Human Zoo, Saat Manusia Jadi Objek Tontonan Layaknya Binatang

Masyarakat modern menjadikan kebun binatang sebagai media tontonan atau wahana hiburan. Namun, manusia juga pernah diberlakukan sebagai objek tontonan pengunjung layaknya hewan di kebun binatang.

 Suku Igrot asal pedalaman Filipina jadi objek tontonan di AS. (cbc.ca)

SOLOPOS.COM - Suku Igrot asal pedalaman Filipina jadi objek tontonan di AS. (cbc.ca)

Solopos.com, SOLO Masyarakat modern menjadikan kebun binatang sebagai media tontonan atau wahana hiburan. Namun, manusia juga pernah diberlakukan sebagai objek tontonan pengunjung layaknya hewan di kebun binatang.

Sejarah kelam terkait “kebun binatang” manusia itu jamak terjadi pada akhir abad ke-19. Dilansir dari cbc.ca, Jumat (1/7/2022), pada akhir abad ke-19 pameran koloni manusia menjadi populer di dunia Barat. Pertunjukan ini memungkinkan orang Barat untuk melihat orang asing yang sebelumnya hanya mereka dengar. Saat orang dari suku asing itu didatangkan, mereka akhirnya menjadikannya sebagai tontonan.

Prancis memiliki Situs Pertanian Jardin d’Acclimatation yang ditujukan untuk budidaya tanaman dari kerajaan besar negara itu. Namun, pada 1907, taman itu kemudian menjadi desa-desa adat yang dihuni koloni manusia dari ras berbeda.

Espos Plus Lainnya

+ PLUS Soloraya Ladang Ranjau dan Aksi Peledakan Jembatan Pascakemerdekaan 

Perjuangan mempertahankan kemerdekaan di wilayah Soloraya melahirkan aksi peledakan jembatan dan pemasangan ranjau di sejumlah lokasi, yang terkadang memakan korban dari bangsa sendiri.

+ PLUS Beberapa Pasal RKUHP Mengancam Iklim Usaha dan Investasi

Rancangan Kitab Undang-undang Hukum Pidana (RKUHP) yang kini belum selesai dibahas DPR bersama pemerintah mengandung pasal-pasal yang mencampuri urusan sektor privat dunia usaha.

+ PLUS Mengenang Bung Hatta, Orde Baru Membunuh Kemandirian Koperasi

Peringatan 120 tahun Mohammad Hatta alias Bung Hatta pada 12 Agustus 2022 mengingatkan pelajaran penting tentang pengelolaan koperasi pada masa rezim Orde Baru.

+ PLUS 3 Prinsip Dasar Sri Prakash Lohia Jadi Orang Terkaya ke-4 di Indonesia

Dalam menjalankan bisnisnya, Sri Prakash Lohia memegang tiga prinsip dasar yang membawanya meraih kesuksesan hingga menjadi orang kaya keempat di Indonesia.

+ PLUS Vorstenlanden Surakarta, Saksi Ramalan Jagabaya Jawa Berkalung Besi

Vorstenlanden Surakarta menjadi saksi ramalan sosok Raja Kediri, Jagabaya mengenai istilah Jawa Berkalung Besi, yang dalam hal ini dimaksudkan sebagai jalur rel dan kereta api.

+ PLUS Kebebasan Berserikat bagi Petani Belum Optimal

Para petani muda yang terhimpun dalam Serikat Petani Indonesia menuntut pemerintah menghentikan diskriminasi terhadap organisasi kemasyarakat petani di luar kelompok tani dan gabungan kelompok tani.

+ PLUS Olimpiade Informatika Sekaligus Belajar Seni dan Budaya Indonesia

Penyelenggaraan International Olympiad in Informatics (IOI) 2022 di Kota Jogja, Provinsi Daerah Instimewa Yogyakarta, 7-15 Agustus 2022, menjadi arena pengenalan aneka ragam kesenian Indonesia kepada dunia.

+ PLUS Komunikasi dan Sinergi Kunci Menghadapi Ancaman Krisis Pangan

Sinergi yang kuat dan komunikasi efektif menjadi unsur penting dalam upaya mempercepat diseminasi informasi melalui kanal milik instansi pemerintah untuk menghadapi ancaman krisis pangan.

+ PLUS “Tamasya” ke Rengasdengklok Memurnikan Kemerdekaan Indonesia

Rengasdengklok menjadi simpul penting proklamasi kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945 yang murni. Tanpa campur tangan atau fasilitas dari Jepang.

+ PLUS Indonesia Butuh Cetak Biru Pedagogi Digital

Indonesia membutuhkan cetak biru pedagogi digital. Kebutuhan ini urgen berdasarkan pengalaman penyelenggaraan pendidikan pada masa pandemi Covid-19. Pandemi kini telah masuk tahun ketiga.

+ PLUS Karsa Autentik Bung Hatta untuk Bangsa: Demokrasi dan Intelektualisme

Mohammad Hatta alias Bung Hatta (12 Agustus 1902—14 Maret 1980) adalah politikus autentik. Kini sangat sulit menemukan sosok politikus seautentik Bung Hatta. Tanggal 12 Agustus 2022 tepat 120 tahun Bung Hatta.

+ PLUS Kolaborasi Olahraga dan Partipasi Masyarakat Berdayakan Warisan Budaya

Kawasan situs manusia purba Sangiran di wilayah Kabupaten Sragen dan Kabupaten Karanganyar, Provinsi Jawa Tengah, kaya potensi seni, budaya, dan kriya.

+ PLUS Langit dari Bumi di Observatorium Bosscha dan Ancaman Polusi Cahaya

Observatorium Bosscha yang berlokasi di Lembang, Jawa Barat adalah observatorium astronomi modern pertama di Asia Tenggara, yang berkatnya pengamatan langit dari bumi dapat mendukung pengembangan astrofisika dalam topik bintang, namun kini terancam polusi cahaya.

+ PLUS Inovasi Baterai Jadi Tantangan Utama Pengembangan Kendaraan Listrik

Komponen baterai menjadi kendala utama dalam pengembangan industri kendaraan bermotor listrik. Ini jadi tantangan bagi periset.

+ PLUS Mengingat Amanat Membangun Ekosistem dan Kota Musik

Hingga kini masih jamak anggapan industri musik Indonesia terpusat di Jakarta. Musikus menganggap harus ke Jakarta untuk sukses, padahal banyak kota lain yang punya potensi besar, tapi ekosistem musik lokalnya belum memadai.

+ PLUS Tradisi Unik Slametan Gongso Ageng di Kampung Gamelan Wirun Sukoharjo

Para perajin gamelan di kampung gamelan Desa Wirun, Kecamatan Mojolaban, Sukoharjo menggelar tradisi unik Slametan Gongso Ageng sebelum memulai membuat gamelan.

+ PLUS Momentum Mempercepat Reformasi Polri

Kasus pembunuhan Brigadir Polisi Nofriansyah Yosua Hutabarat yang diduga kuat melibatkan Inspektur Jenderal Polisi Ferdy Sambo harus dijadikan momentum mempercepat reformasi Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri).

+ PLUS Naga Baruklinting, Seni Rupa, dan Pelestarian Lingkungan

Seni dan budaya—lebih khusus lagi pameran seni rupa—bisa diberdayakan untuk menggugah kembali kesadaran menjaga lingkungan demi kesinambungan kehidupan.

+ PLUS 13 Proyek Strategis Nasional Baru dan Ancaman Kerusakan Lingkungan

Pemerintah merilis 13 proyek strategis nasional (PSN) baru. Praktik realisasi PSN sering mengabaikan aspek lingkungan hidup dan kepentingan warga terdampak atas ruang hidup yang nyaman.

+ PLUS Pada Zaman Pendudukan Jepang Mayat Bisa Ditukarkan Uang

Masa pendudukan Jepang adalah masa gelap dalam kehidupan bangsa Indonesia. Masa penuh gejolak selama kurang lebih 3,5 tahun itu sekaligus mematangkan kondisi yang mendorong revolusi kemerdekaan.