Hoaks Dan Ketidakpercayaan Masyarakat Soal Covid-19 Bikin Kerja Nakes di Solo Kian Berat
Ilustrasi tenaga kesehatan yang menangani Covid-19. (Reuters)

Solopos.com, SOLO -- Berita bohong atau hoaks tentang Covid-19 yang ditelan mentah-mentah oleh masyarakat membuat kerja para tenaga kesehatan atau nakes termasuk di Solo kian berat.

Hal itu ditambah pula dengan ketidakpercayaan sebagian masyarakat mengenai berita maupun data kasus Covid-19. Informasi yang menyebar lewat media sosial dan aplikasi perpesanan menyulitkan upaya sosialisasi di masyarakat.

Para nakes dituding memanipulasi data untuk meraup keuntungan pribadi semata. Langkah penelusuran jejak kontak pasien positif Covid-19 kian tak mudah.

Kepala Puskesmas Purwosari, Nur Hastuti, mengatakan notifikasi dari Dinas Kesehatan Kota (DKK) Solo menjadi bekal bagi para nakes untuk bergerak melakukan tracing kasus Covid-19.

Pejabat Pemkot Solo Dikritik Karena Jadi Kontak Pasien Covid-19 Tapi Tidak Karantina Mandiri

Nomor telepon yang tertera pada data menjadi pintu pertama wawancara. Selanjutnya, mengumpulkan informasi ke alamat yang ada.

“Kami mendatangi kontak erat yang satu rumah atau kontak pekerjaan atau kontak sosial. Setelah itu kontak ini didata untuk dilakukan swab. Kami juga harus mengetahui kondisi pasien konfirmasi apakah dia sakit atau tidak, untuk menentukan apakah perlu isolasi mandiri atau tidak. Selain itu, mengecek kondisi kelayakan rumah untuk isolasi mandiri. Jika tidak memenuhi, pasien akan dirawat di rumah sakit,” kata dia, Kamis (6/8/2020).

Pengusiran dan Bentakan

Di tengah usaha menghimpun data tersebut, tak jarang para nakes yang melakukan tracing kasus Covid-19 di Purwosari, Solo, mendapat penolakan. Pengusiran, bentakan, hingga ucapan tak mengenakkan harus mereka telan dengan besar hati.

Hai Sobat Ambyar Solo! Ada Forum Diskusi Rutin dan Apresiasi Karya Lord Didi Loh, Mau Gabung?

Cibiran bahwa Covid-19 sekadar konspirasi, manipulasi data, dan hanya bertujuan mengeruk insentif jadi makanan sehari-hari. Mereka juga tak segan mengacuhkan upaya wawancara, bahkan menolak diambil spesimennya untuk diuji.

“Kebetulan di Purwosari ada Klaster Tahu Kupat yang rantainya panjang hingga 20-an. Karena ada yang tanpa gejala, mereka enggak merasa sakit dan menolak karantina mandiri. Ada pula yang sudah diambil spesimennya tapi enggak mau di rumah saja, masih beraktivitas. Mereka bilang hanya dicovidkan,” jelas Nur.

Penolakan terhadap para nakes Solo yang melakukan tracing kasus Covid-19 tak berhenti sampai di situ. Seusai menerima hasil uji swab yang dinyatakan terkonfirmasi positif Covid-19, nakes lantas menginfokan.

Namun kontak pasien tersebut malah balik meneror. Menelepon bolak-balik dan meminta bukti autentik bahwa dia sudah tertular virus SARS CoV-2.

Alhamdulillah, Ibu Positif Covid-19 Klaten Yang Dirawat Di RS Bareng Bayinya Sudah Sembuh

“Ada yang bilang terang-terangan enggak mau uji cepat, enggak mau uji swab. Wis ora Covid-covidan. Muk diapusi konspirasi [sudah enggak usah Covid-covidan, hanya dibohongi konspirasi],” kata dia.

Kisah tidak jauh berbeda disampaikan Kasi Keperawatan RSUD Bung Karno Solo, Suharmanto. Sebagai rujukan Covid-19 di Solo, nakes RS tersebut sudah merawat puluhan pasien baik yang bergejala maupun tidak.

Para pasien itu baru boleh pulang setelah hasil uji swabnya negatif dua kali berturut-turut meski kondisi fisiknya sudah sehat.

Pasien Bergerombol

“Di tempat isolasi kami ada kamera CCTV yang bisa untuk komunikasi. Setiap kami cek, pasien selalu bergerombol meski sudah dilarang. Mereka juga membuat tulisan yang diarahkan CCTV, kapan saya pulang, begitu. Padahal swab evaluasinya masih positif,” kisahnya.

Positif Covid-19 Solo Tembus 290 Orang, Lagi-Lagi Pasien Suspek Naik Kelas

Suharmanto bercerita ada pula yang merasa tidak sakit, bahkan menuduh sampel yang diambil sudah tercemar pasien lain sehingga hasilnya jadi positif.

Kepala DKK Solo, Siti Wahyuningsih berharap masyarakat mau memahami pola penularan dan penanganan Covid-19. Siapa pun berpotensi menularkan dan tertular.

“Penularannya dari mana, tidak ada yang tahu. Yang penting adalah memutus mata rantai penularan,” kata dia.

Semua nakes yang menangani kasus Covid-19 di Solo bekerja sesuai prosedur berdasarkan sumpah profesi. “Hasil pengujian sampel dikirimkan ke laboratorium, dan laboratorium juga bekerja dengan baik," kata dia.

Para nakes yang bekerja juga tak lepas dari risiko. Mereka bisa saja tertular Covid-19 saat terjun ke lapangan, ketika penanganan pasien, dan pengambilan spesimen.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya






Kolom