Ilustrasi Waduk Kedung Ombo. (Solopos-dok)

Solopos.com, SRAGEN – Kabar baik bagi warga terdampak kekeringan di sekitar Waduk Kedung Ombo (WKO) tepatnya di wilayah Miri dan Sumberlawang, Sragen, Jawa Tengah. Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) memberi lampu hijau terkait pembangunan instalasi pengolahan air baku dari waduk seluas 6.576 hektare tersebut.

Bila tidak ada hambatan, pembangunan infrastruktur Sragen berupa instalasi pengolahan air baku dari WKO itu mulai dibangun 2022 mendatang. PDAM Tirtonegoro Sragen sudah mengantongi surat izin pengambilan air (SIPA) dari WKO sebanyak 150 liter/detik sejak 2018 lalu.

Kendati begitu, belum adanya dukungan anggaran membuat PDAM Tirtonegoro urung mengelola air waduk yang diresmikan mendiang Presiden Soeharto pada 1991 itu.

“Mudah-mudahan pada 2020 sudah bisa dimulai pembangunan infrastrukturnya. Yang membangun nanti pemerintah pusat melalui Dirjen SDA, Kementerian PUPR. PDAM Sragen tugasnya hanya mengelola,” terang Direktur Utama PDAM Tirtonegoro Sragen, Supardi, kepada Solopos.com, Jumat (13/12/2019).

Pada 2019 ini, proses penyusunan detailed engineering design (DED) untuk pembangunan instalasi pengolahan air di jalur utama sudah memasuki tahap akhir. Rencananya pada 2020, DED untuk pembangunan instalasi pengolahan air di jalur distribusi ke rumah-rumah warga baru disusun.

Supardi belum mengetahui kebutuhan total anggaran untuk merealisasikan pembangunan infrastruktur pengolahan air itu. Nantinya, air dari WKO yang sudah diolah hingga layak konsumsi diharapkan bisa melayani sekitar 12.000 rumah di Kecamatan Sumberlawang, Miri, Gemolong dan sebagian Tanon.

Guna mendukung proyek tersebut, Dukuh Boyolayar, Desa Ngargosari, Sumberlawang, dibidik sebagai tempat pembangunan infrastruktur pengolahan air dari WKO.

“Untuk memanfaatkan air baku di WKO itu kita memang tidak bisa sendiri. Butuh dukungan pemerintah pusat karena biaya yang dibutuhkan tentu sangat besar. Kita sudah menyambung pembicaraan dengan Kementerian PUPR dan mereka menyambut baik. Semoga ini menjadi wadah kami dalam mengentaskan masalah kekeringan di desa-desa di sekitar WKO secara step by step,” jelas Bupati Sragen, Kusdinar Untung Yuni Sukowati.

Sebagai informasi, air di WKO mampu mengairi lahan pertanian seluas 60.000 hektare yang tersebar di Sragen, Boyolali, Grobogan, Demak, Pati hingga Kudus. Waduk yang dibangun dengan menenggelamkan 37 desa di tujuh kecamatan di tiga kabupaten yakni Sragen, Boyolali dan Grobogan ini lebih banyak dimanfaatkan untuk sektor pertanian dan budi daya ikan.

Saat musim kemarau, sumur-sumur warga di sekitar waduk mengering. Namun, warga hanya bisa memanfaatkan air waduk untuk mandi dan mencuci. Warga tidak berani mengonsumsi air waduk karena berwarna keruh.

“Untuk keperluan konsumsi selama musim kemarau kami mengandalkan bantuan air bersih dari banyak pihak. Kalau bantuan tidak datang ya kami membeli air. Satu galon air dibeli seharga Rp5.000. Dalam sehari, rata-rata kami bisa menghabiskan dua galon air. Air itu hanya dipakai untuk kebutuhan memasak alias dikonsumsi,” jelas Didik Suryadi, warga Dukuh/Desa Gilirejo, Miri, Sragen.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten