Logo Microsoft terlihat dengan latar awan di Los Angeles, Amerika Serikat pada 14 Juni 2016/REUTERS-Lucy Nicholson

Solopos.com, JAKARTA - Perusahaan teknologi besar yang berbasis di Amerika Serikat berencana memindahkan kegiatan produksi mereka dari China secara besar-besaran.

Dilansir melalui Reuters, kebijakan ini didorong oleh perang dagang yang pahit antara Washington dan Beijing.

Menurut Nikkei, Produsen komputer personal (PC) seperti HP Inc (HPQ.N) dan Dell Technologies (DELL.N) berencana untuk merealokasi hingga 30 persen dari produksi notebook mereka di luar China.

Adapun, Microsoft Corp (MSFT.O), Alphabet Inc (GOOGL.O), Amazon.com Inc (AMZN.O), Sony Corp (6758.T) dan Nintendo Co Ltd (7974.T) juga sedang mempertimbangkan untuk memindahkan beberapa dari produksi konsol game dan speaker pintar mereka keluar dari China.

Pekan lalu, Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping sepakat membuka kembali diskusi perdaganan dan memulai babak baru gencatan senjata pada KTT G20 di Jepang.

Kesepakatan ini diharapkan dapat membuka jalan untuk memulai kembali pembicaraan perdagangan setelah berbulan-bulan menemui jalan buntu.

Pada bulan Juni, Apple Inc (AAPL.O) meminta pemasok utama untuk menilai implikasi biaya dari pemindahan 15 persen-30 persen kapasitas produksi mereka dari China ke Asia Tenggara saat mereka bersiap untuk merestrukturisasi rantai pasokannya.

Langkah itu akan menjadi pukulan bagi ekspor elektronik China, yang telah mendukung pertumbuhan selama beberapa dekade di negara itu. China adalah produsen PC dan smartphone terbesar di dunia.

Menurut penyedia data China QianZhan, total impor dan ekspor China di segmen elektronik melonjak 136 kali menjadi US$1,35 triliun pada 2017 dari lebih dari US$10 miliar pada tahun 1991.

Namun, banyak perusahaan teknologi telah terpukul oleh konflik perdagangan, yang telah melihat dampak dari tarif impor China senilai US$250 miliar, sementara ancaman kenaikan selanjutnya tetap ada.

Darson Chiu, seorang ekonom yang berspesialisasi dalam perdagangan di Taiwan Institute of Economic Research, mengatakan bahwa AS dapat diperkirakan merasakan dampak negatif dari peralihan kegiatan produksi karena harga produk mungkin akan menjadi lebih mahal.

"Kesengsaraan yang sama juga akan dirasakan China karena ekonomi mereka harus bersiap ntuk perlambatan lebih lanjut dan banyak pekerja pabrik perlu mencari pekerjaan di tempat lain," ujar Chiu dikutip dari Reuters, Kamis (4/7/2019).


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten