Kategori: Klaten

Hore.. Stasiun Delanggu Klaten Dibuka Kembali


Solopos.com/Ponco Suseno

Solopos.com, KLATEN – Warga Delanggu menyambut suka cita Stasiun Delanggu yang kembali dibuka untuk masyarakat umum, sejak Rabu (10/2/2021). Mereka berharap memperoleh dampak positif pascadibukanya stasiun tersebut.

Stasiun tersebut kembali dibuka seiring beroperasinya kereta rel listrik (KRL) Jogja-Solo. KRL ini akan berhenti di setiap stasiun dari Jogja-Solo. Itu artinya, KRL Jogja-Solo berhenti di 11 stasiun, yakni Jogja-Lempuyangan-Maguwo-Brambanan-Srowot-Klaten-Ceper-Delanggu-Gawok-Purwosari-Solo Balapan.

Baca juga: 5 Fakta 2 Putri Dikunci di Keraton Solo: Makan Dedaunan hingga Disebut Playing Victim Sampai

Jauh sebelum KRL Jogja-Solo beroperasi, PT KAI menutup sejumlah stasiun berskala kecil di sepanjang Jogja-Solo. Adapun stasiun kecil di Klaten yang terdampak penutupan antara lain Delangu, Ceper, Srowot, dan Brambanan. Stasiun-stasiun tersebut ditutup kurang lebih sejak tahun 2011.

"Dengan dibukanya Stasiun Delanggu kali ini, saya memprediksi kondisi di sekitar stasiun akan ikut ramai. Ini termasuk di Pasar Ngeseng yang dekat dengan Stasiun Delanggu. Saat ini memang masih ada pandemi Covid-19 dan musim hujan. Sehingga, pembukaan stasiun belum begitu terasa. Tapi, untuk waktu-waktu mendatang, kami yakin kondisi pasar akan semakin ramai," kata Lurah Pasar Ngeseng Gatak, Kecamatan Delanggu, Edi Santoso Aribowo, kepada Solopos.com, Sabtu (13/2/2021).

Baca juga: Beda Dengan Manahan, Kendaraan Nonmotor Boleh Lewat Flyover Purwosari Solo

Pasar Ngeseng

Edi Santoso Aribowo mengatakan banyak orang tua yang telah menjadikan kawasan di dekat Pasar Ngeseng Gatak sebagai wisata gratis. Para orang tua mengajak anak-anaknya menonton kereta api (KA). Tak jarang, warga membeli jajanan di Pasar Ngeseng Gatak.

Setiap harinya, Pasar Ngeseng Gatak digunakan 185 pedagang sayuran, pukul 03.00 WIB-10.00 WIB. Selanjutnya difungsikan sebagai pusat jajanan kuliner bagi belasan pedagang mulai pukul 14.00 WIB-22.00 WIB. Pasar Ngeseng Gatak merupakan salah satu unit usaha dari Badan Usaha Milik Desa (BUM Desa) Gatak Mandiri Sejahtera.

"Saya hanya berharap, perlintasan KA di Delanggu agar diperlebar. Saat KA melintas, arus lalu lintas sangat ramai. Pengendali palang juga lebih sigap dalam membuka dan menutup palang," katanya.

Baca juga: Begal Sadis yang Tendang dan Seret Korban Wanita di Klaten Dibekuk Polisi

Warga Senang

Hal senada dijelaskan warga Gatak lainnya, Listi, 36. Dibukanya Stasiun Delanggu untuk masyarakat umum menjadikan warga sekitar berminat kembali membuka usaha di sebelah barat stasiun.

"Seingat saya, Stasiun Delanggu ditutup setelah tahun 2010. Sejak saat itu, kondisi di sekitar stasiun sepi. Dulu, kios di barat stasiun itu banyak warung soto. Dengan dibukanya stasiun saat ini, saya mendengar warga di sini ingin membuka jasa parkir. Selaku warga, saya berharap semoga dibukanya stasiun ini dapat memberikan harapan yang lebih baik bagi warga sekitar," katanya.

Baca juga:Ingat Ya... Anak Balita Belum Boleh Naik KRL Jogja-Solo

Pelaksana Tugas (PLt) Camat Delanggu, Jaka Suparja, mengaku pernah berkoordinasi dengan PT KAI terkait dibukanya kembali Stasiun Delanggu, sekitar satu bulan silam. Beroperasinya KRL Jogja-Solo tentu akan memberikan sejumlah dampak ke warga sekitar.

"Kami sudah membahas berbagai kemungkinan yang akan terjadi setelah KRL Jogja-Solo beroperasi. Ke depan, akan kami koordinasikan lagi lebih lanjut. Poin utamanya mencakup potensi kemacetan, kesemrawutan lalu lintas, dan soal keselamatan diri (perilaku melintas di perlintasan KA)," katanya.

Share
Dipublikasikan oleh
Chelin Indra Sushmita