan arsitektur bangunan gereja sebagai cagar budaya. Gedung utama berupa joglo memanjang dengan enam pasang tiang yang membentuk pilar.

Di dinding atas altar bertuliskan ayat Alkitab yang dialihbahasakan ke bahasa Jawa, berbunyi, “He, para wong kang kesayahan lan kamomotan, padha mrenea. Aku bakal gawe ayemmu.”

Penggalan ayat Mateus 11:28 itu berarti, “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.”

Di bangunan luar, tampak lambang bintang daud di atas sengkalan berbunyi "Rasa Manunggal Binukeng Gusti". Kalimat itu berarti 6191 yang dibaca dari kanan ke kiri 1916, tahun berdirinya Gereja Margoyudan.

Suwitasi Kusumo Dilogo, dalam bukunya Satu Abad GKJ Margoyudan, menerangkan perjalanan PI di Solo merupakan andil besar sosok bernama Ishak Karsa. Sebelum Gereja Margoyudan berdiri, agama Kristen masih dirasa asing bagi warga Solo.

Kegiatan keagamaan dilarang oleh Raja Keraton Kasunanan Surakarta dan Pemerintah Kolonial Belanda. Aktivitas berlangsung sembunyi-sembunyi. Pendirian sekolah kristen (kini SD Kristen Banjarsari) yang lantas berkembang kemudian menjadi dasar pengajuan izin.

Gubernur Jenderal A.W.F. Idenburg yang menjabat 1909-1916 meminta izin kepada Raja Solo saat itu Paku Buwono X dan Raja Pura Mangkunegaran VI. Izin itu lantas keluar sehingga sejak 1910, Surakarta secara resmi terbuka untuk PI.

Sejarawan Hery Priyatmoko mengatakan izin yang semula tidak keluar disebabkan kekhawatiran terhadap dampak dipaksakannya zending memasuki daerah Kasunanan yang akan merugikan kepentingan kolonial. Rencana penyebaran Kristen di Solo sudah dimulai pada 1890 namun ditolak oleh residen karena bisa mengganggu ketertiban.

Raja Keraton Solo saat itu, Paku Buwono (PB) X, juga melarang aktivitas zending ini dengan alasan orang Jawa yang memeluk Kristen kelak akan menjadi kawula pemerintah kolonial.

“Saat izin diberikan awal abad XX kepada Pendeta D. Bakker, para pemuka agama bergerak menyasar masyarakat pribumi lewat misi sosial, di antaranya selain sekolah, juga mendirikan rumah sakit dan perpustakaan,” kata dia, Selasa.

Hery mengatakan GKJ Margoyudan bukanlah gereja pertama di Kota Bengawan. Sebelumnya, Pemerintah Kolonial Belanda membangun Gereja Kristen di Kawasan Gladag pada akhir Perang Diponegoro sekitar 1832.

Ruang ibadah itu konon hanya dipakai kaum Eropa dan tentara yang bertugas di Benteng Vastenburg. “Gereja itu bukan untuk bangsa pribumi. Komunitas Eropa, terlebih serdadu di Benteng Vastenburg sering dilanda kesepian dan perlu siraman rohani. Jadi sudah menjadi tradisi dalam dunia penjajahan Bangsa Eropa, para pemuka agama diikutsertakan dalam kegiatan ekspansi,” tuturnya.

Di masa kini, bangunan yang sempat diberi nama Gereformeerd Kerk ini menjadi Gereja Protestan Indonesia Penabur (GPIB). Kekhasan lonceng di menara bagian depan gereja, konon hanya ada lima di dunia.

Ibadah Natal di GPIB berlangsung Selasa pukul 08.00 WIB dengan pelayan firman Pdt. Neil Lolita Napitupulu dihadiri oleh 500-an orang jemaat.

Avatar
Editor:
Suharsih


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya






Kolom