Hujan Es Guyur Sleman Kemarin, BMKG: Masih Mungkin Terjadi Hingga April
Pohon tumbang di Kopen Lumbungrejo, Tempel, Selasa (2/3) (Istimewa/dok. BPBD Sleman)

Solopos.com, SLEMAN — Fenomena hujan es kembali terjadi di wilayah Sleman, Selasa (2/3/2021). Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi fenomena serupa masih akan terjadi hingga April mendatang.

Masyarakat Bangunkerto, Kapanewon Turi, Sleman kemarin dikejutkan dengan fenomena hujan es yang terjadi sekitar pukul 15.00 WIB. Hujan es sebesar kelereng tersebut hanya terjadi sesaat. “Terjadi sekitar 5-10 menit saja. Tidak ada dampak yang ditimbulkan,” kata Kabid Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman, Makwan, Selasa.

Sebelum hujan es terjadi, sebagian kawasan barat daya lereng Merapi dilanda angin kencang. Dilaporkan sejumlah pepohonan tumbang seperti terjadi di Dusun Bangunsari, Kalurahan Bangunkerto, Turi. Beberapa pohon juga dilaporkan tumbang di Kopen Lumbungrejo, Tempel.

Baca juga: Seberapa Besar Peluang Ganjar di Pilpres? Ini Hitung-Hitungan Refly Harun!

“Ada pohon yang tumbang menutup jalan dan menimpa jaringan listrik. Atap rumah terbang terbawa angin Lumbungrejo. Masih dilakukan pendataan,” kata Makwan.

Selain di wilayah Tempel dan Turi, pohon tumbang juga dilaporkan terjadi di Dusun Jurangjero, Harjobinangun, Pakem. “Pohon yang tumbang sempat menimpa warga, sudah terkondisikan,” katanya.

Sebelum ini, fenomena hujan es juga melanda wilayah Argomulyo, Cangkringan, Sleman,  pada Sabtu (27/2/2021) sore. Selain di Argomulyo, fenomena hujan es juga dirasakan warga Bimomartani, Ngemplak. Waktunya juga bersamaan dan terjadi pada sore hari. Sebelum fenomena hujan es terjadi, kedua wilayah tersebut dilanda hujan lebat disertai angin kencang. Selang beberapa menit hujan lebat berubah menjadi butiran-butiran es sebesar kelereng.

Baca juga: Perpres Miras Jokowi Dieliminasi, Begini Industri Miras Sebenarnya…

Freezing Level

Kepala BMKG Stasiun Klimatologi DIY, Reni Kraningtyas, mengatakan hujan es merupakan fenomena alam biasa yang terjadi bersamaan dengan hujan lebat. “Saat udara hangat, lembab dan labil terjadi di permukaan bumi maka pengaruh pemanasan bumi yang intensif akibat radiasi matahari akan mengangkat massa udara tersebut ke atas/atmosfer dan mengalami pendinginan,” jelas Reni.

Menurut Reni, setelah terjadi kondensasi akan terbentuk titik-titik air yang terlihat sebagai awan Cumulonimbus (Cb). Karena kuatnya energi dorongan ke atas saat terjadi proses konveksi maka puncak awan sangat tinggi hingga sampai freezing level. “Freezing level ini terbentuk kristal-kristal es dengan ukuran yang cukup besar,” katanya.

Saat awan sudah masak dan tidak mampu menahan berat uap air, terjadi hujan lebat disertai es. “Es yang turun ini bergesekan dengan udara sehingga mencair dan ketika sampai permukaan tanah ukurannya lebih kecil,” papar Reni.

Baca juga: Gubernur Ingin Lepas Saham Bir, Ketua DPRD DKI Jakarta Tanyakan Alasan

Ke depan, lanjutnya, potensi hujan es masih akan terjadi hingga berakhirnya masa pancaroba sekitar April mendatang. Dia menghimbau masyarakat agar waspada terhadap potensi cuaca ekstrem seperti hujan lebat/es disertai petir dan angin kencang/puting beliung. “Selalu memperhatikan perubahan cuaca dan update informasi cuaca dari BMKG DIY Stasiun Klimatologi Sleman,” katanya.

Sumber: harianjogja.com



Berita Terkini Lainnya








Kolom